Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 48 - Terpuruk


__ADS_3

Reza menggeleng pelan pada sang anak.


"Tidak Sen, papa tidak kenapa-kenapa," balas papa Reza, tanpa sadar dia memanggil Sean dengan sebutan Sen, sama seperti apa yang selama ini diucapkan oleh Ajeng.


Reza yang menyadari itu tercengang sesaat.


Sementara Sean tertawa di dalam hatinya. Ini membuktikan bahwa virus mbak Ajeng mulai menyebar, keberadaan mbak Ajeng di rumah ini sudah dianggap oleh sang papa.


"Kenapa Papa jadi panggil aku Sen, seperti mbak Ajeng saja," balas Sean.


"Maaf Sean, papa akan tegur mbak Ajeng tentang hal ini. Mana boleh dia mengganti-ganti nama mu," balas Reza.


Sean diam, tidak menjawab dengan kata-kata, tapi dia menganggukkan kepalanya tanda setuju. Malah senang jika banyak hal yang bisa jadi bahan pembicaraan di antara papa Reza dan mbak Ajeng.


Dan saat kedua orang itu masih berbincang seperti itu tiba-tiba pintu kamar pun terbuka, Ajeng masuk untuk menjemput Sean.


Awalnya langkah Ajeng sangat semangat, namun seketika terhenti ketika dia menyadari sudah ada papa Reza di sini.


Apalagi saat tanpa sengaja tatapannya bertemu dengan pria berwajah dingin itu.

__ADS_1


Deg! Ajeng bergidik ngeri. belum apa-apa dia sudah merasa ada firasat buruk.


"Mbak Ajeng, sini dulu," panggil Sean.


Ajeng jadinya mendekat, padahal niatnya hanya panggil saja lalu pergi. Di sini Ajeng tidak merasa aman.


"Kenapa Sen?" tanya Ajeng, harusnya kan mereka langsung saja turun ke lantai 1 dan segera makan malam.


"Ada yang ingin Papa katakan pada Mbak Ajeng, jadi kesini lah dulu. Aku akan turun sendirian ke bawah," jelas bocah berusia 6 tahun itu.


Reza dan Ajeng sama-sama terkejut.


"Eh eh Sen!" pekik Ajeng, tapi kedua kakinya seperti dirantai, dia tidak bisa berlari dan pergi dari sini, apalagi Sean jelas-jelas mengatakan bahwa ada sesuatu yang ingin Papa Reza katakan padanya.


dengan ketakutan yang semakin menguasai diri, akhirnya Ajeng menghadap ke arah papa Reza.


"Ada apa ya Pa? apa Aku melakukan sebuah kesalahan? apa Papa berubah pikiran? sekarang ingin aku mengembalikan uang 50 ribu itu?" tanya Ajeng bertubi, bicara dengan kepalanya yang menunduk dan kedua matanya malah menatap lantai.


Dan dari banyaknya pertanyaan itu tidak ada satupun yang benar.

__ADS_1


"Bukan, ada hal lain yang ingin aku katakan padamu," balas papa Reza, bicara dengan suaranya yang khas, terdengar sangat dingin dan penuh intimidasi.


Ajeng sungguh tidak punya kekuatan untuk melawan pria ini. Lagi pula bukan hanya Ajeng, seluruh pelayan yang bekerja di rumah ini pun paling takut dengan Papa Reza.


Seseorang yang paling jarang berinteraksi dengan seluruh penghuni di rumah ini.


Tapi entah kenapa Ajeng selalu merasa bahwa dia memiliki banyak urusan dengan pria tersebut.


Seperti sedang mendapatkan kesialan secara bertubi-tubi.


"Apa?" cicit Ajeng, dia masih saja menunduk, belum berani mengangkat wajah. Jantungnya masih berdegup, takut tanpa sengaja melakukan sebuah kesalahan dan akhirnya membuat papa Reza marah.


"Mulai sekarang jangan pernah panggil Sean dengan sebutan Sen. Paham?"


Deg! jantung Ajeng benar-benar terasa berdenyut nyeri saat itu. ternyata benar, jika dia telah salah.


"Arti nama Sean adalah seseorang yang diberkahi oleh Tuhan. Jadi jangan pernah mengganti-ganti nama itu dan jadi merubah maknanya."


Ajeng makin menunduk, rasanya bahkan ingin menangis. Lidahnya terasa kelu untuk memanggil Sean, tapi Ajeng akui dia memang salah.

__ADS_1


"Maafkan aku Pa," lirih Ajeng, dia benar-benar merasa terpuruk.


__ADS_2