
"Alhamdulilah," ucap semua orang setelah mendengar jawaban Ajeng, sebuah kata syukur yang diiringi tawa bahagia saat melihat Ajeng yang gugup seperti itu.
Bicaranya jadi lebih tinggi dan para keluarga sudah memahami sikap Ajeng yang seperti itu.
Tukar cincin pun terjadi, Oma Putri memasangkan sebuah cincin berlian di jari manis tangan kiri Ajeng.
Terlihat sangat indah hingga siapa pun yang melihatnya pasti akan terpana. Hingga kini saja Ajeng masih tidak menyangka jika cincin berlian itu adalah cincin pertunangannya dengan Papa Reza.
Suasana jadi begitu syahdu, penuh dengan kebahagiaan di hati semua orang.
Tapi tidak dengan hatinya Elis, dia seperti merana sekali melihat itu semua. Apalagi tentang ucapan pak Wandi yang membahas tentang kehormatan hingga membuatnya mencelos, karena dia tidak bisa menjaga hal itu sebelum hari pernikahannya dengan Erwin.
Dan ketika melihat cincin berlian itu, Elis pun menggenggam tangannya sendiri. Merasakan cincin emas milik Ajeng yang dulu dia paksa ambil dan sekarang Elis pakai.
Hatinya merena sekali, seolah bertubi-tubi kenyataan ini membuatnya ingat tentang kesalahannya di masa lalu.
Kini, tanpa diperintah oleh orang lain, Elis mundur dari sana dan memutuskan untuk pulang. Dia tidak punya keberanian lagi untuk menunjukkan diri.
Elis bahkan mulai takut bagaimana jika Ajeng menjelek-jelekan dia di hadapan keluarga Aditama, jelas itu membuatnya tak memiliki wajah.
Jadi dengan hatinya yang merasa begitu kecil, Elis pun pergi.
__ADS_1
Dan tentu saja acara lamaran itu masih berlanjut, kepergian Elis tak sedikit pun mengurangi syahdunya acara tersebut.
Sehabis lamaran sekarang waktunya makan-makan.
Nia sudah akrab dengan seluruh keluarga Aditama, dengan Sean dia cocok sekali.
Bahkan saat Sean mengatakan jika dia suka katak, Nia langsung mengajak Sean untuk besok berburu hewan amfibi itu, hewan yang hidup di dua alam yaitu air dan darat.
Saat makan-makan, Ajeng dan Reza tentu bersama, mereka mulai menunjukkan kebersamaannya pada semua keluarga.
"Mas suka tidak masakannya?" tanya Ajeng dengan suara pelan, hanya Reza yang bisa mendengarnya.
"Suka, ini enak," balas Reza, berbisiknya dengan jarak yang sangat dekat, sampai membuat Ajeng merinding dan kedua pipinya merah merona.
Dan interaksi keduanya membuat orang lain pun jadi malu-malu juga.
Jam 3 sore akhirnya acara itu pun benar-benar usai, jadi keluarga adipama sudah bersiap untuk pulang.
Sean akan tinggal di rumah ini untuk menginap semalam, sementara Reza dan yang lainnya akan pergi ke hotel di kota.
Besok Sean akan dijemput sekaligus seluruh keluarga Aditama melihat perkebunan sawit yang ada disini.
__ADS_1
Sean senang sekali karena akan menginap, sementara papa Reza langsung gundah gulana karena untuk pertama kalinya agar berpisah dengan Ajeng, sang gadis pujaan.
Apalagi seluruh keluarga Ajeng masih mengelilingi, hingga membuatnya tak leluasa untuk memberi salam pisah.
"Kami pamit dulu ya pak Wandi, besok bertemu lagi," ucap Kakek Agung.
"Saya tunggu Pak, saya temani juga ke perkebunan," balas pak Wandi, 2 pria tua itu kini sudah sangat akrab.
"Mbak Tri, titip Sean ya," ucap Oma Putri.
"Jangan sungkan Mbak, sudah jadi cucu saya juga," balas ibu Tri. Kedua wanita itu pun terkekeh pelan.
"Ajeng, kami pamit ya?" ucap Ryan, dia harus terlihat biasa saja.
"Dadah Jeng, bye bye Sen," ucap kak Rilly, ternyata memang lebih enak panggil Sen daripada Sean.
Tapi Sean justru merasa kak Rilly meledeknya.
Kini Sean dan kak Rilly malah seperti tikus dan kucing.
"Ehem, sayang, aku pergi dulu," pamit Reza.
__ADS_1
Ya Allah, Ajeng malu sekali, di hadapan semua keluarga papa Reza memanggilnya sayang. Rasanya saat ini juga Ajeng ingin pingsan.
"Iya Mas," cicit Ajeng.