Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 162 - Bukan Karena Aku


__ADS_3

Tidak hanya berteriak saja, Reza juga langsung malarai perkelahian dua wanita tersebut. Mencekal tangan Mona dengan kuat hingga wanita itu merasa kesakitan dan melepaskan jambakannya pada rambut Ajeng.


Reza juga mendorong tubuh Mona dengan kuat hingga wanita itu jatuh terjerembab.


Brug!


Tapi Reza tidak memperdulikan hal itu, dia langsung memeluk istrinya dengan erat, membelai kepala Ajeng ingin mereda rasa sakit sang istri.


Juga bahkan mencium puncak kepalanya berulang.


Melihat pemandangan itu Mona langsung menangis, bukan hanya sakit fisiknya saja yang saat ini dia rasakan, tapi juga sakit di dalam hatinya. Rasa sakit yang jauh lebih menyiksa.


Dia lupa bawa selama ini Mona adalah satu-satunya manusia yang paling banyak membuat Reza dan Sean sakit hati.


"Mama!!" pekik Sean yang baru saja tiba di ruangan tersebut, sampai di ambang pintu Dia sangat terkejut ketika melihat ada mama Mona disana, lalu melihat mama Ajeng yang menangisi pelukan sang ayah.

__ADS_1


Sean jadi sangat cemas, hanya melihat saja dia sudah bisa memahami situasi, bahwa mama Mona datang ke sini pasti untuk menyakiti mama Ajeng-nya.


Dan panggilan Sean itu, sontak membuat Ajeng dan Mona menatap ke arahnya, dua wanita itu sama-sama berharap bahwa panggilan yang diucapkan oleh Sean itu adalah untuk mereka.


Mona bahkan langsung bangkit dan hendak menyambut sang anak, tidak apa-apa jika Reza mencampakkannya seperti ini, asalkan Sean masih ada bersamanya.


Mona sangat yakin jika anaknya itu akan berlari dan memeluk dia. Apalagi jika mengingat beberapa waktu terakhir mereka selalu bertemu di sekolah dan Sean selalu menyambutnya dengan baik.


Mengingat itu Mona yakin, bahwa Sean akan lebih memilih dia dibandingkan pengasuh tersebut.


Sean lantas berlari untuk menghampiri mamanya, Louis mengikuti di belakangnya.


"Mama! jangan menangis," ucap Sean langsung, jika mama Ajeng-nya menangis seperti ini, maka dia pun akan menangis juga.


Dan melihat Sean yang lebih memilih untuk memeluk dia dibandingkan ibu kandungnya sendiri membuat Ajeng jadi semakin haru, mendengar Sean memintanya untuk tidak menangis, malah membuat Ajeng jadi menangis semakin kuat.

__ADS_1


Ibu dan anak itu jadi menangis bersama-sama.


Sementara Mona hanya mampu menatap nanar atas pemandangan tersebut. Seketika Dia kehilangan semua kata-kata dan hanya mampu terdiam. Merasakan tenggorokannya yang tercekat.


"Usir dia dari sini, pastikan bahwa wanita itu tidak bisa lagi menginjakkan kaki di perusahaan ku," titah papa Reza, jelas perintah itu dia berikan untuk sang asisten, dan wanita yang harus diusir dari sini adalah Monalisa.


Dan mendengar perintah itu, Mona langsung menggelengkan kepalanya. Tidak terima dengan perlakuan yang seperti itu.


"Sean," panggil Mona dengan lirih, lengkap dengan suara Isak tangisnya.


Di panggil seperti itu, Sean langsung melerai pelukannya pada Mama Ajeng. Sean juga menghapus air matanya sendiri, lalu menatap mama Mona dengan begitu dingin.


"Mama pergi saja, tidak perlu lagi menemui aku. Aku tau, selama ini Mama mendekati aku hanya karena tidak rela mama Ajeng jadi mamaku, mama datang buka karena rindu, mama datang bukan karena aku, mama datang hanya untuk kepentingan mama sendiri," balas Sean.


Dan kalimat itu makin membuat hati Mona terasa di remat dengan paksa.

__ADS_1


Maafkan mama Sean, balas Mona, tapi hanya mampu dia ucapkan di dalam hati. Ini adalah permintaan maafnya yang paling tulus, tapi tenggorokannya terasa begitu tercekat untuk berucap.


Dia tidak sanggup.


__ADS_2