Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 142 - Lucu Tapi Setuju


__ADS_3

Kembalinya seluruh keluarga Aditama ke Jakarta terdengar juga di telinga Mona.


Dia yang sejak kemarin terus merasa tidak tenang tentang pernikahan tersebut.


Dan sekarang semakin tidak rela ketika mengetahui bahwa sang pengasuh telah benar-benar resmi menduduki posisinya di samping Reza dan Sean.


Ada perasaan benci yang begitu mengganjal di dalam hatinya. Mona benar-benar butuh seseorang yang bisa dia jadikan sebagai pelampiasan amarah.


Dan satu-satunya yang terpikir di dalam benaknya adalah Ajeng.


Ya, wanita itu.


Sumber dari semua kekacauan yang ada di dalam hidupnya.


Wanita itulah yang telah membawa Sean datang ke apartemennya hingga terjadi perselisihan di antara mereka.


Seolah Ajeng memang sengaja, memperkeruh hubungannya dengan sang anak lalu mengambil celah untuk masuk dan menggantikan posisinya.


Entahlah, pikiran-pikiran buruk seperti itu terus menguasai Mona.


Tidak ada satupun hal baik yang dia dapatkan dari pernikahan ini.


"Tapi aku tidak bisa menemui wanita itu di rumah Reza, yang ada semua orang akan semakin menyudutkan aku," gumam Mona, saat ini dia duduk di kursi kerjanya di apartemen. Sejak tadi kedua matanya bergerak dengan cemas.


Sungguh, setelah kabar tentang pernikahan itu terdengar olehnya hidupmu jadi terasa tidak nyaman.


Semua pekerjaan yang dia tangani jadi terbengkalai, untungnya beberapa masih dalam kendali sang asisten, Jill.

__ADS_1


Mona merasa dia telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga di dalam hidupnya, yaitu keluarga. Reza dan Sean.


Wanita cantik itu kemudian mengusap wajahnya sendiri dengan kasar, sungguh, bingung bagaimana caranya dia bisa mendapatkan kembali keluarganya.


Sampai akhirnya sebuah cara terlintas di dalam benaknya.


Tentang dia yang harus menunjukkan perubahan diri, tentang dia yang akan mulai menanggalkan semua kesuksesan dalamkarirnya, dan meluangkan semua waktu hanya untuk Reza dan Sean.


"Ya itulah yang diinginkan Reza, itulah yang diinginkan Sean," gumam Mona, mulai ada senyum kecil yang terukir di sudut bibirnya.


Merasa apa yang dia pikirkan itu adalah benar.


"Tenang, aku harus tenang, sama seperti wanita itu yang bisa mengambil hati Reza dan Sean, aku juga akan melakukan hal yang sama."


Senyum di bibir Mona jadi semakin tersenyum lebar.


Dia seperti menemukan harapan baru untuk meraih bahagia di dalam hidupnya.


Selepas makan malam dan berbincang sesaat dengan keluarga.


Reza mengajak anak dan istrinya untuk segera beristirahat.


Malam ini, mereka akan tidur bertiga.


Seperti mimpi Sean, bocah itu akan tidur di tengah-tengah. Diantara papa dan mamanya.


Sean naik ke atas ranjang sendiri dengan sangat antusias, dia seperti berlari.

__ADS_1


Lalu disusul oleh Mama Ajeng, sementara papa Reza masih melihat ponselnya dan membaca email dari Louis.


"Ma, besok aku mulai sekolah dong?" tanya Sean, ada sedikit rasa tak suka, maunya berlibur terus.


"Ya iya dong, kan izinnya sudah habis, besok ya harus sekolah seperti biasa," balas mama Ajeng, seraya menarik selimut untuk menutupi kaki mereka berdua. Sekarang mereka masih duduk, belum berbaring.


"Mama akan tetap mengantarkan aku kan?"


"Iyaaa."


"Apa tetap menunggu aku juga di sekolah."


"Tidak."


"Kenapa?!" tanya Sean dengan suara tinggi. Seperti tidak rela.


Tapi Ajeng menjawabnya dengan santai.


"Kata papa, mama Ajeng diminta ikut dia ke kantor dulu. Nanti pulangnya baru mama jemput."


"Oh, ku kira om Deri sendiri yang jemput aku."


Papa Reza yang sudah menghampiri ke atas ranjang langsung mengusap puncak kepala sang anak dengan sayang.


"Gantian dong mama Ajeng-nya, papa kan juga mau," ucap papa Reza.


Sean langsung tertawa mendengar kalimat itu, lucu tapi setuju.

__ADS_1


Sementara Ajeng memasang wajahnya yang dingin.


Bukannya takut, Sean dan Papa Reza malah semakin tertawa. Di ujung, papa Reza menarik hidung istrinya gemas.


__ADS_2