
"Pa, Oma Putri sudah datang," ucap seorang pelayan memberikan laporan.
Jangan lupa kalau di depan Sean semua orang harus memanggil Reza dengan sebutan papa. Peraturan tersebut belum diubah sampai saat ini.
Dan Ajeng yang mendengar laporan itu, langsung berdenyut hatinya. Sesak sedikit di dadda dan kemudian jantungnya berdegup kencang.
"Ayo," ajak papa Reza.
Sementara Sean sudah berlari lebih dulu menuju ke luar, sudah sangat merindukan sang oma.
"Tidak usah takut, apa mau ku genggam tangannya?" tanya papa Reza saat melihat Ajeng masih bergeming.
"Papaaa, jangan begitu."
Reza terkekeh pelan, "Kalau begitu ayo," ucapnya lagi.
Mau tidak mau Ajeng pun harus mengikuti langkah kaki papa Reza sampai akhirnya mereka bertemu dengan Oma Putri dan om Ryan di ruang tengah.
Ajeng langsung menundukkan wajahnya, sungguh, saat ini dia takut luar biasa. Sementara Reza tersenyum dengan sangat lebar.
Sebuah pemandangan kontras dari apa yang selama ini terjadi.
Senyum Reza itu terlihat sangat aneh, pasalnya Oma Putri sendiri sampai lupa kapan terakhir anak pertamanya itu tersenyum dengan begitu lebar seperti itu.
Sementara Ajeng, gadis ceria itu kini mendadak jadi pendiam seribu bahasa, bahkan terkesan takut.
"Ma," sapa Reza, dia ingin salim pada ibunya tersebut. Tapi Oma Putri malah melewati dia dan langsung memeluk Ajeng.
Deg! jantung Ajeng makin berdegup tak kala mendapati pelukan Oma Putri. Kedua matanya mendelik dan berbinar-binar karena ada cairan bening yang mulai diproduksi.
__ADS_1
Belum apa-apa Ajeng sudah ingin menangis.
"Oma," lirih Ajeng.
"Sini sini sini, jelaskan pada Oma apa yang sebenarnya terjadi," jawab Oma Putri, dia membawa Ajeng untuk langsung masuk ke dalam kamarnya.
Tak peduli jika anak dan cucunya sendiri bingung melihat kelakuan sang Oma.
Sementara Ajeng hanya mampu mengikuti kemanapun Oma Putri menariknya.
Tapi Reza cukup paham, ketimbang bertanya padanya, Oma Putri lebih pilih untuk langsung bertanya lada Ajeng.
Pria berwajah dingin itu hanya berharap, semoga saja di dalam sana Ajeng bicara bahwa Ajeng pun mencintai dia.
Ya Allah, ucap papa Reza di dalam hati.
Di dalam kamar Oma Putri, mereka berdua langsung duduk di tepi ranjang.
"Maaf kenapa?" balas Oma Putri dengan cepat, bahkan sebelum Ajeng menyelesaikan kalimatnya yang gagap.
"Sekarang katakan, apa benar Reza menyatakan cintanya pada kamu?" tanya Oma Putri lagi.
Ajeng sungguh kesulitan untuk menjawab, kenapa pertanyaan itu tidak ditanyakan langsung saja pada papa Reza.
"Oma kaget sekali mendengar kabar ini Jeng, seperti tidak bisa dipercaya," terang Oma Putri, karena Ajeng hanya diam dia jadi punya kesempatan untuk mengungkapkan isi hatinya.
Bahkan saking tidak percayanya, Oma Putri belum menceritakan tentang hal ini pada sang suami. Dia pamit kepada kakek Agung untuk pulang sebentar melihat anak-anak, tidak lebih.
Dan mendengar tiap kalimat Oma Putri, membuat Ajeng semakin ketakutan. Seperti hendak tiba di pembicaraan bahwa dia harus sadar diri.
__ADS_1
"Oma bersyukur saat tau bahwa kamu adalah wanita pilihannya Reza," ucap Oma Putri.
Kalimat yang membuat kedua mata Ajeng kembali mendelik, namun kali ini air mata itu jatuh begitu saja. Dia dan Oma Putri saling tatap dalam diam, sebelum akhirnya Ajeng kehilangan keberanian untuk membalas tatapan itu dan pilih menunduk.
"Rilly sudah menjelaskan semuanya pada Oma. Sekarang yang Oma cemaskan itu kamu sayang, benar kamu bersedia menerima Reza, semua kekurangan dia dan juga Sean."
Ajeng makin menangis saat mendengar ucapan Oma Putri tersebut, bahkan kini sesenggukannya terdengar semakin jelas.
Oma Putri mengelus pundak Ajeng dengan lembut, bukannya berniat menekan Ajeng. Tapi dia ingin mendengar langsung kesiapan Ajeng.
Dengan begitu Oma Putri bisa memikirkan langkah selanjutnya.
"Oma, a-aku minta maaf. Ta-tapi aku sendiri bingung mau bagaimana. Ti-tiba-tiba Sean memanggil ku Mama dan papa Reza terus bicara tentang cinta. Ta-tapi aku selalu berdebar tiap kali berhadapan dengan papa Reza. Maaf Oma, maafkan aku."
Oma Putri langsung memeluk Ajeng saat itu juga.
"Tidak perlu meminta maaf Jeng, Oma yang harusnya berterima kasih padamu. Kamu bukan hanya merubah Sean jadi lebih baik, tapi kamu juga merubah Reza untuk bisa melanjutkan hidupnya, menemukan kebahagiaannya. Sudah, jangan menangis."
"O-oma tidak marah? tidak akan memecatku?"
"Tentu saja harus dipecat, lalu dilamar lagi untuk jadi menantu di keluarga ini."
Tangis Ajeng makin pecah saja, makin terasa ini semua hanya mimpi.
Pintu kamar itu kemudian terbuka dan berdiri Sean serta papa Reza disana.
Sean langsung berlari masuk dan memeluk mama Ajengnya.
Melihat mama Ajeng menangis sampai seperti itu, Sean pun jadi ikut menangis juga.
__ADS_1
Reza yang juga masuk hanya mampu menatap dengan hati yang entah, berdebar, menghangat, bingung, sangat ingin memeluk Ajeng juga.