Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 170 - Takdir Tuhan


__ADS_3

Di Jogja.


Papa Reza dan keluarganya telah tiba di rumah pakde Sutopo jam 8 malam tadi. Semua keluarga yang ada di sana pun menyambut kedatangan Reza, Ajeng dan Sean.


Rumah berukuran cukup besar itu penuh dengan suara bahagia, menyambut pengantin baru yang kedua wajahnya nampak berseri.


5 hari ini pakde Sutopo sudah mulai dirawat intensif di rumah, meski perawatannya di rumah tapi semua peralatan lengkap, juga ada dokter yang mendampingi.


Di rawat di rumah adalah keinginan pakde Sutopo sendiri.


Sampai detik ini pakde Sutopo belum bisa bicara, hanya mampu mendengar dengan kedua mata yang menatap sayu.


Ajeng bahkan rasanya ingin menangis saat melihat keadaan pakde Sutopo, tenggorokannya terasa tercekat.


Dia sekuat tenaga menahan diri agar tidak menangis, berusaha tersenyum seperti senyum yang dibuat oleh sang suami.


Saat ini waktu sudah jam 10 malam. Semua orang sudah tertidur, tapi Reza dan Ajeng masih menemani pakde Sutopo di dalam kamar pakde.


Reza menggenggam erat tangan pakdenya, banyak bicara tentang dia yang ingin punya banyak anak dengan Ajeng.


Sesekali nampak terlihat senyum kecil di sudut bibir pakde Sutopo.


"Setelah ku pikir-pikir, apa aku sanggup ya pakde punya anak banyak?" tanya Ajeng pula, seolah ingin mengajak berinteraksi.

__ADS_1


Kata dokternya memang harus sering diajak komunikasi seperti ini.


Malam itu sebenarnya juga pakde Sutopo sudah diminta untuk tidur, tapi pakde menggeleng dan menggenggam erat tangan Reza, memberi isyarat bahwa dia tidak ingin ditinggal.


karena itulah, sekarang Reza dan Ajeng mengajak pakde Sutopo Bicara.


"Sanggup sayang, kan mulainya baca Bismillah." Papa Reza yang menjawab.


Sepasang suami istri itu terus berbincang, sampai akhirnya Reza merasakan genggaman tangan pakde Sutopo mengendur dan terasa begitu dingin.


"Pakde," panggil Reza, namun yang menyahut malah bunyi tanda detak jantung yang berhenti.


Tiiiiiiittttt! panjang sekali dan membuat Reza terpaku.


"Mas, pakde kenapa?" tanya Ajeng, tapi suaranya kalah dengan bunyi deteksi detak jantung tersebut.


Sampai sayup-sayup Ajeng mendengar, papa Reza mengucapkan innalillahiwainnailaihirojiun.


Deg! jantung Ajeng tersentak, mulutnya kelu untuk mengucap hal yang sama. Hanya air matanya yang jatuh tak terbendung.


Ini memang masih pertemuan pertama mereka, namun Ajeng sudah merasa sangat kehilangan. Pakde Sutopo sempat menunjukkan senyum padanya.


Dan tangis Ajeng itulah yang akhirnya memanggil kakek Agung datang, lalu oma Putri, lalu bude Sarni dan akhirnya semua keluarga masuk ke dalam kamar ini.

__ADS_1


Melihat secara langsung jenazah pakde Sutopo.


Malam itu langit mendung sekali, langit seperti ikut bersedih tentang meninggalnya pakde Sutopo.


Malam itu juga, Ryan dan Rilly diminta untuk datang.


Louis pun ikut juga atas perintah pak Reza.


Rilly menangis paling kuat, sampai gadis itu nyaris jatuh pingsan.


Dia merasa sangat bersalah karena tidak datang bersama dengan mas Reza.


Saat pagi menjelang, langit masih nampak mendung, gelap namun tidak hujan.


Di pemakaman, dipenuhi oleh keluarga besar Aditama dan beberapa tentangga terdekat. Membaca doa dan berusaha ikhlas.


"Sudah kek, ayo kita pulang," ucap oma Putri bicara pada suaminya. Diantara semua orang, kakek Agung lah yang paling kehilangan.


Sebanyak apapun harta yang dia punya, seberapa pun usaha yang dia lakukan, nyatanya dia tidak bisa menyelamatkan sang kakak.


Tak ada yang bisa melawan takdir tuhan.


Kakek Agung mengangguk, dia ikhlas, sangat ikhlas, disana kakaknya tidak akan merasa kesakitan lagi.

__ADS_1


"Ayo, kita semua pulang," ajak kakek Agung.


__ADS_2