
1 bulan kemudian.
Sekarang Oma Putri dan kakek Agung sudah tidak tinggal lagi di Jogja. Mereka berdua sudah kembali tinggal di Jakarta bersama anak dan cucunya.
Kakek Agung yang telah kehilangan sang kakak, jadi ingin segera punya cucu baru untuk pelipur lara. Karena Sean sudah sibuk sendiri dengan sekolah dan kodok-kodoknya.
"Rez, coba pagi ini kamu ajak Ajeng ke dokter kandungan, kakek yakin dia sudah hamil," ucap kakek Agung setelah mereka semua selesai sarapan.
"Ya Allah Kek Kek, yang sabar gitu lo, Ajeng aja masih santai aja belum ads tanda-tanda, masa mau ke dokter kandungan." Oma Putri yang menjawab.
Jika pembahasan sudah tentang punya anak, dan semua keinginan kakek Agung, Rilly buru-buru kabur, takutnya malah dia yang diburu-buru suruh nikah.
"Aku ada rapat Tim, aku pergi dulu ya Kek, Oma, Mas, Mbak, Sean." Pamit Rilly buru-buru, semua anggota keluarga disebutnya satu-satu.
Oma Putri sampai mengerutkan dahi melihat sikap anak perempuan satu-satunya itu.
"Hem, hati-hati," balas Oma Putri kemudian setelah Rilly salim.
"Iya Kek, nanti setelah mengantar Sean aku ajak Ajeng ke dokter kandungan, akhir-akhir ini dia memang suka marah-marah terus." Adu Reza.
"Iya Kek, aku juga sering dimarah," timpal Sean.
Ajeng langsung menatap tajam pada anak dan suaminya tersebut, sementara Oma Putri membuang nafas kasar dan kakek Agung tersenyum lebar.
__ADS_1
"Nah, itu tandanya, sudah sana kalian segera pergi. Kakek sangat sangat yakin Ajeng sudah hamil."
Aamiin. sahut Oma Putri di dalam hatinya.
"Aamiin!!" ucap Sean dan papa Reza dengan sangat antusias.
Tapi Ajeng malah bibirnya mengerucut, entah kenapa malah sebel, apalagi kalau ingat anak dan suaminya itu malah mengadu pada kakek Agung tentang dia yang suka marah-marah.
Padahal kan Ajeng marah karena ada sebabnya.
Papa Reza pulang telat 5 menit tanpa kabar, jadi Ajeng marah.
Sean di kotak bekalnya ada sisa. padahal Ajeng memang sengaja memberikan banyak makanan agar Sean bisa berbagi dengan teman-temannya. Harusnya makanan itu habis.
Dan masih banyak lagi.
Deri sedang libur sakit, jadi Louis yang mengemudikan mobil mereka.
Sementara keluarga bahagia itu duduk di belakang.
"Jadi gitu ya, sekarang mainnya main adu-aduan," kesal Ajeng saat mobil mulai melaju.
"Bukan mengadu Ma, tapi berbagi cerita," kilah papa Reza.
__ADS_1
Sean jadi ingin tertawa terbahak-bahak ketika mendengar jawaban ayahnya tersebut. Reza tidak sadar, jika semua sikapnya itu nanti akan ditiru oleh sang anak.
"Iya Ma, papa benar, lagipula mama memang jadi suka marah-marah, mungkin kata kakek Agung benar, mama sedang hamil, aku akan segera punya adik," sahut Sean pula.
Ajeng terdiam, secara otomatis tangan kanannya bergerak untuk mengelus perutnya sendiri. Dia sendiri tidak merasa yakin, apakah benar hamil atau tidak.
Tapi melihat semua orang berharap seperti ini, jadi besar pula harapannya untuk segera memiliki anak.
"Bismillah, semoga mama benar-benar hamil ya?" tanya Ajeng pada anak dan suaminya, kini bicaranya mendadak lembut, padahal beberapa detik lalu dia bicara dengan suara tinggi dan terdengar menyebalkan.
Semudah itu Ajeng berubah-ubah sikapnya.
"Aamiin," jawab Sean dan papa Reza bersamaan.
Setelah mengantarkan Sean ke sekolah.
Papa Reza langsung mengajak mama Ajeng ke rumah sakit. Berbagai pemeriksaan dilakukan sampai akhirnya ada hasil.
"Alhamdulillah, ibu Ajeng hamil, 4 Minggu," ucap dokter Bella.
Ajeng langsung menangis saat itu juga, Sementara Reza matanya berkaca-kaca dengan rasa haru yang memenuhi dadda.
4 Minggu berarti di saat pakde Sutopo meninggal.
__ADS_1
Dan ternyata ini seperti doa kakek Agung. Setelah kakaknya meninggal, beliau mendapatkan cucu baru.
Ya Allah, terima kasih. Batin Reza.