Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 71 - Kandidat Calon Mama


__ADS_3

Waktu untuk makan malam masih butuh waktu cukup lama, tapi Reza sudah keluar dari dalam kamarnya dan menuju kamar sang anak.


Tapi yang ingin dia temui bukan hanya Sean, namun Ajeng juga.


Pria yang biasanya selalu menunjukkan wajah dingin itu sekarang jadi suka senyum-senyum sendiri tidak jelas.


Bahkan seorang pelayan yang tanpa sengaja melihat senyum itu pun langsung shock, dia memegangi daddanya dan nyaris terhuyung kaget, untung langsung berpegangan pada tembok.


"Astaghfirullahal azim, astaghfirullahal azim, itu benar pak Reza senyum?" gumam pelayan tersebut, dalam benaknya sudah banyak pertanyaan benarkah itu pak Reza atau bukan? benarkah yang dia lihat adalah nyata bukan hanya halusinasi semata?


Pelayan tersebut bahkan berulang kali mengucek matanya sendiri, tapi sekarang dia tidak bisa melihat wajah pak Reza lagi, hanya mampu menatap punggung.


Pelayan itu baru saja dari kamar Rilly.


"Sepertinya aku yang salah, tidak mungkin pak Reza tersenyum seperti itu," yakin pelayan tersebut.


Dia bahkan menganggukkan kepalanya sendiri dengan mantap.


Lalu tanpa keraguan sedikitpun dia segera pergi dari sana.


Sementara Reza sudah tiba di kamar sang anak. Tapi dia hanya melihat Sean saja, duduk di kursi belajarnya.


Sean awalnya sedang membaca buku bahasa Inggris, namun melihat ayahnya datang dia buru-buru menutup buku itu dan menggantinya dengan buku menggambar.


Papa Reza datang dengan bibir yang masih setia tersenyum, membuat Sean mengerutkan dahi.


Kenapa papa senyum-senyum seperti itu? sangat mencurigakan. Batin Sean, penuh tanya.

__ADS_1


"Bagus sekali gambar anak Papa," ucap Reza ketika dia sudah berdiri di samping Sean dan melihat hasil gambar anaknya tersebut. Sean menggambar seekor lumba-lumba yang sedang melompat di atas laut, warna birunya indah sekali.


Sementara Sean tidak menyahuti ucapan ayahnya itu, dia masih saja menatap curiga pada senyum yang terukir di wajah sang ayah.


"Pa," panggil Sean.


"Kenapa Sean?" balas papa Reza pula, kini mereka berdua jadi saling tatap.


"Apa papa sedang merasa bahagia? kenapa?" tanya Sean pula, dia tidak bisa menebak-nebak karena itulah langsung saja mengajukan pertanyaan tersebut.


Dan ditanya seperti itu Reza malah semakin tersenyum lebar, senyum-senyum yang sungguh Sean tidak tahu apa artinya.


Reza lantas mengelus puncak kepala anaknya tersebut, sebuah perlakuan hangat yang sangat jarang sekali Sean dapatkan dari ayahnya.


Reza juga menarik kursi dan ikut duduk di samping Sean. dia pun jadi bertanya-tanya bagaimana pendapat Sean jika dia menyukai Ajeng.


Apakah anaknya ini akan setuju atau tidak.


Reza menyudahi senyumannya dan menatap sang anak dengan tatapan yang lebih serius.


"Iya Sean, Papa memang sedang merasa bahagia. Tapi papa baru sadar, bahwa papa tidak bisa bahagia sendirian," ucap Reza serius.


Sean juga menatap serius, dia tidak bertanya ataupun menanggapi, hanya akan menunggu apa yang akan disampaikan oleh sang ayah selanjutnya.


"Sebelum memikirkan tentang kebahagiaan papa sendiri, papa akan selalu mengutamakan kebahagiaan kamu lebih dulu," jelas Reza pula, kini dia memeluk pundak sang anak, membuat mereka sangat dekat.


Sementara jantung Sean mulai berdegup tak karuan, merasa apa yang akan diucapkan oleh sang ayah adalah sesuatu hal yang sangat penting.

__ADS_1


"Sebenarnya, papa sudah punya kandidat yang akan jadi calon mama mu. Bagaimana menurut mu?"


Deg! jantung Sean langsung berdenyut, dia kaget sekali. Kedua matanya bahkan langsung melebar.


Reza buru-buru menarik tubuh sang anak dan dibawanya ke atas pangkuan.


"Papa akan memilih kamu dibanding dia, jadi jangan cemaskan apapun," jelas Reza buru-buru.


"Siapa wanita itu Pa?" tanya Sean langsung.


"Dia hanya wanita biasa sayang."


"Apa aku mengenalnya?"


"Hem."


"Siapa?"


"Janji jangan marah kalau papa bilang ya?"


"Siapa Pa!!" tuntut Sean, dia sudah tidak sabar. Siap menolak karena kandidat pilihannya hanya 1, mbak Ajeng, titik! tidak ada yang lain!


"Janji dulu untuk selalu tenang," pinta Reza lagi.


"Iya!"


"Janji?"

__ADS_1


"IYA!!"


"Mbak Ajeng."


__ADS_2