Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 153 - Hilang Semua Pikiran Buruknya


__ADS_3

"Sayang, kamu kenapa?" tanya papa Reza pada sang istri. Dilihat olehnya mama Ajeng yang nampak murung, wajahnya ditekuk seolah sedang merasakan masalah yang cukup berat.


Saat ini waktu sudah menunjukkan jam 9 malam. Sean sudah tidur dan Ajeng terus menatap lekat anaknya itu.


Sementara papa Reza baru saja kembali dari ruang kerjanya, karena itulah dia menatap heran ketika melihat istrinya yang nampak banyak beban.


Apalagi disaat sedang menatap anak mereka.


"Apa Sean membuat ulah di sekolah?" tanya papa Reza lagi, dia naik ke atas ranjang dan duduk bersandar di samping sang istri.


Ajeng juga bangun dari tidurnya dan ikut duduk bersama suaminya tersebut.


"Bukan, Sean tidak membuat ulah. Dia anak yang baik," jawab Ajeng dengan tenggorokannya yang mulai terasa tercekat.


Sedih sekali.


Pikirannya seperti tidak bisa dikendalikan, berulang kali dia mengatakan pada dirinya sendiri untuk ikhlas, karena bagaimanapun mama Mona adalah ibu kandungnya Sean, dan mereka berdua berhak bertemu.


Tapi nyatanya bukan ihklas yang Ajeng rasa, dia malah semakin takut jika nanti Sean akan meninggalkan dia.


Ajeng mulai berpikir bahwa mama Mona telah berubah dan siap menjadi ibu yang baik untuk Sean. Awalnya Sean, lalu bagaimana dengan papa Reza?


Apakah hati pria itu akan bergerak untuk lebih dekat dengan ibu kandungnya Sean.


Ya Allah, pikiran Ajeng seketika begitu rumit, sampai seperti menjerat hatinya yang lemah.

__ADS_1


Hatinya yang seperti kapas, sedikit saja ada kesedihan dia akan langsung tak berdaya, ingin menangis.


Ya, Ajeng memang cengeng.


Kini kedua matanya bahkan sudah nampak berkaca-kaca, dia tidak berani membalas tatapan sang suami.


"Ma," panggil papa Reza, suaranya lembut sekali. Dia ingin mama Ajeng menatap ke arahnya. karena istrinya itu malah terlihat menunduk.


"Ma, ada apa sih? bilang dong, kalau kamu diam seperti ini, aku jadi bingung. Apa aku membuat salah?" tanya Rez bertubi, mulai cemas. Jadi dia terpaksa menggunakan sedikit paksaan untuk bisa melihat wajah istrinya tersebut, papa Reza menangkup wajah mama Ajeng dan diarahkan padanya.


"Loh, kamu kok mau nangis? ada apa sayaaang." Reza langsung memeluk istrinya erat, menyembunyikan wajah mama Ajeng di dalam dekapannya.


Tapi tangis Ajeng malah makin jadi, tangis yang tertahan karena takut menganggu Sean.


Sampai entah di menit keberapa akhirnya tangis mama Ajeng reda sendiri. Kini hanya tinggal nafasnya yang terdengar putus-putus.


Papa Reza juga ikut menghapus air mata itu, mencium secara bergilir mata mama Ajeng, kiri dan kanan. Lalu diakhiri sebuah kecupan mesra di atas bibir Istrinya tersebut.


Reza tau ini pasti gara-gara Mona yang selalu diam-diam menemui anak mereka di sekolah. Reza sebenarnya tau, tapi dia memutuskan untuk diam. Ingin mempercayakan sepenuhnya tentang Sean pada Ajeng.


"Mas, aku takut, ba-bagaimana kalau Sean nanti meninggalkan aku? Ba-bagaimana kalau kamu juga meninggalkan aku?" Ajeng menangis lagi.


"Katakan Mas, a-apa kamu berencana untuk kembali bersama mama Mona jika mama Mona bersedia jadi ibu yang baik, mama Mona yang mulai meninggalkan pekerjaannya? apa Mas mau kembali bersama mama Mona?"


"Katakan Mas, kalau iya kembalikan saja aku sama ibu bapak." Ajeng mulai bicara ngawur, menatap papa Reza dengan ketus, dan Reza hanya mampu geleng-geleng kepala melihat sikap itu.

__ADS_1


Dia mengelus puncak kepala Ajeng dengan lembut.


"Sayang, bukannya kamu yang mengizinkan Sean bertemu dengan wanita itu, kenapa sekarang malah aku yang dimarah?" tanya papa Reza.


Ajeng tidak menjawab.


"Kamu punya hak kok melarang Sean ini dan itu, lakukan saja, jangan jadi sedih sendiri," ucap papa Reza lagi.


Ajeng masih tidak menjawab, masih sesenggukan.


"Sudah jangan menangis lagi, apapun yang dilakukan wanita itu tidak akan merubah apa-apa, kamu adalah yang paling kami cintai." putus papa Reza.


Dia bahkan langsung mencium lagi bibir istrinya, menggoda melalui ciuman itu untuk membuat Mama Ajeng lupa dengan semua kesedihannya.


Awalnya mama Ajeng memang tidak terlalu membalas, namun lambat laun dia mulai menggerakkan bibirnya.


Sudah seperti itu papa Reza lalu mengangkat tubuh istrinya untuk turun dari atas ranjang, membawa mama Ajeng pindah ke kamarnya Sean.


Di sana mereka bebas bergerak untuk saling memuaskan.


Dan tiap kali ada penyatuan seperti ini, entah kenapa Ajeng mendadak hilang semua pikiran buruknya, jadi semakin yakin bahwa papa Reza akan jadi miliknya selamanya, papa Reza dan Sean.


Ahk! dessah Ajeng di ujung permainan mereka.


Dan papa Reza memeluknya sangat erat.

__ADS_1


__ADS_2