
Dan di sinilah kini Reza berdiri, di samping ranjang sang anak dan melihat Sean Ajeng tidur bersama.
Sebelum masuk ke dalam kamarnya sendiri, Reza selalu melihat Sean lebih dulu.
Saat ini Waktu sudah menunjukkan hampir jam 10 malam.
Reza menikmati hatinya yang berdebar tak kala menatap wajah Ajeng yang tertidur lelap. Selalu ada rasa yang tidak Reza tau namanya apa.
Bahkan bersama Mona pun tidak pernah dia rasakan debar yang seperti ini.
Malam membingungkan itu pun akhirnya berlalu.
Reza berharap setelah tidur, pagi ini dia akan bangun dengan pikiran yang lebih jernih. Tidak lagi memikirkan Ajeng dengan semua kecantikan yang dimiliki oleh wanita tersebut.
Reza menginginkan hidupnya yang seperti dulu, tenang tanpa terpengaruh apapun.
"Bagus, teruslah jernih seperti ini," gumam Reza. Dia segera beranjak dari ranjang dan segera menuju kamar mandi.
Di kamar Sean bocah itu pun segera bersiap untuk pergi ke sekolah. Ajeng sudah menemani sejak tadi.
Kemarin Ajeng dan Sean sudah sepakat bahwa pagi ini mereka akan pergi dengan om Ryan. Jadi mereka tidak akan menunggu-nunggu kedatangan papa Reza.
__ADS_1
Papa Reza bahkan pergi semuanya tanpa pamit, Sean pun ingin balas dendam hal yang serupa.
Pagi-pagi sekali dia pergi dengan om Ryan dan biar pelayan saja yang memberi tahu papa tentang kepergiannya.
Om Ryan, Sean dan Ajeng bahkan memutuskan untuk sarapan di luar. Mereka membeli bubur ayam di pinggir jalan pagi itu.
Duduk bersama di dalam kedai yang tersedia.
"Emm, enak sekali, aku suka telur puyuh ini," ucap Sean.
"Kalau kamu suka apanya Jeng?" tanya Om Ryan, jelas pertanyaan itu tertuju untuk Ajeng.
"Hati ayam ini Om," balas Ajeng apa adanya, dia memang suka sekali hati ayam itu dibanding yang lain.
Sementara itu di rumah.
Reza setelah selesai bersiap dia langsung mendatangi kamar sang anak. Tapi Sean tidak ada di sana.
Mungkin dia sudah turun lebih dulu. pikirnya.
Reza lantas keluar dan segera menuju meja makan. Tapi ketika tiba di sana dia pun tidak melihat siapa-siapa.
__ADS_1
Menoleh ke kiri dan ke kanan namun tetap tidak menemukan Sean dan Ajeng dimana pun.
"Dimana Sean?" tanya Reza akhirnya, dia bertanya pada bi Asmi yang ada di dapur.
"Sean sudah pergi bersama om Ryan dan Ajeng Pak," jawab pelayan tersebut.
Reza mengerutkan dahi.
"Kenapa pagi sekali? kenapa mereka tidak pamit padaku?"
"Maaf Pak, om Ryan ajak mereka sarapan bubur ayam jadi di luar jadi perginya pagi-pagi. Dan kata Sean, pamit dengan bibi sama saja, toh nanti disampaikan pada pak Reza," jelas bi Asmi, memang seperti itulah ucapan Sean ketika pamit tadi.
Ucapan yang sama seperti apa yang Reza ucapkan semalam, dia tidak pamit pada Sean dan hanya pamit pada pelayan, kata Reza sama saja, toh nanti pelayan tersebut juga menyampaikan pesannya kepada sang anak.
Dan mendengar jawaban bi Asmi tersebut, hati Reza seperti tercubit. Karena nyatanya dia tidak terima jika pamitnya di titip-titipkan seperti ini.
Dia ingin Sean dan Ajeng selalu pamit secara langsung.
Pagi itu Reza jadi tidak punya selera untuk sarapan, apalagi ketika melihat di meja makan begitu sepi, bahkan Rilly belum turun.
Reza memutuskan untuk langsung pergi ke kantor tanpa sarapan lebih dulu.
__ADS_1
Dan selama kerja dia jadi terus kepikiran Ajeng dan Sean. Seperti ada momen yang hilang dalam agenda hariannya.