Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 140 - Buah Dari Rasa Ikhlas


__ADS_3

Sean sudah rapi, bocah itu terlihat sangat tampan.


"Sean mau turun atau main di kamar? Mama mau mandi dulu," ucap Ajeng, setelah dia selesai menyisir rambut sang anak.


"Aku mau main di bawah saja, ajak Malvin bertemu teman-temannya di kandang," jawab Sean. Dia juga langsung melihat ke arah rumah Malvin yang ada di atas meja belajarnya.


"Tapi jangan main kotor, mama malas mandiin kamu sampai dua kali."


"Iya iya," balas Sean pasrah, anehnya dia selalu senang tiap kali mama Ajeng marah-marah seperti ini.


Sudah sepakat seperti itu, akhirnya mereka berdua keluar dari dalam kamar tersebut.


Ajeng masih melihat Sean yang menuruni anak tangga, ketika sudah tak nampak lagi barulah Ajeng menuju kamarnya yang baru di rumah ini.


Kamar papa Reza yang sekarang jadi kamarnya juga.


Saat Ajeng masuk ke dalam sana dia langsung menatap sekitar, mencari keberadaan sang suami.


Tapi di mana-mana tidak ada papa Reza.


Kening Ajeng nampak berkerut.


"Mas Reza dimana?" gumam Ajeng, bertanya-tanya sendiri. Lalu berpikir bahwa suaminya itu sudah mandi bersamaan dengan Sean tadi, dan sekarang papa Reza sudah turun ke lantai 1 untuk menemui keluarganya yang lain.


Karena rencananya, semua keluarga itu akan pulang ke Jogja besok pagi. Bersama dengan Oma Putri dan kakek Agung juga.

__ADS_1


Sibuk sekali memang.


"Aku juga harus segera mandi," ucap Ajeng. Jadi buru-buru menuju kamar mandi sana.


Membuka pintu itu dengan tidak sabaran.


Deg! Ajeng langsung mendelik dan jantungnya mau copot.


Karena pemandangan yang pertama kali dia lihat di dalam kamar mandi itu adalah tubuh papa Reza yang polos.


Deg! Astaghfirullahaladzim.


Ajeng sangat terkejut, namun papa Reza malah tersenyum.


"Kamu mau mandi?" tanya Reza. Dengan santainya dia berjalan mendekati sang istri, tidak peduli pada tubuhnya sendiri yang sudah pollos.


Deg! Ajeng menelan ludahnya dengan kasar.


Makin lemah pertahanan tubuhnya saat melihat senyum papa Reza tersebut.


"M-mas Reza belum mandi?" tanya Ajeng, gugup.


"Belum, baru saja mau mandi, taunya kamu datang," balas Reza.


"Ya ya sudah, M-mas Reza mandi saja dulu. A-aku akan keluar lebih dulu," jawab Ajeng.

__ADS_1


Ya Allah, jantungnya saat ini berdegup tidak karuan. Ajeng susah payah mengalihkan tatapan matanya agar tidak melihat tubuh sang suami yang sudah polos, jangan sampai menunduk dan akhirnya melihat sebuah senjata.


"Hem, kenapa keluar? kenapa tidak mandi bersama saja?" balas papa Reza. Dia mengikis jarak, sementara Ajeng mundur.


Kedua tangan Ajeng naik seperti hendak menahan dadda sang suami.


"M-mas, jangan begini."


Reza tersenyum lebar, lucu melihat istrinya yang gugup.


"Begini bagaimana sih sayang? suami istri ya begini," balas Reza.


Langkah kaki Ajeng yang mundur akhirnya habis, tubuhnya sudah membentur meja westafel.


Reza merapatkan tubuh mereka dan membuat Ajeng semakin tak karuan detak jantungnya.


Tidak bisa menghindar dan hanya bisa pasrah.


"Mandi ya?" tanya Reza dan Ajeng hanya bisa menganggukan kepalanya sebagai jawaban.


Pasrah saat bajunya satu persatu di tanggalkan.


Tadi Reza sudah ikhlas waktunya dan Ajeng berkurang demi Sean.


Tapi ternyata sekarang Tuhan langsung memberinya waktu yang sangat indah seperti ini.

__ADS_1


Buah dari rasa ikhlas.


__ADS_2