Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 144 - Pikiran Louis


__ADS_3

Sebagian besar karyawan di perusahaan pusat Aditama Tower ini hadir dalam pesta pernikahan Reza dan Ajeng.


Dan kali ini adalah kedua kalinya Ajeng mendatangi gedung tinggi tersebut.


Dia masih saja menatap takjub dengan hati yang berdegup, rasanya ada kebahagiaan tersendiri ketika dia mendatangi gedung ini.


Dulu saat pertama kali datang Ajeng masih berstatus sebagai pengasuh, dia yang berulang kali menundukkan kepalanya memberi hormat kepada beberapa orang yang dia temui.


Tapi sekarang dunia sudah seperti berputar, sekarang tiap kali dia bertemu dengan seseorang, maka Orang itulah yang akan lebih dulu menundukkan kepalanya memberi hormat.


Ajeng saat ini sudah dikenal sebagai Nyonya muda keluarga Aditama.


Status baru yang Ajeng sendiri masih belum menyangka bahwa akan jadi gelarnya.


Sejak turun dari dalam mobil dan sekarang mulai memasuki perusahaan tersebut, Ajeng terus tersenyum lebar hingga menampakkan deretan giginya yang rapi.


Tak segan memeluk lengan suaminya dan terus berjalan mengikuti om Louis yang menekankan pintu lift.


Seperti eksekutif.


Hii, Ajeng gemas sendiri dengan gaya kehidupan yang dia jalani saat ini.

__ADS_1


Kalau kata orang-orang di kampungnya, ini namanya OKB, Orang Kaya Baru.


"Kamu kenapa? dari tadi senyum-senyum terus, apa karena melihat Louis?" tanya papa Reza, mode cemburu.


Bahkan saat bertanya seperti itu saja suaranya terdengar dingin sekali.


Deg! jantung Louis seketika tersentak kaget, seperti hendak keluar dari tempatnya. di dalam lift itu hanya ada mereka bertiga.


Ajeng, papa Reza dan asisten Louis.


Louis sangat paham bagaimana sang Tuan begitu menggilai istrinya tersebut, bahkan karena nyonya Ajeng juga tuan Reza bersikap seperti orang gila.


Dan itu menjadikan posisinya jadi tidak aman.


Louis terdiam, tidak membuat pergerakan apapun yang bisa mencuri perhatian bosnya tersebut.


"Iihh mas Reza, kok jadi om Louis sih. Aku senyum karena senang, gedung ini punya suami ku kan?" tanya Ajeng dengan polosnya, bahkan setelah mengatakan itu dia tertawa sendiri merasa senang.


Ya Allah, Siapa yang tidak senang jika punya suami yang kaya raya. Ajeng pun senang bukan main, sampai tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


Dan mendengar jawaban istrinya tersebut, seketika senyum pun langsung terukir di wajah dingin papa Reza.

__ADS_1


Langsung berniat untuk membanggakan semua kekayaannya di hadapan sang istri.


"Iya sayang, gedung ini berada dalam kuasa suami mu," balas papa Reza dengan bangga.


Ajeng sontak memukul manja dadda suaminya, hih! gemas.


"Bukan hanya ini saja sayang, hartaku sangat banyak dan semua itu sekarang jadi harta istri ku juga. Siapa istri ku? kamu," tambah papa Reza lagi, lengkap dengan jari telunjuknya yang menyentuh hidung Ajeng.


Ahhhh, saat itu juga Ajeng rasanya ingin meleleh. Wanita cantik itu bahkan tidak sadar jika dia sudah melompat-lompat kecil kegirangan.


Dan Louis yang melihat kelucuan itu sedang bersusah payah menahan tawa, mengulum senyum dan pura-pura memalingkan wajah.


Astaghfirullah, ibu Ajeng terlalu lucu. Batin Louis. Dia saja rasanya ingin mengigit wanita mungil tersebut.


Dan untunglah Reza tidak bisa membaca pikiran Louis itu, kalau sampai Reza bisa mengetahui isi kepalanya bisa dipastikan bahwa saat itu juga dia akan dipecat jadi asisten.


"Cium dong, aku sudah bekerja keras selama ini untuk mengumpulkan semua harta itu," ucap papa Reza lagi, mulai menjual kesedihan.


Dan seolah lupa jika di sana ada om Louis, Ajeng langsung berjinjit dan mencium mesra bibir suaminya.


Astaghfirullahaladzim, batin Louis. Merana.

__ADS_1


__ADS_2