
"Paham!" jawab semua pelayan, sekarang ini mereka seperti sedang menggelar rapat dadakan di dapur.
Bi Asmi tidak ingin salah bicara dan malah memperkeruh keadaan, apalagi Oma Putri dan kakek Agung sedang tidak ada di rumah, jadi sebisa mungkin dia pun mengambil kendali untuk ketenangan di rumah ini.
Setelah menjelaskan hal tersebut, bi Asmi pun memerintahkan para pelayan untuk mulai bekerja sesuai dengan tanggung jawabnya masing-masing, sementara dia dengan segera menuju kamar Ajeng untuk mengemas baju-baju gadis tersebut.
Tak ada yang salah tentang hal ini, hanya status Ajeng yang berubah. Dari pengasuh yang derajatnya sama dengan para pelayan yang lain, kini naik jadi calon istri sang majikan. Maka wajar saja jika Ajeng diperlakukan istimewa.
Sama seperti saat Diandra main kesini, sebagai kekasihnya Ryan para pelayan pun menghormati Diandra juga.
Di lantai 2.
Ajeng dan Sean keluar dari dalam kamar papa Reza, mereka menuju kamar Sean. Bocah itu harus mandi sore.
"Mama jangan canggung lagi, anggap saja kamar papa itu sekarang adalah kamarnya Mama," ucap Sean. Kini dia sudah mandi, sedang berdiri di hadapan mama Ajeng yang mengeringkan rambutnya.
"Memangnya kamu tidak aneh Sean, panggil mama mama mama mama seperti itu," tanya Ajeng, masih saja menganggap jika dia adalah pengasuhnya Sean.
"Tidak, mama mama mama ku adalah mama Ajeng," balas Sean, malah bersenandung dibuat jadi lagu. Lalu tertawa sendiri, sementara Ajeng mencebikkan bibirnya kesal. Juga menarik hidung Sean dengan gemas.
"Maaf ya Ma, kalau ini kesannya buru-buru. Tapi aku dan Papa Reza punya perasaan yang begituuuuu tulus," rayu bocah itu lagi.
__ADS_1
Sampai berhasil membuat bibir Ajeng yang cemberut kini jadi tersenyum.
Pembicaraan mereka kemudian terputus saat mendengar pintu kamar itu terbuka, papa Reza berdiri di sana.
Lalu masuk menghampiri keduanya.
Jantung Ajeng kembali berdenyut tak karuan, berdebar tiap kali berhadapan dengan pria itu.
Papa Reza menarik kursi dan duduk di hadapan Ajeng, di tengah-tengah mereka ada Sean yang berdiri.
Saat Rilly mengantarkan koper pakaiannya tadi, sang adik memarahi dia.
Mengatakan jika dia terlalu terburu-buru untuk mengikat Ajeng, sementara gadis itu masih gamang. Masih belum percaya dengan perasaan Reza.
Ajeng masih begitu polos, dia tak ingin mengecewakan Oma Putri dan semua keluarganya, andai ada skandal seperti ini. Pengasuh dan majikan.
Rilly bahkan sampai memohon-mohon pada Reza untuk bersikap tenang, jangan menggebu dan memberi kesempatan Ajeng untuk menerima semua perubahan ini.
Tadi saat Rilly marah-marah seperti itu, Reza hanya diam saja.
Setelah dia mandi dan bersih, pikirannya pun jadi semakin jernih, Reza membenarkan semua ucapan sang adik.
__ADS_1
Kini dia menghadap Ajeng untuk bicara pelan-pelan pada gadis tersebut.
"Ajeng, maaf ya kalau hari ini aku terlalu banyak mengejutkan kamu," ucap papa Reza.
Ajeng terdiam, sedang menenangkan hatinya sendiri yang berdegup kencang.
Sean juga diam, senyum-senyum sendiri melihat interaksi keduanya. Seperti ini saja Sean sudah merasa bahwa di memiliki keluarganya yang lengkap.
"Anggap saja kita sedang taaruf, punya niat yang sama untuk menikah demi kebaikan semuanya. Aku masih sendiri dan kamu pun begitu, jadi mau kan kamu memulai semuanya denganku?" tanya papa Reza pula. Suaranya lembut sekali, mengalahkan hembusan angin sore itu yang cukup kencang di luar sana.
Dan mendengar kalimat manis tersebut, Ajeng menelan ludahnya dengan kasar, jantungnya makin berdegup tak karuan.
Ucapan Papa Reza memang tidak ada salahnya, jika tanpa memandang status mereka memang bisa bersama. Tapi tiap ingat kasta, Ajeng selalu merasa tak pantas.
"Ta-tapi Pa, a-aku kan cuma pengasuhnya Sean, mu-mu-mungkin papa cuma salah mengartikan. Mu-mungkin_"
"Ajeng." potong papa Reza hingga menghentikan ucapan Ajeng yang putus-putus.
"Maaf, karena aku pernah mengatakan hal ini, tentang kamu yang harus sadar diri dan bahkan tak layak berkhayal jadi mamanya Sean, maafkan aku, aku benar-benar minta maaf untuk itu." Papa Reza mengambil jeda, sebelum akhirnya kembali buka suara ...
"Tapi percayalah, bahwa Tuhan tidak pernah melihat seseorang dari hartanya, statusnya, bahwa hati tidak bisa memilih untuk jatuh cinta dengan siapa. Dan kamu adalah pilihan hatiku, pilihannya Sean. Kamu adalah pilihan kami berdua."
__ADS_1
"Benar!" balas Sean ikut-ikut.