Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 149 - Pasti Punya Maksud


__ADS_3

Saat ini waktu sudah menunjukkan jam 9 malam. Sean juga sudah mulai mengantuk, dia tidur di tengah diantara kedua orang tuanya.


Papa Reza membacakan sebuah buku dongeng tentang Gajah, hewan yang bermigrasi secara musiman bergantung pada ketersediaan makanan dan air. Ingatan atau memori Gajah sangat kuat, mereka mampu mengingat lokasi pasokan air di sepanjang rute yang dilewati.


Sean mendengar dengan baik, sementara mama Ajeng terus mengelus punggungnya dengan lembut.


Sampai ketika cerita itu habis, Sean pun benar-benar terlelap. Saat suara papa Reza berhenti bicara, hanya terdengar dengkuran halus sang anak.


Papa Reza tersenyum, tidurnya Sean berarti kini waktunya dia bersama dengan sang istri. Pria itu bahkan langsung beranjak dari posisi duduknya dan segera berpindah di samping sang istri.


Ranjang itu begitu luas, sebelum resmi mempersunting Ajeng dia telah merenovasi ranjangnya hingga cukup dipakai untuk 5 orang. Sean akan tetap Aman meski kini papa Reza berpindah di samping mama Ajeng.


Menjadikan mama Ajeng jadi ditengah.


Reza langsung memeluk tubuh istrinya erat, meletakkan lengannya untuk jadi bantalan sang istri.


"Maass, jangan berisik," bisik Ajeng, papa Reza bergerak terus dan Ajeng takut membangunkan Sean.


Tapi Reza tidak peduli dengan ucapan Istrinya tersebut, dia tetap fokus ndusel-ndusel, mencari kenyamanannya sendiri. Sampai akhirnya dia nyaman ketika menyandarkan kepalanya di dua dadda milik sang istri.


Nyaman sekali, empuk-empuk enak.


"Maass," lirih Ajeng, banyak sekali ulah suaminya ini.


Dan mendengar teguran istrinya yang kedua, akhirnya Reza diam, seolah sudah bersiap untuk tidur.


Ajeng lantas mengelus puncak kepala suaminya, kepala yang berada tepat di bawah dagunya.

__ADS_1


"Mas, ada yang mau aku bicarakan," ucap Ajeng, bicara dengan nada bicara yang pelan. Jangan sampai menganggu tidur sang anak.


Ini tentang kedatangan Mama Mona tadi pagi. Pikirannya papa Reza harus tau.


Mengingat yang terjadi di masa lalu, tentang bagaimana marahnya papa Reza ketika membahas tentang mama Mona, membuat Ajeng jadi ingin jujur. Lebih baik tau sekarang, atau nanti malah tau dari orang lain.


Sebenarnya Ajeng masih sangat takut, tapi melihat papa Reza yang manja seperti ini membuat Ajeng bisa berani.


Dan mendengar istrinya mau bicara, papa Reza pun langsung mendongak, langsung membalas tatapan sang istri.


"Hem, bicara apa? mau annuu?"


Hii! Ajeng yang gemas langsung mencubit perut pria ini, sampai papa Reza menggeliat merasa geli.


"Awh, geli sayang," rengek papa Reza, harus bicara pelan-pelan meski rasanya ingin bicara keras.


"Lalu apa? Hem?" tanya papa Reza pula, melihat istrinya yang nampak serius, dia pun ikut serius juga. Tapi tetap saja mendekap dengan erat.


"Tadi mama Mona datang ke sekolah Sean," ucap Ajeng.


Dan setelahnya dia pun menceritakan semua kejadian seperti apa yang diceritakan oleh Sean tadi siang.


Sedikit ditambah-tambahi, mengatakan bahwa kali ini mama Mona datang dengan niat baik.


Bagaimanapun mama Mona adalah ibunya Sean, jelas mama Mona pasti menyayangi anaknya dengan tulus.


Papa Reza awalnya hanya mendengarkan saja, namun disaat istrinya selesai bicara, barulah dia menanggapi.

__ADS_1


Sambil membelai lembut wajah istrinya, papa Reza bicara ...


"Kalau kamu ibunya, aku bisa percaya jika Mona datang dengan tulus. Tapi karena dia adalah Monalisa, aku tau pasti dia punya maksud," jawab papa Reza.


Sebuah jawaban yang membuat Mama Ajeng menelan ludahnya sendiri dengan kasar.


Cup! papa Reza mengecup bibir Istrinya sekilas. Berusaha membuang rasa cemas yang mulai tergambar jelas di wajah Ajeng.


"Apa besok mama Mona akan menemui Sean lagi ya?" tanya Ajeng pula.


Cup! papa Reza mencium lagi.


"Tidak tahu, kamu ingin memastikannya?" tanya papa Reza.


Ajeng mengangguk.


Cup!


"Mass."


"Tunggu di mobil bersama Deri, lihat dari jauh," ucap papa Reza pula.


Belum sempat Ajeng menjawab, bibirnya lagi-lagi dicium.


Cup!


Emhh!

__ADS_1


__ADS_2