Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 176 - Kata Mama Ajeng


__ADS_3

Mama Mona juga tahu jika hari ini adalah hari kelulusan Sean, sejak tadi dia merasa cemas antara ingin datang atau tidak.


Wanita cantik itu kulu kilir dengan tidak tenang, di kepalanya berkecamuk banyak pikiran. Dia sungguh ingin datang dan menghadiri hari spesial Sean, tapi juga takut jika kedatangannya malah akan menghancurkan hari bahagia anaknya itu.


"Datang saja Bu, tidak apa-apa, kalau sekiranya tidak bisa mendekat setidaknya Ibu bisa melihat dari jarak jauh," ucap Jill, coba memberikan solusi. Karena jika hanya diam saja di sini justru akan semakin membuat Mona jadi semakin tidak tenang.


Sementara waktu terus berlalu, Jill tidak ingin Mona kehilangan waktu.


Dan mendengar saran dari sang asisten, Mona seperti setuju. tidak apa-apa jika dia tidak bisa bertemu dengan Sean secara langsung, setidaknya dia melihat kebahagiaan anaknya hari ini.


"Baiklah, kalau begitu ayo kita pergi bersama," ajak Mona, dia tidak ingin pergi sendirian. Tidak ingin jadi orang ketiga di tengah-tengah keluarga itu, setidaknya akan ada Jill di samping dia.


Jam 10 pagi akhirnya mama Mona mendatangi seolah Sean.


Pagi itu sekolah nampak begitu ramai, banyak mobil-mobil mewah terparkir di area parkir sekolahan tersebut.


Dari banyaknya mobil itu dia selalu bisa menemukan mobil milik Reza. selalu ada sesak yang sesaat dia rasakan di dalam hati, tapi Mona pun berulang kali menarik dan membuang nafasnya perlahan coba tenang.


Tidak boleh sedih, Reza dan Sean sudah bahagia bersama Ajeng. Harusnya dia pun mencari kebahagiaan sendiri tanpa mengusik ketiga orang itu.

__ADS_1


Ketika Mona turun dari dalam mobilnya Dia langsung bisa mendengar suara anak-anak kecil bernyanyi di aula sekolah tersebut, tempat diadakannya perayaan kelulusan.


Dengan langkah yang terasa cukup tahu, akhirnya Mona pun mendatangi aula.


Dia tidak berani masuk lebih dalam, hanya mampu berdiri di ambang pintu yang letaknya di belakang semua orang. orang-orang duduk menghadap ke arah panggung di depan sana, sementara Mona hanya berdiri disini.


Dari sini dia bisa melihat anaknya bernyanyi dengan riang bersama teman-temannya yang lain, menyanyikan lagu perpisahan.


Tes! air mata mama Mona jatuh.


Ya Allah, batinnya, sesak sekali dadda ini, saat dia melihat anak-anak di atas panggung itu turun lalu berlari memeluk kedua orang tuanya masing-masing.


"Aku baik-baik saja Jill, aku baik-baik saja. Ayo kita pergi sekarang," ucap mama Mona diantara tangisnya yang masih mengalir, bicara dengan susah payah karena tenggorokannya tercekat.


"Baik Bu," jawab Jill patuh.


Mereka memutuskan untuk pergi, sampai akhirnya terdengar suara yang nyaring memanggil Mama Mona ...


"Mamaa!!" pekik Sean, bocah itu berlari menghampiri sang mama kandung.

__ADS_1


Ajeng melihat saat mama Mona datang, kebetulan dia sedang menoleh ke belakang.


Jadi saat Sean turun dan memeluk dia, Ajeng langsung mengatakan bahwa mama Mona datang dalam acara ini.


Awalnya Sean tidak percaya, dan ketika dia lihat malah melihat punggung mamanya yang hendak pergi.


Karena itulah dia langsung berlari dan memeluk memanggil mamanya kuat-kuat.


"Mama!" panggil Sean sekali lagi, ketika dia akhirnya berhasil mengejar sang mama dan berdiri di hadapannya.


Deg! mama Mona seketika tersentak, dia kira panggilan itu bukan untuk dia. Meski suaranya begitu jelas milik Sean, tapi Mona kita panggilan itu untuk mama Ajeng.


Jadi ketika melihat Sean berdiri disini, Mona seketika bersimpuh dan memeluk Sean dengan begitu erat.


"Sean ... sayang," lirih Mona.


Dan ini adalah pelukan hangat yang baru pertama kali Sean dapatkan dari sang ibu kandung.


Sean tersenyum, membalas pelukan itu.

__ADS_1


Benar kata mama Ajeng, mama Mona pasti sangat menyayangi dia.


__ADS_2