
Pulang sekolah Sean riang sekali, karena dia akan beli mainan baru. Batman-nya yang dulu tangannya sudah patah gara-gara tidak sengaja di injak.
Tiap kali melihatnya Sean sedih sekali, karena itulah kini Batman tersebut sudah Sean kubur di taman belakang.
"Om Deri, pergi ke Clarke Super Mall ya," ucap Sean saat dia dan Ajeng sudah duduk sempurna di dalam mobil.
"Oke!" balas Deri dengan antusias.
Mobil pun mulai melaju.
"Sen, papa tadi kasih mbak Ajeng kartu ini, katanya untuk kamu belanja, password-nya 123456," jelas Ajeng, seraya menunjukkan kartu berwarna hitam yang baru saja dia keluarkan dalam tas kecilnya. Tas yang hanya berisi dompet dan hp saja.
Melihat kartu itu kedua mata Sean berbinar, ini tandanya dia boleh beli banyak-banyak.
Dan ... mungkin papa ingin mbak Ajeng belanja juga. Batin bocah itu, kesemsem sendiri. Merasa rencananya untuk membuat papa Reza dan mbak Ajeng semakin dekat akan segera terwujud.
Kepedulian kecil-kecil lama-lama akan jadi kepedulian yang banyak.
"Ini kartu ajaib Mbak, kalau papa kasih ini berarti papa juga mau mbak Ajeng belanja," terang Sean.
Penjelasan yang membuat Ajeng bingung sesaat. Lalu cepat-cepat sadar kalau itu hanya akal-akalan Sean, bicara seolah papa Reza menginginkan dia belanja, lalu setelahnya yang terjadi papa Reza akan memarahi Ajeng habis-habisan.
Tidak! tidak lagi! aku tidak akan lagi terjebak permainan anak kodok ini. Batin Ajeng.
"Hem, ya lah," balas Ajeng seolah setuju.
20 menit kemudian, akhirnya mereka pun tiba di tempat tujuan.
__ADS_1
Pusat perbelanjaan terbesar di kota ini. Semuanya lengkap.
Ajeng sampai tercengang melihat megahnya Mall tersebut. Lalu kaku saat Sean mengajaknya naik eskalator.
"Aduh Sen, deg-degan, nggak ada tangga apa?" tanya Ajeng, dia sungguh takut.
"Ada kok Mbak, yuk kita lewat sana," ajak Sean.
Ajeng mengangguk dengan lega, hari ini lihat saja dulu secara langsung yang namanya eskalator. Kapan-kapan Ajeng akan beranikan diri untuk menaikinya.
Sean membeli 2 mainan baru, 1 robot Batman dan 1 nya Superman. Pokoknya yang pakai cellana dallam di luar adalah favorit Sean.
Puas berkeliling akhirnya Sean mengajak mbak Ajeng masuk ke toko aksesoris para wanita. Bocah itu malah tau semua seisi Mall besar ini. Sementara Ajeng sejak tadi hanya mengikuti, mengekor dan terus menggandeng Sean agar tidak hilang.
Padahal harusnya yang dikhawatirkan akan hilang adalah dia sendiri.
Ajeng masih terperangah melihat aksesoris yang indah-indah.
"Yang biasa aja Sen, ikat rambut polos," jawab Ajeng.
Sean lalu memanggil seorang karyawan di sana dan menjelaskan apa yang dia mau.
Karyawan tersebut lantas memilih banyak ikat rambut sesuai keinginan Sean, berjejer di meja etalase paling depan.
Ajeng hanya mampu menganga, hanya beli ikat rambut saja mereka sudah seperti seorang putri dan pangeran yang mendapatkan perlakuan khusus.
"Mbak Ajeng suka yang mana?" tanya Sean.
__ADS_1
"Ini Sen." Ajeng menunjuk yang paling sederhana.
"Oke, minta 10 pieces ya mbak," ucap Sean pada karyawan tersebut.
"Baik Adik, totalnya 500 ribu."
Ajeng mendelik, bagaimana bisa 1 harga ikat rambutnya 50 ribu.
"E e e, tunggu dulu, tidak jadi Mbak!" potong Ajeng. Sebelum transaksi di lakukan.
"Kenapa Mbak?" tanya Sean.
"Mahal Sen, cari di tempat lain saja."
"Kan bayarnya pakai uang papa, mbak Ajeng tenang saja."
"Nggak, mbak Ajeng nggak mau, itu terlalu mahal." cegah Ajeng lagi, bukan perkara uang siapa, tapi apa faedahnya membeli ikat rambut semahal itu, lebih baik ditabung saja.
Perselisihan mereka terpecahkan saat karyawan toko tersebut ikut buka suara.
"Maaf Mbak, yang mbak pilih ini memang yang paling mahal, kalau mau harga kisaran 10 ribu juga ada, ini," terang karyawan tersebut. Menunjuk ikat rambut yang terlihat lebih meriah, tidak sesederhana pilihan Ajeng yang pertama.
Padahal yang aku pilih yang paling simpel, kok malah yang paling mahal. Batin gadis itu.
"Ya sudah Mbak yang itu saja, tidak usah 10, 5 saja cukup," jawab Ajeng.
Ajeng lantas mengeluarkan black card milik papa Reza, 50 ribu nanti bisa dia ganti di rumah.
__ADS_1
Karyawan toko tersebut tercengang, bagaimana bisa kartu mandraguna ini hanya digunakan untuk membeli ikat rambut seharga 50 ribu.