
Bismilahirohmanirohim, batin Reza, mengucap basmalah sekali lagi di dalam hatinya.
Sebelum akhirnya dia mulai mengikis jarak dan menjangkau bibir sang istri dengan begitu lembut.
Reza melumaatnya dengan hati-hati, seperti sedang memakan ice cream agar tidak rusak.
Sementara Ajeng langsung menutup kedua matanya rapat-rapat, merasakan tubuhnya yang berdesir dan mendadak kaku.
Ajeng hanya mampu mengepalkan kedua tangannya sendiri untuk menahan semua hasrat yang nyaris membuncah.
Sentuhan lembut yang membuatnya seperti melayang ke langit ketujuh.
Emh! lenguh Ajeng tanpa sadar, suara merdu itu seperti lolos dengan sendirinya dari mulut dia. Sementara Reza terus melumaat sampai berhasil menelusupkan lidahnya masuk lebih dalam.
Ahk! desah kecil itu lolos lagi.
Sumpah, Ajeng tidak merencanakannya. Desahaannya keluar sendiri tanpa dia perintah. Saking hanyutnya dalam ciuman itu, dia tidak sadar saat Reza mulai melepas kancing baju tidurnya.
Sadar-sadar, bajunya sudah terbuka. Dingin AC langsung menerpa kulitnya yang tidak tertutup baju.
Wajah Ajeng sudah merah sekali.
__ADS_1
Ketika mas Reza melepaskan ciuman mereka dan kembali mengambil jarak.
Kembali menatap tubuhnya yang siap dibuat polos.
"Aku lepas ya?" tanya Reza dengan suaranya yang berat, menunjuk pada bra berwarna hitam yang dipakai oleh sang istri.
Ajeng hanya mampu mengangguk, dosa kalau sampai dia menolak.
Saat tangan Reza menelusup ke punggungnya, Ajeng pun membusungkan dadda tersebut, memberi celah agar sang suami lebih mudah untuk melepaskan pengaitnya.
Sampai akhirnya mas Reza membuang bra itu kesembarang arah.
Menunjukkan daddanya yang sintal dengan ujung yang sudah menegang.
Ahk! Desaah Ajeng, kembali lolos saat akhirnya mas Reza mengulum salah satu daddanya. Sementara tangannya yang lain meremaas dengan lebih kuat.
Desaahan Ajeng jadi semakin kuat, untungnya kamar ini sudah dipasang kedap suara. Jika tidak, bisa dipastikan semua orang akan mendengar suara merdunya itu.
Diantara semua sentuhan itu, sesekali mereka saling tatap. Sama-sama menatap penuh cinta dan siap memulai semuanya.
Cahaya yang nampak terang di dalam kamar ini, semakin menambah kesan panas.
__ADS_1
Ajeng bahkan menjerit kecil saat melihat tubuh papa Reza yang polos, dadda yang kotak-kotak dan senjata yang begitu besar siap menyerangnya.
"Mass," lirih Ajeng, kedua kakinya sudah menekuk dan terbuka lebar, sementara papa Reza berada di posisinya siap menusuk.
"Aku akan pelan-pelan sayang," balas Reza.
Setelahnya Ajeng kembali memejamkan mata, mulutnya menganga saat merasakan sesuatu dibawah sana mulai coba untuk membobolnya.
Dan entah dipercobaan keberapa, akhirnya senjata tumppul itu pun masuk dengan sempurna. Masuk sepenuhnya.
Ahk! pekik Ajeng.
Papa Reza terdiam sesaat, saling membiasakan diri dengan penyatuan ini. Sama-sama merasakan hal yang sangat luar biasa.
Reza dijepit dengan sangat nikmat, sementara Ajeng rasanya begitu mengganjal namun lama-lama membuatnya ketagihan.
Awalnya memang sakit, namun tak bisa dipungkiri dia ingin suaminya mulai bergerak.
"Ayoh Mas, akuh sudah siap," ucap Ajeng diantara suaranya yang mulai terengah-engah.
Reza tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mulai bergerak keluar masuk.
__ADS_1
Dan detik itu juga dessah Ajeng jadi makin sering keluar. Ahk ahk ahk ahk, sesuai irama pergerakan Reza.
Seperti lagu yang membuat Reza jadi semakin beriingas menikmati manisnya tubuh sang istri.