
Reza membawa Ajeng untuk menuju dapur, hanya kesana lah tempat yang terpikirkan olehnya.
Dia berjalan dengan langkah kaki lebar, terus menarik Ajeng agar mengikuti langkahnya.
Dan Sean mengintil di belakang kedua orang tuanya tersebut. Eh salah, maksudnya bukan kedua orang tua, tapi di belakang papa dan calon mama.
Sean memang merasa sangat bersalah karena telah melukai Mbak Ajeng-nya, tapi entah kenapa dia pun merasa bahagia ketika melihat melihat mbak Ajeng kesakitan begini.
Diam-diam Sean tersenyum melihat sang ayah menggandeng tangan mbak Ajeng dan dibawa ke dapur.
"Ambil kain bersih, beri es batu, kening Ajeng harus dikompres," tita Reza pada salah satu pelayan yang dia temui di dapur, Reza pun segera membawa Ajeng untuk duduk di kursi meja makan.
Gadis itu masih menangis menahan sakit di keningnya. Nyut-nyutan yang terasa begitu jelas.
Tapi sebenarnya tangisan Ajeng bukan sepenuhnya karena sakit di kening, melainkan juga sakit di dalam hatinya.
Juga malu ketika semua orang melihat dengan jelas saat dia kepentok lato-lato sampai keningnya benjol.
Entahlah, sekarang perasaan Ajeng campur aduk. Jadi dia hanya bisa menangis.
Tak butuh waktu lama, seorang pelayan memberikan apa yang diminta oleh papa Reza. Meletakkannya di atas meja.
"Diam lah, kalau kamu menangis terus bagaimana bisa aku mengobati?!" ucap papa Reza, suaranya semakin dingin dan sedikit membentak. Membuat Ajeng dalam sekejap menghentikan tangis.
Deg! kini diganti jantungnya yang berdedak seperti genderang mau perang.
Baru sadar jika sejak tadi dia dekat sekali dengan pria menyeramkan ini.
Deg!
"Ya, diam begitu," kata papa Reza.
Ajeng seketika seperti sebuah patung, dia hanya diam dan duduk kaku.
__ADS_1
Sementara papa Reza segera mengambil tissue dan menghapus air mata aja yang lebih dulu.
Deg deg, deg deg! Ajeng jadi merasa tidak aman.
Dan setelahnya Reza pun mengambil kain bersih dan es batu itu, menempelkannya tepat di pinggiran kening Ajeng yang benjol.
"Aduh!" Ajeng kaget.
"Kenapa? sakit?" tanya papa Reza, dia bahkan menarik tangannya lagi agar menjauh dari kening itu.
"Di-di-di-dingin," balas Ajeng gagap.
Sean ingin sekali tertawa saat itu juga, tapi susah payah dia tahan. Sebagai tersangka yang sudah melukai Mbak Ajeng dia tidak boleh banyak bicara.
Reza pun kembali mengompres kening Ajeng, membuat Jarak di antara mereka terasa semakin dekat saja.
Dan makin lama Ajeng pun tidak bisa mengendalikan kegugupannya sendiri. Jarak ini terlalu dekat, dia bahkan bisa menatap dengan lekat wajah tampan Papa Reza.
kedua matanya terus berkedip dengan cepat, juga berulang kali menelan ludahnya sendiri dengan kasar.
Lama-lama Reza merasa terganggu dengan kedua mata Ajeng yang terus saja berkedip-kedip seperti itu.
"Apa mata mu tidak bisa diam?" tanya papa Reza, sebuah pertanyaan yang terdengar seperti perintah.
Tapi Ajeng tidak bisa menghentikan kedipan matanya begitu saja, karena bingung harus bagaimana Jadi Ajeng pilih untuk menutup kedua matanya dengan cepat.
Blam! seketika kini pandangan Ajeng jadi menggelap, tapi dia bersyukur karena tidak lagi melihat wajah Papa Reza yang berada tepat di hadapannya.
Ajeng tidak lihat, saat dia menutup kedua mata seperti itu. Reza langsung teringat dengan adegan paling familiar. Dimana ketika berciuman, para wanita akan selalu menutup matanya seperti ini.
Deg! jantung Reza berdegup. entah sudah berapa lama dia tidak merasakan yang namanya bibir wanita.
Ayo Rez, cium lah bibir seperti buah Cherry itu. Bisik hati Reza.
__ADS_1
Pria itu bahkan langsung menatap bibir Ajeng dan menelan ludahnya dengan kasar.
Jangan Za! istighfar!! teriak hati Reza yang lain.
Karena tidak fokus, Reza menekan memar di kening Ajeng dengan sedikit kuat...
"Awh!" pekik Ajeng, wajahnya meringis menahan sakit, namun kedua matanya tetap terpejam erat.
Tapi Ajeng reflek memegang kaki papa Reza di hadapannya. Bahkan sedikit mencengkeram hingga ada gelayar aneh yang papa Reza rasakan menjalar pada tubuhnya.
Sadar jika salah pegang, Ajeng buru-buru menarik tangan.
"Ma-ma-maaf Pa," ucap Ajeng gagap, matanya mulai bergerak-gerak hendak terbuka.
Dan rasanya Reza begitu ingin membuat mata itu kembali terpejam dengan sebuah ciuman ...
Namun, keinginannya buyar ketika mendengar suara pelaku kekerrasan itu buka suara...
"Sudah selesai belum Pa?" tanya Sean.
Semua debar, semua gelayar aneh pada papa Reza seketika hilang.
Pikirannya yang jernih pun kembali, bersama sikapnya yang dingin.
"Sudah, setelah ini minumlah Paracetamol. Obat itu akan membuat rasa nyeri mu mereda," terang papa Reza.
Ajeng pun membuka matanya, melihat papa Reza yang bangkit lebih dulu.
Lalu pergi meninggalkan dia dan Sean disini.
Ajeng juga melihat saat punggung itu menjauh.
Huh, Alhamdulillah. Batinnya. Papa Reza memang telah menyelamatkan dia, tapi tetap saja pria itu selalu membuatnya takut.
__ADS_1