
Reza terperangah saat melihat secara langsung anaknya benar-benar bisa membaca sebuah buku.
Awalnya Sean nampak kesulitan, namun lambat laun anak itu membaca dengan sangat lancar.
Ajeng saja sampai detik ini masih tidak percaya.
Dua orang itu tidak tahu, jika ini bagian dari sandiwara sang anak Genius.
Reza lantas menarik kursi di samping sang anak dan duduk di sana. Ini adalah kali pertama Reza duduk bersanding dengan Sean di depan meja belajar ini.
"Pintar," ucap Reza, 1 kata namun sudah cukup bagi Sean. Apalagi saat mengatakan kata itu Reza pun mengelus puncak kepala sang anak dengan lembut.
Ajeng yang melihatnya jadi meleleh sendiri. Sangat manis.
"Katakan, kamu mau minta apa? akan papa turuti," ucap Reza lagi, dia tidak tahu apa yang membuat Sean bahagia. Jadi dia beri saja sebuah penawaran.
Apapun yang diinginkan oleh Sean akan dia kabulkan. Mainan seberapa pun mahalnya akan dia belikan.
"Benar papa akan mengabulkan semua keinginan ku?" tanya Sean.
Papa Reza mengangguk.
"Aku ingin tidur bersama papa dan mbak Ajeng."
Deg! Ajeng yang melotot.
Salah memang! sangat salah menilai Sean sebagai anak yang manis!! karena bocah kecil itu begitu licik!!
__ADS_1
Lama-lama Ajeng jadi paham jika Sean berencana mendekatkan dia dengan papa Reza.
Bocah itu benar-benar akan merealisasikan keinginannya untuk menjadikan Ajeng sebagai Mama.
Ajeng menggeleng.
Makin menggeleng saat Reza menatap ke arahnya.
"Tidak! mbak Ajeng akan tidur di bawah, Sean tidur saja berdua dengan papa Reza!" ucap Ajeng, bicara dengan nada meletup-letup.
Sean memperlihatkan wajah murungnya.
Membuat Ajeng makin mendelik. Dasar licik! picik! batin Ajeng.
Dan wajah Sean yang sedih itu terlihat jelas di mata Reza.
Sean sudah bisa membaca dan keinginannya adalah tidur bersamanya dan mbak Ajeng.
Ini hanya untuk sekali.
Besok-besok saat dia mengajukan sebuah penawaran, Reza akan batasi hanya untuk mainan saja. Bukan yang lain.
"Benar Papa mau?" tanya Sean, matanya berbinar, menuntut kejelasan.
"Iya," balas papa Reza singkat.
Sean langsung melompat riang. Sejak dulu dia selalu ingin merasakan tidur dengan Mama dan papa. Lengkap.
__ADS_1
Hampir jam 9 malam waktu itu, akhirnya Sean berbaring di ranjang, di bagian tengah-tengah. Ajeng tidur di sebelah kanan mengunakan selimut setinggi dadda, sama seperti Sean.
Sementara papa Reza masih duduk, duduk dan bersandar di sandaran ranjang tersebut.
Papa Reza membaca sebuah buku dongeng, sementara Ajeng mengelus lembut perut Sean.
Apa ada yang lebih indah dari ini? tidak ada! bagi Sean malam ini adalah malam paling indah dalam hidupnya.
Kedua matanya mulai sayu, seperti ditiup oleh hembusan angin yang begitu lembut.
Semuanya terasa sangat nyaman hingga akhirnya Sean benar-benar terlelap dalam alam bawah sadar.
"Sean sudah tidur Pak," ucap Ajeng, setelah 10 menit Sean memejamkan matanya.
Reza menutup buku yang dia baca. Lalu menatap Ajeng yang tiduran di samping sang anak.
Ajeng adalah pengasuh ke 100 untuk sang anak. Ajeng yang berhasil membuat Sean jadi lebih tenang, Ajeng membuat Sean mau belajar.
Semua itu membuat Reza baru menyadari tentang keberadaan gadis ini.
Jika bukan Ajeng, mungkin anaknya masih sama seperti 3 bulan lalu. Nakal, pemarah dan tidak bisa diatur.
"Jangan marah lagi, kamu boleh memanggil ku Papa," ucap Reza.
Sebuah kalimat yang sangat-sangat ambigu bagi Ajeng. Apa maksudnya? siapa yang marah? kenapa boleh memanggil papa? memangnya Ajeng minta?
"Tidurlah bersama Sean, aku akan keluar," ucap papa Reza lagi.
__ADS_1
Dan saat papa Reza sudah keluar dari kamar itu, Ajeng menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ini aku harus gimana? panggil papa terus?" gumam Ajeng, jadi bingung sendiri gara-gara pria berwajah dingin itu.