Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 151 - Jangan Sentuh-sentuh


__ADS_3

Perpisahan yang cukup haru akhirnya berakhir, karena semua orang harus menjalani hari ini sesuai jadwal masing-masing.


Kak Rilly tadi juga sempat bergabung sebentar. Meski merasa kehilangan, tapi dia pun tak bisa menahan kepergian sang kakak.


Ryan punya hak untuk mewujudkan semua mimpi-mimpinya, termasuk membangun sebuah perusahaan penerbangan.


Karena sebenarnya kak Rilly pun tau, perusahaan penerbangan itu sudah diingin-inginkan mas Ryan jauh-jauh hari.


Seperti sebuah cita-cita ketika remaja.


Di dalam mobilnya, Sean masih sesenggukan. Ajeng sesekali juga menarik tisue untuk menghapus air mata sang anak.


"Om Ryan masih di Jakarta sayang, kita bisa berkunjung saat Minggu," ucap papa Reza, coba menerangkan keadaannya.


Om Ryan hanya pergi dari rumah untuk tinggal di rumahnya sendiri, bukan pergi untuk selama-lamanya.


Sean tidak menjawab, masih sesenggukan. Selama ini dibanding dengan papa Reza, Sean lebih dekat dengan om Ryan. Karena itulah dia sangat kehilangan ketika om Ryan memutuskan untuk pergi.


Sesaat tangis Sean mereda, tapi jika ingat tentang omnya dia menangis lagi.


Terus seperti itu sampai mobil yang mereka naiki tiba di tempat tujuan, tiba di sekolah Sean.


"Sudah ya nangisnya, om Ryan kan mau kerja, jangan ditangisi," ucap Ajeng.


Air mata Sean memang sudah kering, kini hanya bersisa sesenggukannya saja.

__ADS_1


Sean, papa Reza dan mama Ajeng akhirnya keluar dari mobil tersebut. Namun kemudian perhatikan mereka semua teralihkan saat mendengar suara anak kecil perempuan memanggil Sean dengan riang.


"Sean!" panggil Sherina dengan suara yang cukup keras. Dia juga baru turun dari dalam mobilnya, juga diantar kedua orang tuanya.


Sean tidak menyahuti, hanya mengangkat tangan kanannya untuk memberi isyarat Hai.


"Sana datangi teman mu, emuah," kecup mama Ajeng pada sang anak.


Papa Reza juga mencium Sean.


Papa Reza dan mama Ajeng sama-sama melihat saat Sean dan Sherina bertemu di tengah-tengah. Lalu saling mengandeng tangan dan masuk ke dalam sekolah bersama-sama.


Ajeng tersenyum, lalu mengulum senyum.


Kok lucu. pikirnya.


Sherina yang bertanya apakah Sean baru saja menangis. Lalu anaknya itu menggelengkan kepala, menjawab tidak, menjawab bohong.


"Tuh anak mu tukang bohong," ucap papa Reza. Bukan hanya mama Ajeng yang paham interaksi dua anak itu, tapi papa Reza juga.


"Itu anak mas Reza juga," balas Ajeng, lengkap dengan tawa yang sedikit terdengar dari mulutnya.


"Anak kita berdua," balas papa Reza, selalu saja membuat Ajeng meleleh. Sekarang kalimat apapun yang keluar dari mulut papa Reza, rasanya jadi begitu manis.


Tidak pahit seperti dulu kala.

__ADS_1


"Ayo pergi," ajak papa Reza pula dan Ajeng mengangguk.


Sesuai rencana, setelah mengantar Sean, mama Ajeng akan mengantar papa Reza, baru setelahnya mama Ajeng akan kembali lagi ke sekolah ini untuk memperhatikan dari jauh apakah mama Mona akan datang lagi.


Sepanjang perjalanan mengantar papa Reza, pria itu terus menggenggam erat tangan sang istri.


Sesekali mencium punggung tangan Istrinya dengan manja.


"Nanti bekalnya di makan loh, awas kalau beli diluar," ucap Ajeng. setelah menjadi istri papa Reza, kini Ajeng berubah 180 derajat. Dia jadi punya keberanian untuk memarahi pria berwajah dingin itu.


Hari ini Ajeng memang memasakkan bekal untuk papa Reza. Sesuatu hal yang sangat ingin dilakukan ketika sudah memiliki suami.


"Iya istri ku," balas papa Reza patuh.


Manis sekali, sampai membuat Ajeng mengulum senyum.


15 menit kemudian, mobil sampai di Aditama Tower. Louis membukakan pintu untuk sang Tuan, dia telah menunggu kedatangan sang Boss di pintu lobby.


Dan setelah papa Reza turun, mobil itu pun kembali melaju pergi.


Melihat pak Reza keluar sambil membawa sebuah kotak bekal, Louis berniat mengambilnya, niat dibawakan.


Namun pak Reza malah menepis tangannya dan memberi tatapan tajam.


"Jangan sentuh-sentuh, ini kotak bekal dari istri ku," ucap Reza posesif.

__ADS_1


Glek! Louis hanya mampu menelan ludah kasar.


"Maaf Pak," balas Louis.


__ADS_2