
Ada sekitar 10 menit Erwin menunggu balasan pesan dari Ajeng, tapi selama apapun dia menunggu nyatanya pesan itu tak kunjung datang.
Hanya terdengar suara helaan nafas kasar dari pria tersebut.
"Tidak apa-apa kamu tidak balas Jeng, yang penting kamu baca pesanku. Agar setelah ini aku punya muka untuk menghadapi kamu dan suami mu," gumam Erwin.
Dia mendapatkan nomor ponsel Ajeng yang baru dari salah satu keluarganya, dan setelah mengirim pesan tersebut. Erwin pun menghapus nomor Ajeng juga.
Rasa menyesal di dalam hatinya memang sangat besar, tapi Erwin sadar, Ajeng kini telah bahagia dengan hidupnya yang baru, perasaannya sekarang malah akan membuat Ajeng susah.
Jadi sama seperti Ajeng, Erwin pun coba akan mengiklaskan semua yang telah terjadi sekarang.
Dia pun harus mulai berbenah hidupnya, membimbing Elis agar jadi lebih baik.
Jam 5 sore, Erwin tiba di rumahnya setelah bekerja. Tubuhnya nampak penuh keringat dan langsung disambut oleh wajah masam sang istri.
Tapi saat itu Erwin coba tersenyum.
"Aku lapar Lis, kamu masak apa?" tanya Erwin seraya melepas sepatu boot yang dia pakai.
__ADS_1
"Aku tidak masa apa-apa, mau gerak saja susah!" balas Elis dengan ketus.
"Ya sudah, aku mandi dulu, setelah itu aku yang masak," balas Erwin.
Deg! hati Elis seketika terenyuh ketika mendengar ucapan suaminya tersebut. Seharian ini dia sibuk memikirkan Bagaimana caranya membalas Ajeng, sampai pekerjaan rumahnya pun jadi terbengkalai.
dan sekarang dia malah mendengar ucapan tulus dari suaminya tersebut, hati Elis seperti diremas-remas. Seketika perasaan bersalah luar biasa menyelimuti hatinya.
Apalagi saat dia lihat Erwin berjalan menuju kamar mandi dengan kakinya yang terlihat pincang.
Saat itu juga air mata Elis jatuh.
Ketika Erwin masuk ke dalam kamar mandi, Elis pun segera menuju dapur menyiapkan makanan untuk sang suami.
Selesai Erwin mandi dia langsung melihat istrinya yang sibuk di dapur.
Ada senyum kecil yang terukir di sudut bibir pria itu.
Dan saat Erwin selesai memakai baju, makanan pun sudah tersaji di atas meja makan. Terlihat lebih enak karena semuanya masih hangat.
__ADS_1
"Maafkan aku Mas," ucap Elis lirih.
Kini dia tau hanya Erwin lah satu-satunya orang yang bisa dia jadikan sandaran. Setelah menikah rasanya pun jadi begitu asing ketika pulang ke rumah kedua orang tuanya.
Hanya suaminya lah tempat yah sekarang jadi rumah.
"Ayo kita makan sama-sama," ajak Erwin.
Sejak awal menikah tak ada hubungan baik seperti ini yang tercipta diantara mereka, dan Erwin pun merasa bersalah pula tentang hal itu.
"Maafkan aku ya Lis, harusnya sejak awal kita menikah, aku sudah harus berusaha jadi imam yang baik buat kamu," ucap Erwin.
Elis langsung menangis sesenggukan.
"Aku yang minta maaf Mas, aku yang jebak kamu duluan." Elis mengakui semua kesalahannya itu.
"Besok, sebelum Ajeng menikah, aku ingin kita berdua minta maaf pada keluarganya juga," ucap Erwin.
Elis langsung menganggukkan kepalanya, tanpa banyak berdebat. Selama ini mereka memang tidak pernah meminta maaf secara langsung pada Ajeng dan keluarganya.
__ADS_1
"Ya sudah, jangan menangis lagi, ayo makan." Erwin mengambil piring lebih dulu dan menyantap hidangan itu.
Sedangkan Elis masih menghapus air matanya yang mengalir dengan deras.