Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 129 - Siap Lahir dan Batin


__ADS_3

"Ajeng, minum dulu air putih mu, dari tadi kamu belum minum kan?" ucap papa Reza, dia bicara dengan suaranya yang terdengar lebih lembut.


Bingung bagaimana caranya untuk memulai semua ini jadi dia putuskan untuk mencairkan suasana lebih dulu.


"Iya Mas," jawab Ajeng patuh, sebenarnya sejak tadi dia memang sedikit merasa haus. tapi selalu saja ada kejadian yang membuatnya urung untuk minum.


"Kalau minum duduk," ucap Reza lagi, saat dilihatnya sang istri hendak meminum air putih di dalam gelas itu dengan posisi berdiri di dekat meja.


Dan mendengar kalimat itu Ajeng pun tersenyum kikuk, seperti anak yang baru saja mendapatkan teguran dari sang ayah.


Ajeng lantas duduk di tepi ranjang, papa Reza mengikuti hingga duduk di samping Ajeng.


Gadis yang sedang menghabiskan air minumnya itu tidak merasa terganggu sedikitpun dengan keberadaan papa Reza. konsentrasinya sedang tertuju pada hal lain.


"Mas Reza tidak minum?" tawar Ajeng dengan santainya. Sungguh, gadis itu belum kepikiran ke arah anu-anuan.


Mau, tapi bukan minum air putih, minum yang lainnya. Balas Reza di dalam hati. tak kuasa untuk mengucapkannya secara langsung, bahwa dia ingin menyusu seperti anak kecil.


Ya Allah. Batin Reza lagi.


Sabar. ucapnya pada diri sendiri.

__ADS_1


Reza kemudian menjawab pertanyaan Ajeng itu dengan gelengan kepala. Sementara kedua matanya tetap menatap lurus ke arah sang istri.


Sebuah tatapan yang akhirnya kembali membuat jantung Ajeng berdegup.


Deg!


Ya Allah, hampir saja aku lupa. bukankah seharusnya malam ini aku dan Papa Reza menyatu? Batin Ajeng.


Belum apa-apa kedua pipinya sudah nampak merah merona.


Tapi bagaimana cara memulainya? ucap Ajeng lagi, Tapi tentu saja hanya mampu dia tanyakan di dalam hati.


Ajeng juga sangat bingung, harus bagaimana dulu?


"Iya Pa?!" balas Ajeng dengan cepat, bahkan bicara dengan suara yang cukup tinggi.


Membuat canggung jadi semakin menguasai diantara mereka.


"Ma-maaf Mas, aku tidak bermaksud membentak kamu," ucap Ajeng, meluruskan.


"Aku tau, kamu sedang gugup kan?" tanya papa Reza pula.

__ADS_1


Dan kali ini Ajeng hanya berani mengangguk untuk menjawab.


"Tapi apa kamu siap kita melakukannya sekarang?" tanya Reza lagi.


Tidak perlu dijelaskan secara gamlang apa maksud pertanyaannya itu, yang jelas mereka berdua sama-sama tahu ke mana arah pembicaraan ini.


Dan lagi-lagi Ajeng hanya bisa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, mulutnya rasanya maluuu sekali untuk menjawab IYA.


Ajeng sangat sadar bahwa itu adalah tugas pertamanya yang wajib dilakukan untuk sang suami.


Memberikan apa yang selama ini telah dia jaga.


"Alhamdulillah kalau kamu sudah siap, jujur, aku seperti berada di persimpangan. Di satu sisi aku sudah tidak sabar ingin memiliki kamu seutuhnya, tapi di sisi lain aku sungguh tidak ingin memaksakan kehendak kamu," balas papa Reza, kedua matanya menatap dengan sayu.


Sebuah balasan yang membuat hati Ajeng seketika terenyuh.


Dia tidak sadar jika saat ini Papa Reza sedang menjual kesedihan.


Ya, Reza baru ingat dengan apa yang diucapkan oleh sang anak beberapa waktu lalu. Tentang Ajeng yang memiliki hati yang begitu lembut.


Tidak perlu menggunakan kekerasan untuk mendapatkan hati wanita tersebut, cukup dengan memelas saja, maka mereka bisa mendapatkan semuanya.

__ADS_1


"Mas Reza tidak perlu ragu, aku sudah siap lahir dan batin," balas Ajeng mantap.


__ADS_2