
Hampir jam 8 akhirnya mobil yang dikendarai oleh papa Reza tiba di sekolah.
Sean buru-buru masuk tak ingin terlambat, sementara Ajeng pun mengikuti Sean demi menghindari pria yang nampak aneh ini.
Reza makin tersenyum lebar saat melihat Ajeng berjalan menjauh, dia lalu menatap tangannya yang tadi menggenggam erat tangan gadis pujaannya itu.
"Tangan Ajeng dingin sekali," gumam Reza, Namun rasa dingin itu malah semakin membuatnya sulit untuk melupakan, jadi selalu terkenang.
Sementara itu Ajeng tidak ingin menerka-nerka kenapa sikap papa Reza berubah seperti ini.
Ajeng hanya berpikir bahwa mungkin saja itu wajar, mungkin memang seperti ini lah sikap papa Reza yang sebenarnya.
Bahwa pria tersebut sesungguhnya adalah pria yang baik, tidak galak, mungkin seperti om Ryan.
Setelah pagi tadi papa Reza meminta maaf, kini pria itu benar-benar berubah 180 derajat.
Meski canggung, tapi papa Reza beberapa kali mengajak Ajeng bicara. Apa lagi papa Reza lah yang menjemput Sean pulang jam 10 tadi.
2 orang itu jadi sama-sama kikuk sendiri.
Besok adalah hari minggu dimana acara ulang tahun sekolah Sean akan digelar.
Papa Reza dan Sean adalah yang paling antusias menyambut acara tersebut.
Sedangkan Ajeng berulang kali merasa cemas hatinya, meski tidak tahu apa yang membuatnya cemas seperti itu.
Tapi kedekatan antara papa Reza dan Sean yang tiba-tiba seperti itu benar-benar menimbulkan banyak pertanyaan di kepalanya.
__ADS_1
Dan dari semua pertanyaan itu tidak ada satupun yang dia ketahui jawabannya.
"Ajeng," panggil om Ryan, saat ini Ajeng sedang berada di dapur untuk membuat susu Sean. Setelah makan malam Sean menghabiskan waktunya bersama papa Reza, tapi sebelum jam 9 malam Ajeng akan mengantarkan susu ini untuk sang anak asuh.
"Om Ryan, apa butuh sesuatu? biar aku buatkan," jawab Ajeng.
Semenjak om Ryan pulang dari Jogja beberapa waktu lalu, mereka jadi jarang sekali bertemu.
Meski tinggal di dalam satu rumah tapi selalu tak ada waktu untuk saling bicara. Pokoknya tidak sebanyak dulu pertemuan mereka.
Itu bukan tidak sengaja, tapi memang Ajeng menghindari. Karena dia sedang menata hatinya lagi.
"Tidak, aku hanya ingin bilang besok Rilly mengajak kita semua memakai baju berwarna biru, warna kesukaan Sean. Apa kamu punya baju warna biru?" tanya om Ryan, suaranya begitu lembut, belum lagi tatapannya yang teduh.
Memang selalu menenangkan untuk dilihat dan didengarkan.
"Ada Om, aku ada baju warna biru," jawab Ajeng kemudian.
Mendengar jawaban itu Ryan pun tersenyum. Dia lantas mengeluarkan tangan kanannya yang sejak tadi bersembunyi di belakang pinggang.
Ryan ternyata membawa sebuah paper bag.
"Ini untukmu, baju berwarna biru yang besok bisa kamu pakai," ucap om Ryan.
Ajeng tercengang, mulutnya sedikit menganga. Dia pun tidak langsung menerima paper bag tersebut. Sampai Ryan harus meletakkannya lebih dulu di atas meja.
Ryan tidak ingin ada penolakan, Jadi sebelum Ajeng menjawab apapun dia putuskan untuk pergi dari sana dengan bibir yang tersenyum.
__ADS_1
"Ya Allah, baju," gumam Ajeng Setelah dia sendirian di sini. Susu Sean yang sudah dia buat agak didorong menjauh, lalu dia mengambil paper bag itu dan dibuka isinya, benar-benar ada baju berwarna biru di dalam sana. Bukan kaos, melainkan gaun yang sangat indah, tingginya selutut Ajeng. Gadis itu memang suka menggunakan rok rok sepanjang itu.
"Ini terlalu bagus," gumam Ajeng, sedikitpun dia tidak merasa senang menerima pemberian ini, malah merasa beban.
Dengan bibir yang mengerucut, Ajeng pun berlari meletakkan paper bag tersebut di dalam kamarnya. Lalu segera membawa susu milik Sean menuju kamar bocah tersebut.
Tiba di sana dia langsung disambut oleh tatapan 2 pria berbeda generasi, papa Reza dan Sean.
Glek! Ajeng menelan ludah, tatapan Sean memang tidak salah, tapi tatapan papa reza membuat dia salah tingkah.
Jangan sampai hatiku berantakan lagi. Yang kuat Jeng! Semangat!!
Apalagi tentang genggaman tangan mereka, selalu Ajeng ingat tiap menit. Tangannya jadi selalu terasa kebas.
"Mbak Ajeng, sini deh!" panggil Sean dengan antusias. Sean dan papa Reza sedang duduk bersama di atas ranjang.
Ajeng lantas menghampiri dan meletakkan susu yang dia bawa di atas nakas.
Dia berdiri di tepi ranjang.
"Besok kita semua pakai baju berwarna biru, ini baju untuk mbak Ajeng," jelas Sean.
Ajeng kembali tercengang, baju lagi baju lagi, pikirnya.
"Kita pakai baju couple, aku, mbak Ajeng dan papa Reza akan pakai kaos ini," terang Sean lagi, kedua matanya berbinar saat mengatakan itu.
Dan Ajeng hanya mampu tergugu, lagi-lagi menelan ludah dengan susah payah.
__ADS_1