Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 78 - Tidak Mundur


__ADS_3

Tubuh Ajeng sudah gemetar, tapi dia tetap berlari mengikuti langkah papa Reza. Tangannya yang dingin dan basah karena keringat dingin digenggam erat.


Ajeng tidak peduli lagi dengan kendaraan yang lalu lalang. Saat ini tatapan Ajeng sudah kosong, dia seketika kehilangan semua pikirannya.


Hanya ada gamang dan tergugu.


Tidak, bukan hanya genggaman tangan yang Ajeng dapatkan, ketika ada sebuah mobil di ujung sana mulai mendekat, papa Reza pun memeluk pundak Ajeng untuk melindungi.


Ya Allah.


Ajeng hanya bisa pasrah, menyerahkan semua kuasa hatinya yang lemah pada Tuhan.


Debaran hati ini tak bisa dia tahan, bunga muncul tak bisa dia cegah.


Wajah Ajeng pun merona dengan begitu cantik.


Detak jantungnya sudah bisa menjelaskan semuanya, bagaimana perasaan Ajeng saat ini, takut dan berdebar yang jadi satu.


"Ayo," ajak papa Reza pula, setelah tiba di seberang, dia melepaskan pelukannya pada pundak Ajeng dan hanya mengandeng masuk ke dalam toko alat tulis tersebut.


Sedangkan Ajeng hanya mampu terdiam, dia bahkan tak kuasa untuk menjawab pertanyaan papa Reza.


"Kamu tau pensil Sherina yang seperti apa?" tanya papa Reza, mereka sudah masuk ke dalam toko itu, saling berhadapan di etalase pensil dengan berbagai pilihan.


Ajeng bingung sendiri mau menjawab apa, otaknya mendadak blank.

__ADS_1


Sedangkan papa Reza malah terus menatap Ajeng dengan lekat.


"Kita pilih saja yang warna merah muda." putus papa Reza.


Ajeng masih tidak memberikan tanggapan apapun bahkan menganggukkan kepala pun tidak. Wajahnya kini makin merah saja.


Reza lantas mengambil 2 pensil berwarna merah muda, 2 pensil berwarna biru untuk Sean.


Lalu mengandeng Ajeng untuk menuju meja kasir.


Melakukan pembayaran.


Mereka tidak bisa berlama-lama di sana, tidak ingin membuat Sean menunggu terlalu lama di dalam mobil sendirian.


Deg deg! deg deg! cepat sekali.


Tidak mungkin kan mereka kembali saling berpegangan tangan untuk menyeberangi jalan?


Selalu pertanyaan itu yang memenuhi kepala Ajeng. Dia benar-benar berusaha keras untuk membuat pikirannya tetap waras.


Tidak ingin kembali salah paham dengan sikap yang manis, karena belum tentu itu artinya suka.


Benteng yang sudah Ajeng bangun untuk melindungi hatinya masih bertahan dengan kuat.


"Berikan tangan mu, kita akan mulai menyeberang lagi," ucap papa Reza, dia mengulurkan tangan kirinya, meminta Ajeng untuk menyambut itu.

__ADS_1


"A-Aku bisa sendiri Pa," tolak Ajeng, meski gugup namun dia harus mengatakan ini. Apalagi saat ini tangannya sudah sangat dingin dan basah karena keringat dingin.


Dia tidak ingin papa Reza menyentuh tangan dinginnya itu.


"Ayo," ajak papa Reza lagi, tangannya masih setia terulur, tidak mundur.


Dan Ajeng seperti tak punya pilihan untuk menolak. Dengan ragu, sangat ragu, akhirnya Ajeng pun menggerakkan tangan kanan dia dan menjangkau tangan papa Reza.


Nyes! Darrah Ajeng seketika mencair.


Sementara jantungnya bergemuruh tak karuan.


Diam-diam Ajeng memejamkan kedua matanya saat papa Reza kembali menggenggam erat tangannya.


Kembali menyeberangi jalanan dengan hati yang tidak menentu.


Karena Ajeng benar-benar merasa dilindungi dan disayangi.


Ya Allah, istigfar Jeng, jangan sampai suka sama papa Reza. Batin Ajeng, terus membentengi dirinya sendiri.


Karena kalau sampai benteng itu roboh, maka dia sendiri yang akan merugi.


Terakhir, papa Reza pun membukakan pintu mobil untuk Ajeng, mempersilahkan wanita itu masuk.


Ajeng menoleh ke belakang dan melihat Sean yang tersenyum lebar.

__ADS_1


__ADS_2