Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 102 - Seperti Melayang


__ADS_3

Beberapa saat lalu bi Asmi datang ke kamar ini untuk memanggil Ajeng agar turun. Tapi gadis itu begitu ragu untuk keluar dari dalam kamar.


Pasalnya hari ini, sehabis pulang dari mengantar Sean sekolah tadi, Oma Putri memintanya untuk melihat semua baju baru yang sudah di belikan oleh Oma.


Dan Oma Putri pun memerintahkan Ajeng untuk mulai kini menggunakan semua baju itu, Ajeng tentu tidak bisa menolak.


Saat dia lihat pun semua baju-baju itu cantik sekali, Ajeng suka.


Tapi sekarang dia malah malu mau keluar, malu bertemu dengan papa Reza, malu menunjukkan bahwa sekarang dia mulai menggunakan baju-baju cantik ini.


"Ya Allah ini gimana to, aku malu," rutuk gadis tersebut, dia membuka pintu perlahan dan hanya melongokan kepalanya, mengamati keadaan.


"Ajeng, apa yang kamu lakukan?"


Deg!


Ajeng sontak keluar dengan jantungnya yang berdegup tak karuan, Oma Putri kini berdiri tepat di hadapannya. Oma Putri baru saja dari kamarnya Ryan.


"Anu Oma, aku, ti-tidak ada apa-apa," balas Ajeng gagap, ketahuan mengendap-endap seperti itu sudah membuatnya malu dan takut, kini kedua pipinya bahkan nampak lebih merah.


Oma Putri mengulum senyum, sangat tau jika Ajeng pasti malu untuk keluar kamar saat menggunakan gaun cantik yang saat ini Ajeng pakai.

__ADS_1


"Kamu cantik sekali pakai baju ini, ayo turun," ajak Oma Putri pula, dia bahkan langsung menarik lengan Ajeng dan dipeluknya. Ajeng dan Oma Putri masih tinggi Oma Putri, jadi saat posisi seperti itu Ajeng terlihat persis seperti salah satu anaknya.


"Hari ini kamu dan Reza harus pilih cincin pertunangan, besok kan kita semua sudah pergi, pulangnya nanti bisa langsung jemput Sean," ucap Oma Putri.


Ajeng menelan ludah lalu mengangguk-anggukan kepalanya patuh, deg-degan tiap menuruni anak tangga, dan jantungnya seperti berhenti saat ternyata papa Reza menunggu di bawah sana.


Berdiri menatap lurus ke arahnya.


Ya Allah. Lirih Ajeng di dalam hati, antara berbunga-bunga dan juga malu.


Sementara di bawah sana Reza makin tersenyum lebar saat melihat Ajeng datang.


Gaun merah muda yang dipakai gadis itu makin membuat Ajeng terlihat berseri, seperti seorang peri.


Sampai Reza tidak berkedip, tidak ingin kehilangan waktu untuk memandang.


"Rez! sana pergi," ucap Oma Putri dengan suara tinggi, Reza malah keasikan menatap wajah Ajeng yang cantik.


"Iya Oma," jawab Reza.


"Hati-hati, setelah jemput Sean cepat pulang," titah Oma Putri pula, sungguh dia sangat khawatir, takut Reza tidak bisa menahan diri dan melakukan lebih sebelum mereka menikah.

__ADS_1


Ciuman saja terasa begitu mengerikan bagi Oma Putri, karena lawannya adalah Ajeng, gadis yang begitu polos.


Bisa-bisa Ajeng mengira jika ciuman saja membuatnya hamil, pikir Oma.


Duda satu anak itu sungguh membuatnya tidak tenang.


"Iya Oma," balas Reza lagi.


"Ya sudah sana."


"Oma, kami pamit," ucap Ajeng.


"Iya sayang, hati-hati ya." sebuah elusan lembut Oma Putri berikan untuk calon menantunya tersebut.


Saat keluar dari rumah itu Ajeng dan Reza berjalan dengan jarak aman, bahkan ada sela yang masih cukup diisi oleh dua orang.


Tapi ketika sudah berada di luar, tiba-tiba papa Reza mengikis jarak hingga tubuh mereka saling menempel.


Deg! tubuh Ajeng berdesir, tapi tak kuasa untuk minggir.


"Cantik," bisik papa Reza hingga membuat Ajeng rasanya sudah seperti melayang.

__ADS_1


Ahkkk!! pekik Ajeng di dalam hatinya. wajahnya sudah tersipu malu, berulang kali mengigit bibir bawahnya sendiri.


__ADS_2