
"Kenapa mbak?" tanya Sean setelah panggilan telepon diantara mbak Ajeng-nya dan papa Reza putus.
"Papa marah, karena tadi pagi kita tidak pamit," balas Ajeng, bicara dengan raut wajah cemberut, namun mendengar itu Sean malah tersenyum kecil.
Marah justru tanggapan yang dia inginkan dari sang ayah. Daripada hanya diam-diam saja.
"Kenapa kamu malah senyum-senyum? seneng ya kalau mbak Ajeng dimarah papa?" tanya Ajeng, menatap kesal pada sang anak asuh.
Sean lalu menarik mbak Ajeng hingga mereka sama-sama duduk di meja makan.
"Mbak Ajeng sepertinya sudah salah menilai papa, dia itu bukan marah, tapi hanya ingin kita pamit sebelum pergi," jelas Sean, coba memberi pengertian.
Sean juga ingin meluruskan sesuatu, dia tidak ingin mbak Ajeng jadi takut dengan papa Reza. Karena bagaimana pun nanti mereka akan menikah.
Hihihi, hanya membayangkannya saja Sean sudah terkikik-kikik di dalam hatinya.
"Papa Reza itu memang seperti pemarah, dingin dan menyebalkan, tapi sebenarnya tidak seperti itu Mbak," jelas Sean lagi.
"Mbak Ajeng jangan salah menilai, ya?" tanya Sean pula.
__ADS_1
Dan Ajeng sangat memahami kenapa Sean sampai seperti itunya membela sang ayah. Pastilah Sean tidak ingin papanya dijelek-jelekkan oleh orang lain, termasuk dia.
Ajeng sangat memahami itu.
Karena itulah dia langsung mengangguk, mengiyakan ucapan Sean tersebut tanpa banyak berdebat.
Meski di dalam hati kecilnya masih tetap saja menilai papa Reza sebagai pria yang menyeramkan, pemarah dan dingin.
Sore hari, Reza dan Ryan pulang bersamaan. Sementara Rilly sudah pulang lebih dulu, sekitar 2 jam yang lalu.
"Mas, aku dan Rilly akan datang ke perayaan ulang tahun sekolahnya Sean, kamu mau datang atau tidak?" tanya Ryan, dia langsung bertanya seperti itu ketika mereka sudah mulai berjalan beriringan masuk ke dalam rumah.
Mendengar pertanyaan tersebut, Reza memperlambat langkah kakinya dan Ryan pun mengikuti. Sampai akhirnya mereka sama-sama berhenti ketika masih sampai di teras, belum sempat masuk.
"Kalau begitu katakan lah pada Sean, dia menunggu-nunggu, bertanya-tanya apa Mas bisa datang atau tidak," balas Ryan pula.
"Hem, aku akan mengatakannya sekarang. Sejak kemarin aku masih bingung karena Sean bercerita pada Ajeng jika dia pun berharap ada mamanya dalam acara tersebut. Tapi dia tidak punya mama, karena Mona seperti itu."
Deg! mendengar penjelasan itu entah kenapa seketika hati Ryan jadi berdenyut.
__ADS_1
Dia langsung teringat akan ucapannya Rilly yang mengatakan bahwa Sean menginginkan Ajeng untuk jadi mamanya yang baru.
Bisa saja dalam perayaan ulang tahun sekolah Sean kali ini, bocah tersebut menginginkan Reza dan Ajeng bersama.
Deg! denyut tidak nyaman di dalam hatinya terasa semakin jelas saja. Ada rasa tidak rela yang mulai Ryan rasakan.
"Memangnya kamu belum ada rencana untuk menikah lagi Mas? ku lihat banyak juga wanita yang menyukai kamu," ucap Ryan, dia berusaha membuat Reza untuk mulai membuka hati, mulai menjalin hubungan baru dengan wanita yang lain.
Dengan begitu Reza tidak akan pernah terpikirkan tentang Ajeng ataupun keinginan Sean, karena pada akhirnya Reza punya pilihannya sendiri.
Dan mendengar saran sang adik itu, Reza malah jadi termenung. Karena kembali bertanya-tanya apa yang ada di dalam hatinya. Kenapa dia langsung membayangkan wajah Ajeng ketika mendengar ucapan Ryan tersebut.
"Laura juga adalah wanita yang baik, bukannya kalian memiliki hubungan yang dekat?" tanya Ryan, terus berusaha membuat sang kakak dekat dengan wanita lain, pokoknya jangan Ajeng.
Reza menggeleng pelan.
"Sudah lah, kita masuk saja," balas Reza, dia pun menarik lengan sang adik untuk segera masuk ke dalam rumah.
"Mulai lah membuka hati Mas, coba rasakan memiliki hubungan dengan hati, bukan karena perjodohan," ucap Ryan lagi.
__ADS_1
"Ya ya ya, nanti aku coba," jawab Reza.
Mendengar jawaban itu, akhirnya Ryan bisa membuang nafasnya lega.