Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 132 - Belum Berakhir


__ADS_3

Reza sepertinya lupa bahwa ini adalah pertama kalinya Ajeng berhubungan baddan seperti ini.


Inti tubuhnya begitu kecil untuk menampung senjatanya yang berukuran cukup besar.


Tapi Reza terus menyerangnya dengan membabi buta, sampai tubuh Ajeng terombang ambing dengan begitu indah dimatanya.


"Mass pelan-pelan ahh."


"Maaf sayang."


Mereka terus berdiskusi disela-sela aktivitas tersebut. Bukan hanya peluh yang bicara, tapi mulut juga.


"Mass ah, aku mau keluar lagi."


"Silahkan sayang, keluar kan semuanya."


Ajeng memekik lagi entah sudah yang keberapa kali, jika di awal-awal Ajeng hanya berani meremat seprai, kini dia sudah bisa mencakar pundak suaminya.


Semua sikap mereka sudah diluar kendali, hanya berdasarkan naluri saja. Ajeng bahkan tidak sadar jika dia terus mendesah sejak tadi.


Entah kemana Ajeng yang polos dan malu-malu, kini dia pun menggeliat tak karuan saat gelombang kenikmatan itu datang.


Entah di menit keberapa, akhirnya rudal itu pun mengeluarkan laharnya. Ini jadi puncak percinttaan pertama mereka.


Hah hah hah! nafas Reza dan Ajeng sama-sama memburu, mereka saling memeluk erat. Sangat erat sampai bisa merasakan detak jantung satu sama lain.


Di bawah sana inti mereka masih menyatu, masih menikmati denyut denyut sampai akhir.

__ADS_1


Ajeng sudah memejamkan matanya, lelah sekali. Seharian ini dia berdiri di pelaminan dan malamnya dia terbaring di bawah kuasa sang suami.


Lemas.


Hanya satu kata itu yang menggambarkan kondisi Ajeng saat ini.


Bercak merah di seprai adalah tanda cinta Ajeng untuk sang suami. Cinta tulus. Apa yang telah dia jaga, diberikannya pada orang yang berhak.


"Istriku," panggil Reza.


Ajeng membuka kedua matanya yang sayu, bibirnya mulai tersenyum malu-malu.


Sudah selesai perangnya, baru bisa merekam yang namanya malu. Padahal tadi dia nyaris seperti orang gila.


"Kenapa suamiku?" balas Ajeng, makin membuat papa Reza ingin melayang.


Biasanya hanya istri saja, atau suami saja yang bucin, tapi ini dua-duanya.


"Aku lepas ya?" tanya Reza, tak ingin melepaskan diri sebelum mendapat izin dari sang istri. Takutnya Ajeng masih menikmati senjatanya ini.


"Iyah Mas, pelan-pelan yah?" balas Ajeng.


Reza mengangguk.


Dengan gerakan perlahan, akhirnya dia pun melepaskan penyatuan mereka. Sampai benar-benar copot dan sama-sama merasakan ada yang hilang.


Emh, lenguh Ajeng. Kembali berdesir inti tubuhnya.

__ADS_1


Reza kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya yang polos, Sementara dia sendiri turun dari atas ranjang itu dan berjalan menuju meja untuk mengambil air minum.


Jalan dalam keadaan polos dengan santainya.


Ajeng yang jadi malu sendiri.


Ya Allah mas Rezaaaa, itu bokkong kok nggak ditutupi dulu. Batin Ajeng. dia menutup kedua matanya menggunakan tangan, lupa kalau tadi dia pun meremas bokong suaminya tersebut.


Dan sekarang seolah-olah baru pertama kali melihatnya.


"Ayo duduk dulu, minum dulu," ucap papa Reza, dia sudah duduk di tepi ranjang.


Ajeng menurut, karena dia pun sangat haus.


"Mas Reza nggak ada niat pakai celana dulu gitu, itunya kelihatan," cicit Ajeng, bicara pelan. Bukan hanya karena malu, tapi tenaganya pun memang benar-benar habis.


Dan Reza tidak menjawabi pertanyaan istrinya itu dengan kata-kata, dia malah tersenyum miring.


Untuk apa memakai celana karena permainan Mereka pun belum berakhir, pikir pria itu.


Tapi Ajeng belum sadar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dokter Alam juga ada ceritanya sendiri ya, Monggo mampir


Judul : Doctor Alamsyah's Secret Wife

__ADS_1


by: Lunoxs



__ADS_2