
Makan malam yang mencekam akhirnya berakhir untuk Ajeng.
Setelah makanannya habis dia tidak hanya sekali mengucapkan kata Alhamdulillah. Pertama bersyukur tentang makanan yang sudah dia nikmati, dan kedua tentang bersyukur makan malam ini berakhir, ketiga bersyukur karena dia akan terlepas dari tatapan mencurigakan semua orang.
"Ayo Sean, kita langsung ke kamar saja ya, kamu ada tugas menggambar kan?" tanya mbak Ajeng, sekaligus mengajak sang anak asuh untuk segera meninggalkan meja makan tersebut, lebih baik bersembunyi di kamar Sean saja.
Terasa lebih aman dibandingkan di sini.
"Maaf Mbak, tapi aku akan mengerjakan tugas rumahku itu bersama Papa saja. Malam ini mbak Ajeng tidak perlu menemani aku," balas Sean.
Ya, dia dan sang ayah sudah membuat kesepakatan, bahwa malam ini mereka akan tidur bersama di kamar Sean, tapi bukan untuk mengerjakan tugas sekolah melainkan untuk menyusun rencana, bagaimana caranya agar membuat Mbak Ajeng tidak takut lagi pada papa Reza.
Sebelum melangkah terlalu jauh, papa Reza ingin Ajeng merasa nyaman dulu dengan dia.
Tapi bagaimana caranya?
itulah yang akan dibahas oleh papa Reza dan Sean malam ini.
Dan ... bukan hanya ajang yang terkejut mendengar penolakan Sean tersebut.
Kak Rilly dan om Ryan juga sama terkejutnya, sejak kapan anak dan ayah itu jadi begitu dekat. Padahal semua orang sudah tahu dengan jelas bahwa di antara papa Reza dan Sean selama ini selalu dingin, seperti ada dinding pembatas yang tak kasat mata.
Lalu kenapa tiba-tiba dua orang itu bisa berubah dalam sekejap.
Rilly adalah yang paling bingung.
__ADS_1
Sangat mencurigakan, kira-kira Oma tahu tidak ya, kenapa mereka berdua sekarang jadi dekat sekali seperti ini. Batin Rilly.
Sementara Ryan hanya terus memperhatikan lekat, coba mencari jawaban sendiri dari banyaknya keanehan yang terjadi pada malam ini.
"Baiklah kalau begitu, mbak Ajeng ke kamar dulu ya," pamit Ajeng pula.
Sean mengangguk.
Sebelum Ajeng benar-benar pergi, dia lebih dulu mengelus pundak Sean dengan lembut.
Dan saat melirik ke arah papa Reza, pria itu tersenyum ...
Astaghfirullahal azim. Batin Ajeng, takut dan gugup luar biasa.
"A-aku pergi dulu Pa," ucap Ajeng gagap.
Dan Ryan adalah pengamat terbaik di sana.
Seumur-umur dia pun tidak pernah melihat senyum sang kakak yang terukir seperti itu.
Tidak mungkin, tidak mungkin mas Reza dan Ajeng. Ryan tersenyum dan menggeleng pelan, membodohi pemikirannya sendiri.
Aku terlalu banyak menebak, batin pria itu lagi.
Dan di sinilah kini Sean dan papa Reza berada, di atas ranjang Sean dan sama-sama duduk bersandar.
__ADS_1
"Papa perhatikan, mbak Ajeng masih saja merasa takut pada Papa," ucap Reza, memulai pembicaraannya dengan sang anak.
Reza sendiri tidak sadar jika kini dia malah mencurahkan semua isi hatinya pada anak kecil. Tapi Reza benar-benar butuh seseorang yang bisa diajak bicara tentang Ajeng.
Dan Sean lah jawabannya.
"Memang iya, mbak Ajeng itu takut dengan papa. Apa papa pernah memarahi mbak Ajeng dengan sangat parah? tanpa sepengetahuan ku?" tanya Sean beruntun.
Setau dia papa Reza tidak pernah marah-marah yang berlebihan, tapi mana tau saat dibelakang dia, bisa saja papa Reza melakukannya.
Dan mendengar pertanyaan bertubi dari sang anak, Reza seketika teringat saat mereka berada di apartemen Monalisa.
Saat Reza membuang Ajeng sampai jatuh membentur tembok dan memukul keras tepat di samping wajah gadis itu.
"Astaghfirullahal azim, papa pernah melakukannya Sean," jawab Papa Reza jujur.
Sungguh, saat ini dia sangat menyesali kejadian tersebut.
"Kalau begitu, papa harus minta maaf dulu," balas Sean.
"Akan papa lakukan."
"Satu lagi, papa jangan terlalu sering tersenyum pada Mbak Ajeng, tiba-tiba berubah seperti itu terlihat sangat mengerikan."
"Baik," jawab papa Reza patuh.
__ADS_1
"Cobalah untuk lebih natural Pa."
"Baik, akan papa usahakan."