
"Pak, apa anda sudah memeriksa berkas dari pak Lukman?" tanya Louis.
"Pak Reza," panggil Louis lagi karena Reza malah melamun.
"Sekarang jam berapa?" tanya balik Reza, malah menjawab yang tidak nyambung. Malah mengajukan pertanyaan juga.
"Jam 11 Pak, apa ada yang ingin anda lakukan?"
Reza jadi terdiam, karena mendadak dia galau. Dilihatnya ponsel yang tergeletak di atas meja, entah kenapa sejak tadi rasanya begitu gatal sekali untuk mengambil ponsel itu dan menghubungi Ajeng.
Saat ini Sean dan Ajeng sudah berada di rumah.
Louis yang melihat Reza terus menatap ponselnya tanpa berkedip pun semakin dibuat bingung.
Sebenarnya, siapa wanita yang sudah mengganggu pikiran Reza.
Kedua mata Louis seketika menatap intens saat akhirnya Reza mengambil ponsel tersebut. Dia diam dan tak mengeluarkan suara saat Reza akhirnya menghubunginya seseorang.
"Halo Jeng, kamu dimana?" tanya Reza setelah panggilan teleponnya mendapatkan jawaban.
"Sudah di rumah Pa, baru saja tiba," jawab Ajeng, dia dan Sean baru saja masuk ke dalam kamar Sean.
"Siapa yang menjemput kalian? Deri?!"
"I-iya Pa," jawab Ajeng, seketika gugup saat mendengar suara papa Reza yang meninggi dan terasa dingin. Langkah kakinya pun juga terhenti, sampai Sean mengikuti dan menatap ke arah mbak Ajeng-nya.
"Tadi pagi kenapa kalian tidak pamit padaku?" tuntut Reza.
__ADS_1
Dan seketika itu juga Ajeng menelan ludahnya dengan kasar. Sudah dia duga jika akhirnya akan jadi masalah begini. Tapi tadi Sean tidak mau dengar, tetap pergi begitu saja tanpa pamit lebih dulu dengan papa Reza.
"Kenapa diam? jawab!" Reza makin menuntut.
"Ma-maaf Pa, tadi kami buru-buru, takut bubur ayamnya habis," kilah Ajeng, hanya itu satu-satunya jawaban yang terlintas di kepala.
"Kalau ingin makan bubur kenapa tidak katakan padaku, kenapa malah minta pada om Ryan?"
"Tadi malam papa Reza tidak ada, bagaimana kami bisa minta?"
"Jadi kamu menyalahkan aku?"
"Ma-maaf Pa," balas Ajeng, dia hampir lupa jika papa Reza tidak pernah salah, dia lah yang paling salah.
"Lain kali, apapun itu katakan padaku langsung. Mengerti?!"
"Ba-baik Pa."
"Paham Pa," balas Ajeng lirih, kini raut wajahnya sudah nampak memelas.
"Ya sudah, aku matikan teleponnya."
"Baik Pa." jawab Ajeng.
Panggilan telepon itu pun akhirnya terputus. Dan Reza langsung mengukirkan senyum tanpa ia sadari. Padahal saat menelepon Ajeng tadi dia terus membentak seolah marah, tapi sekarang malah tersenyum.
Louis yang melihat pemandangan langka itu bahkan langsung mendelik. Bagaimana bisa setelah menelpon Ajeng seolah semua kegundahan pria ini menghilang begitu saja.
__ADS_1
Ajeng?
Benarkah wanita itu Ajeng?
Pengasuhnya Sean?
Loius juga tidak percaya jika wanita yang disukai pak Reza adalah Ajeng. Pengasuh? Beberapa saat pikiran Louis pun jadi ruwet sendiri.
Lalu dia ambil benang merahnya, bahwa yang namanya cinta tak pernah mengenal apapun, status, kasta ataupun kriteria. Jika hati sudah memilih maka siapa pun itu akan tetap terlihat layak, telihat sempurna.
"Mana berkas dari Lukman?" tanya Reza, setelah menghubungi Ajeng kini dia bisa kerja dengan tenang.
Malah Louis yang jadi gagap ...
"Apa Pak?"
"Berkas dari Lukman."
"Ini," balas Louis dengan cepat. Dilihatnya Reza yang benar-benar fokus dalam pekerjaan, tidak seperti beberapa waktu lalu yang banyak melamun.
Jadi Ajeng wanita itu. Yakin Louis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
rekomendasi author:
Judul : Terpaksa Menikahi Selingkuhan Ibu Tiri
__ADS_1
by : M anha