
Sesaat suasana di dalam kamar itu terasa aneh sekali, kikuk dan canggung bagi papa dan mama Ajeng.
Sementara bagi Sean sebenarnya biasa saja, dia bahkan menguap karena masih mengantuk. Melihat sang mama yang menghampiri dia dengan wajah merah merona.
"Sayang sudah bangun, mau minum air putih?" tanya Ajeng buru-buru, meski sudah menjadi ibu, tapi Ajeng masih saja memposisikan dirinya sebagai pengasuh Sean.
Kadang saja Ajeng masih merasa takut pada bocah berusia 6 tahun tersebut.
Huaaam! Sean menguap lagi, dia menggeleng pelan, lalu mengucek kedua mata.
"Mama kenapa?" tanya Sean, dia melirik ayahnya sekilas, melihat papa Reza yang berdiri di belakang sang mama. Berdiri dengan raut wajah yang tak bisa dia tebak apa artinya.
"Mama kenapa? Mama tidak kenapa kenapa kok. Ehem! ini sudah sore, ayo kita mandi dulu," balas Ajeng, sekaligus mengalihkan pada pembahasan yang lain.
Sean mengangguk patuh, tubuhnya juga sudah terasa lengket semua.
Karena semua baju Sean masih berada di dalam kamar bocah itu sendiri, jadi saat mandi seperti ini Sean pun kembali ke dalam kamarnya.
Ajeng ikut juga karena dia harus menyiapkan baju ganti.
Tinggal lah papa Reza sendirian di dalam kamar ini, saling tatap dengan sang istri seolah mereka dipisahkan dengan keadaan.
__ADS_1
"Ya Allah, pikir Rez, pikir, bagaimana caranya agar Sean berada di pihak mu," gumam Reza setelah anak dan istrinya keluar, pintu kamar itu pun sudah tertutup lagi.
Reza duduk di tepi ranjang dan mulai berpikir, mengoptimalkan kerja ottak geniusnya.
Tapi kemudian malah hatinya yang berdenyut nyeri.
Yang membutuhkan Ajeng bukan hanya dia, tapi juga Sean. Anaknya butuh kasih sayang seorang ibu, seseorang yang bisa dia panggil dengan sebutan mama.
Tapi sejak kemarin Reza malah terus berpikir Bagaimana caranya memisahkan Ajeng dan Sean.
"Astaghfirullahaladzim," gumam Reza. Jadi merasa bersalah sendiri dengan apa yang pernah dia pikirkan di dalam benaknya.
Ya, dengan berpikir seperti itu hati Reza mulai bisa menemukan sedikit ketenangan.
Akhirnya pria itu bisa tersenyum meskipun sang istri tidak ada lagi di dalam kamar ini.
Di kamar Sean.
Ajeng mulai menyiapkan baju ganti untuk sang anak, sementara Sean mandi sendiri di dalam kamar mandi.
"Jangan lama-lama Sen!" pekik Ajeng, sepertinya sudah ada 10 menit Sean berada di dalam kamar mandi, tapi Ajeng masih saja mendengar suara gemericik air. Belum ada tanda-tanda jika anaknya itu akan keluar.
__ADS_1
"Iya Ma!!" sahut Sean dengan patuh, Ajeng tidak bisa lihat saat bocah itu tersenyum di dalam kamar mandi sana.
Bagi Sean rasanya mimpi sudah jadi kenyataan, ketika dia berteriak memanggil mamanya saat sedang mandi seperti ini.
Hal sederhana namun selama ini hanya jadi angan-angan bagi Sean.
Dan akhirnya angan-angan itu sekarang jadi kenyataan.
Tak lama kemudian akhirnya Sean pun keluar. menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya dan rambut yang basah. Air menetes terus.
"Kan mama sudah bilang, pakai handuk kimono mu, dan handuk yang ini untuk mengeringkan rambut, jadi keluar dari kamar mandi sudah kering, tidak basah-basah seperti ini," gerutu Ajeng.
Dia mengangkat Sean hingga berada di karpet. Takut Sean terpeleset jika masih dilantai.
"Iya Ma, besok," jawab Sean.
Ajeng menatap tajam.
"Garangnyee," kata Sean, lalu tertawa.
Sementara Ajeng hidungnya kembang kempis menahan amarah.
__ADS_1