Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 40 - Anak Kodok


__ADS_3

"Makan yang banyak, papa beli ini semua untuk dihabiskan," ucap Reza.


Saking bingungnya bicara apa pada sang anak, jadi hanya kalimat itu yang keluar dari mulutnya.


Ajeng tak habis pikir, bagaimana bisa dengan anaknya sendiri papa Reza sekaku itu?


Tatapan Ajeng pada papa Reza tak berlangsung lama, karena dia langsung buru-buru menunduk saat papa Reza membalas tatapannya.


Lalu Ajeng melihat papa Reza meletakkan sepotong ayam goreng di piringnya dan piring Sean.


"Makan yang banyak," titah papa Reza.


Sean benar-benar merasa menghangat hatinya diperlakukan seperti ini. Sementara Ajeng sudah tersipu malu.


Reza memang sudah memutuskan untuk memperbaiki hubungannya dengan sang anak. Jadi meskipun dia sendiri merasa kesulitan, Reza akan terus mencoba.


Dia bisa belajar dari Ajeng.


Jam 3 sore mereka memutuskan untuk pulang, Reza pulang lebih cepat. Siang menjelang sore saat itu Reza mengemudikan mobilnya seorang diri, Ajeng duduk disampingnya, tapi kali ini Sean ingin dipangku oleh sang pengasuh.


Tanpa mengatakan pada Mbak Ajeng-nya dan papa Reza, sebenarnya Sean kini telah merasa bahwa di memiliki keluarga yang utuh.


Sean bahkan sudah berniat untuk menunjukkan keahliannya menulis dan membaca pada Mbak Ajeng, tidak akan pura-pura bodoh lagi.


Di pangkuan mbak Ajeng, Sean malah mengantuk. Perlahan matanya terpejam dan akhirnya benar-benar terlelap.


Tak ada suara sang anak, Rez pun menoleh melihat Sean yang sudah tidur.


Reza lantas menepikan mobilnya di pinggir jalan.


"Kenapa berhenti Pa?" tanya Ajeng bingung.


"Kamu pasti merasa berat, biar ku pindahkan Sean ke belakang," jelas Reza dengan raut wajah yang masih datar.

__ADS_1


Lama-lama Ajeng tidak lagi beharap papa Reza akan tersenyum. Kini dia sudah sangat paham jika seperti itulah papa Reza. Merasa bahagia pun rasanya wajah papa Reza akan tetap sama, datar.


"Tidak perlu Pa, aku baik-baik saja kok?"


"Benar?"


"Iya."


"Baiklah," balas papa Reza.


Huh! Ajeng bernafas lega, setidaknya tidak ada interaksi diantara mereka yang terlalu dekat.


Dari jarak seperti ini saja Ajeng sudah merasa tidak aman, dia takut papa Reza mampu mendengar detak jantungnya yang berdegup kencang.


Beberapa menit di perjalanan dan akhirnya mereka tiba di rumah.


Reza mengambil Sean di pangkuan Ajeng.


"Sean berat, aku tidak yakin kamu kuat gendong Sean, apalagi nanti naik tangga juga."


Ajeng terdiam, iya juga pikirnya.


Reza yang menunduk seperti itu membuat Ajeng bisa menghirup aroma tubuh pria ini.


Harum sekali, sampai membuat Ajeng lagi-lagi merah merona pipinya.


Keluar dari mobil itu mereka segera masuk ke dalam rumah, Ajeng mengekor di belakang.


Naik tangga lalu masuk ke kamar Sean.


Reza membaringkan sang anak di atas ranjang.


"Ma," lirih Sean, dia mengigau.

__ADS_1


Reza terdiam.


Sementara Ajeng mulai was-was, curiga apakah itu benar mimpi akan kesengajaan Sean.


"Mama Ajeng," lirih Sean lagi, lalu menggeliat memeluk guling.


Ajeng mendelik.


Dia buru-buru menggelengkan kepala saat papa Reza menatap ke arahnya.


"Sumpah! aku tidak pernah mengajari Sean memanggil ku seperti itu."


"Sstt!" ucap Reza, tidak ingin Ajeng berisik dan menganggu tidur sang anak.


"Jelaskan di luar," titah papa Reza.


Dan saat itu juga rasanya Ajeng ingin jatuh pingsan saja.


Dalam hatinya terus menggerutu.


Sean pasti sengaja!


Itu pasti bukan mimpi!!


Papa Reza keluar lebih dulu, dan saat Ajeng sendirian di sana dia menggelitik perut Sean.


Bocah itu menggeliat merasa geli, tanda jika Sean tidak tidur.


Nah kan! dasar anak kodoook!! geram Ajeng.


Tapi dia tidak bisa berlama-lama karena papa Reza sudah menunggu.


Dan saat Ajeng keluar, Sean tersenyum dengan kedua mata yang masih terpejam.

__ADS_1


__ADS_2