
Pagi.
"Der, kamu ingat ya, jaga Istri ku baik-baik. Aku tidak akan membatasi Ajeng untuk melakukan apa pun, bahkan jika dia bertemu dengan Mona juga tidak masalah. Tapi kalau sampai Ajeng terluka, kamu yang akan aku salahkan," titah papa Reza pada sang supir, Deri.
Sebuah perintah yang terdengar sangat sulit, bahkan belum apa-apa sudah berhasil membuat kening Deri mengeluarkan keringat dingin.
Glek! Deri menelan ludahnya dengan kasar. Dia tidak punya pilihan untuk menolak, satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah patuh.
"Baik Pak," jawab Deri.
"Bagus." Setelah mengatakan itu, papa Reza kembali masuk ke dalam rumah. Memanggil anak dan istrinya untuk segera pergi.
Tapi di ruang tamu, langkahnya terhenti ketika berpapasan dengan sang adik, Ryan.
"Mas, duduk dulu, ada yang ingin aku bicarakan," ucap Ryan. Mereka semua sudah selesai sarapan, sekarang hanya tinggal bersiap untuk pergi ke tujuan masing-masing.
Reza pun menyanggupi permintaan adiknya tersebut, mereka berdua duduk di kursi ruang tamu.
"Ada apa?" tanya Reza langsung, raut wajahnya seketika berubah datar. Sama dinginnya seperti wajah om Ryan.
"Aku akan keluar dari rumah Mas, mulai besok aku akan tinggal sendiri," jelas Ryan langsung.
Kalimat itu tentu membuat Reza terkejut.
Sampai akhirnya Ryan menjelaskan kenapa dia harus pergi. Ryan memutuskan untuk membuat cabang baru perusahaan Aditama, yaitu Aditama Air, perusahaan yang bergerak di bidang penerbangan pesawat Jet antar kota di negara ini.
__ADS_1
Ryan tidak akan bekerja sendiri, dia akan bekerja degan Harold Kingdom, perusahaan penerbangan yang telah lebih dulu berjaya.
Satu per satu Ryan jelaskan pada sang kakak, begitu rinci. Begitu banyak waktu yang dia butuhkan untuk fokus tentang pembangunan perusahaan baru tersebut.
Di akhir Ryan juga mengatakan jika dia telah meminta izin pula pada Oma Putri dan kakek Agung, dan sudah mendapatkan restu.
Papa Reza masih terdiam, masih memikirkan semuanya.
"Jadi pekerjaan mu di perkebunan bagaimana?" tanya Reza. Bagaimana pun ini adalah bisnis dari kakek Agung, sudah jadi tanggung jawab mereka untuk menjaga dan mengembangkannya.
"Rilly siap ambil tanggung jawab itu Mas," jawab Ryan, apa yang dia rencanakan kali ini sudah sangat matang. Karena itulah sudah ada solusi dari semua masalah yang mungkin terjadi.
"Kamu serius tinggal sendiri?" tanya Reza lagi.
Papa Reza tidak bisa menjawab apa-apa lagi. Tapi sungguh, pria itu sama sekali tidak mengira jika alasan sebenarnya Ryan pergi adalah karena pernikahannya.
Reza benar-benar berpikir jika ini semua karena cita-cita Ryan sendiri, ingin membangun sebuah perusahaan penerbangan dengan Mama Aditama.
"Baiklah, pamit dulu pada Sean dan mbak mu," ucap Reza.
Kali ini Ryan hanya bisa mengangguk. Kembali dihadapkan dengan Ajeng sungguh membuatnya lemah.
Dan tak lama setelah Reza berucap seperti itu, sayup-sayup mereka pun mendengar suara Sean dan mama Ajeng mendekat.
"Ayo Pa," ajak Sean dengan antusias.
__ADS_1
"Sini duduk dulu," panggil papa Reza.
Ajeng dan Sean duduk berdampingan.
"Om Ryan akan pergi dari rumah ini, mulai hari ini om Ryan akan tinggal di rumahnya sendiri." terang papa Reza.
Sean dan mama Ajeng terkejut, sangat terkejut.
"Kenapa?!" tanya Sean dengan nada tidak terima.
"Ada pekerjaan sayang, tapi kan cuma rumah yang pindah, kita masih bisa sering bertemu," jelas om Ryan. Sebenarnya begitu berat untuk pergi dari rumah ini.
Tapi kepergiannya ini jelas demi kebaikan semua orang. Ryan tak ingin perasannya sendiri kelak justru menganggu rumah tangga sang kakak.
Lebih baik dia pergi.
Sean sudah menangis dan Ajeng hanya mampu menatap nanar. Meski tak ada lagi sedikit pun perasaaan pada pria itu, tetap saja Ajeng merasa bersedih.
"Mbak, aku pamit ya?" pamit Ryan, bicara dengan tenggorokannya yang tercekat. Kini dia harus memanggil gadis mungil itu dengan sebutan Mbak.
Ajeng hanya bisa mengangguk, tak bisa bicara apa-apa.
Sesaat tatapan mereka bertemu dengan intens, sebelum Ajeng memutus lebih dulu untuk menatap sang anak.
"Sean, sudah dong nangisnya," pinta Ajeng.
__ADS_1