Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 77 - Pensil Sherina


__ADS_3

Sebenarnya bukan hanya hati Ajeng yang berdegup kencang, tapi milik papa Reza juga.


Namun pria itu lebih bisa mengendalikan diri, hingga yang terlihat di wajahnya bukan raut wajah gugup, namun wajah yang tetap tenang dan nampak dingin.


"Sudah Jeng," ucap papa Reza dengan sangat lembut, selama mandi tadi pagi papa Reza sudah banyak belajar caranya bicara dengan nada lembut, dia benar-benar bertekad ingin membuat Ajeng tidak takut lagi padanya.


Reza akan berusaha jadi dia yang berusia 10 tahun dulu, Reza yang ceria, ramah dan murah senyum. Dulu Reza juga hidup seperti itu, namun berjalannya waktu, bertambahnya umur, banyaknya beban dan tanggung jawab membuatnya berangsur berubah, jadi pria dingin dan nampak menyeramkan.


Reza bahkan jadi kaku sendiri untuk kembali bersikap hangat.


Dan mendengar papa Reza yang bicara sudah, Ajeng pun perlahan membuka kedua matanya, memberi celah cahaya matahari pagi kembali menyentuh kedua netranya..


Namun Deg! alangkah terkejutnya Ajeng ketika dia melihat papa Reza masih berada di tempat yang sama, tepat di depan wajahnya.


Glek! Ajeng menelan ludah, sudah bisa melihat jelas seperti ini, Ajeng pun sesaat terhipnotis dengan wajah tampan nan rupawan itu.


Sementara Sean di belakang sana buru-buru menutup mulut menggunakan kedua tangan, agar tawanya tidak pecah.


Di mata bocah berusia 6 tahun itu, pemandangan ini tidak terlihat romantis melainkan terlihat sangat lucu.


Sesaat Ajeng dan papa Reza saling pandang, dekat sekali, sampai akhirnya papa Reza mundur dan duduk sempurna di kursinya sendiri.


Meninggalkan jantung Ajeng yang makin berdetak tak karuan.

__ADS_1


Kedua pipinya sudah merah merona, seluruh wajahnya sudah terasa begitu panas.


Astaghfirullahal azim, istigfar Jeng, istigfar, jangan sampai kamu menyukai majikan mu sendiri. Ingat om Ryan! jangan ulangi pada papa Reza!


Ajeng langsung mengultimatum dirinya sendiri, jangan sampai dia jatuh terjerembab untuk kedua kali.


Cukuplah bekerja secara profesional agar dia tetap bisa bertahan.


Jangan bermimpi jadi nyonya karena yang ada malah dipecat.


"Ayo kita pergi," ajak papa Reza, senyum di bibirnya masih terukir saja.


Tapi Ajeng tidak bisa melihatnya, karena dia sudah jadi batu, membeku dan hanya mampu ke arah depan.


Sedang menenangkan dirinya sendiri, dari debaran hati yang seharusnya tidak dia rasakan.


Mendengar suara Sean memanggil, Ajeng tak bisa diam saja, dia buru-buru menoleh kebelakang, meskipun kedua pipinya masih terlihat merona.


"Apa Sean?"


"Aku lupa, kemarin aku merusak pensilnya Sherina, tapi sekarang aku belum beli yang baru untuk menggantikan pensil itu," bohong Sean, ini hanya salah satu strateginya dan papa Reza.


"Kalau begitu kita beli pensi itu sekarang," balas papa Reza, sebelum Ajeng sempat menyahut.

__ADS_1


"Baik Pa," balas Sean.


Ajeng kembali menoleh ke depan dan duduk sempurna, berarti mereka akan berhenti di toko alat tulis dulu, pikir Ajeng.


Tak lama setelah pembicaraan itu dan membuat kesepakatan, akhirnya mobil yang dikendarai oleh papa Reza berhenti di tepi jalan.


"Sean tunggu disini saja, biar papa dan mbak Ajeng yang turun," ucap papa Reza.


Ajeng mendelik dan Sean menjawab dengan cepat.


"Baik Pa!" jawab bocah itu dengan sangat antusias.


Ajeng tak punya pilihan, saat papa Reza turun terpaksa dia pun turun.


Ajeng mengikuti kemana arah papa Reza pergi, tapi pria itu malah menuju ke arahnya.


"Tokonya di seberang sana, ayo," ajak papa Reza.


Ternyata mereka harus menyeberangi jalan 2 jalur ini, jarak yang cukup jauh untuk berjalan.


Namun Ajeng tak bisa membantah, dia mengikuti langkah papa Reza, berjalan pelan, sedikit cepat, lalu agak berlari dan papa Reza menggandeng tangannya erat.


Deg!

__ADS_1


Mereka berlari, menyeberangi jalanan yang cukup ramai itu.


Dan Reza terus menggenggam erat tangan Ajeng.


__ADS_2