
Saat Ajeng sedang menyisir rambut Sean yang baru saja selesai mandi, Om Ryan masuk ke dalam kamar tersebut.
Dia dan Rilly baru saja pulang.
"Om Ryan!" sapa Sean dengan riangnya, saat ini dia memang duduk menghadap ke arah pintu. Ajeng juga jadi menatap ke arah pria tersebut.
Ajeng yang sudah membentengi dirinya dari debar, menatap kedatangan om Ryan hanya dengan senyum kecil. Tidak selebar biasanya.
Sesaat pun mereka saling tatap, namun Ajeng yang lebih dulu memutus dan kembali lanjut merapikan rambut Sean.
Ryan, merasa ada sesuatu yang terjadi pada Ajeng. Entah apa, tapi dia merasa Ajeng sedang menghindari dia, Ajeng seperti berusaha meletakkan jarak.
Ryan lantas memilih untuk duduk di sofa. Perhatiannya langsung tertuju pada sebuah surat undangan di atas meja.
Tanpa banyak tanya, Ryan mengambil surat tersebut. Membacanya ...
Undangan perayaan ulang tahun sekolah Sean.
"Sean, apa papa Reza sudah membaca undangan ini?" tanya Om Ryan.
"Tidak tau Om, aku malah baru lihat surat itu ada di sana," jawab Sean jujur.
Sean lalu mendongak dan melihat mbak Ajeng-nya, seingat Sean tadi undangan itu ada di dalam tas kecil mbak Ajeng.
"Iya, papa Reza tadi sudah lihat Sen, eh Sean. Mbak Ajeng kasih waktu kamu tidur, berarti papa yang letak surat itu di sana," terang Ajeng.
"Apa setelahnya papa mengatakan sesuatu? papa mau datang kan?" tanya Sean, tanya dengan buru-buru seolah menuntut jawaban.
Ajeng tersenyum kikuk.
"Mbak Ajeng belum bertemu papa lagi Sean," balas Ajeng, dia juga bingung kenapa malah menjawab bohong begini.
Tapi ya sudahlah, lagi pula papa Reza belum mengatakan apakah dia bersedia datang atau tidak, pikir wanita cantik itu.
"Coba nanti saat makan malam tanyakan lagi pada Papa, papa bersedia datang atau tidak. Jika tidak, om Ryan yang akan menggantikannya," terang Ryan pula. Tanpa ragu saat mengatakan kalimat itu.
Sean pun tersenyum meski hatinya juga bersedih. Karena bagaimana pun dia ingin yang datang adalah papa Reza dan mbak Ajeng. Tapi Sean juga tidak ingin menolak niat baik Ryan padanya.
"Terima kasih Om!" balas Sean, yang coba tersenyum.
Tapi besar harapan di dalam hatinya, bahwa papa Reza lah yang akan datang.
__ADS_1
Saat makan malam tiba, bibi Asmi malah mengatakan bahwa malam ini papa Reza makan di luar bersama klien.
Papa Reza tidak sempat pamit pada Sean karena buru-buru.
Mendapati hal demikian, Sean tentu kecewa. Dia kira hubungannya dengan sang ayah sudah berangsur membaik, tapi nyatanya papa Reza masih juga mementingkan pekerjaan dibanding dia.
Bahkan sampai pergi tanpa pamit.
Padahal pamit itu lah yang bagi Sean paling penting.
"Sean, kata om Ryan sekolah mu mau ulang tahun, apa kak Rilly boleh datang juga?" tanya kak Rilly sebelum mereka menyantap hidangan makan malam di atas meja.
Bibir Sean mengerucut, semua orang yang tidak dia harapkan datang malah kini beruntun memberi penawaran.
Sementara papa Reza?
"Boleh kak, kata guru Sean semua keluarga boleh datang." Ajeng yang menjawab.
Ajeng, kak Rilly dan om Ryan tahu jika Sean mulai bersedih, mereka bertiga pun terus bicara ingin mengalihkan perhatian bocah tersebut.
Sementara itu di tempat lain.
Reza sudah tiba lebih dulu di tempat dia akan bertemu dengan Laura.
Wanita cantik dan berkelas itu menggunakan gaun yang begitu indah. Pas membalut tubuhnya yang proporsional.
Diantara langkah kakinya yang begitu anggun menuju Reza, Laura pun tersenyum begitu manis.
Sementara Reza terus memperhatikan dengan lekat.
Mana? dimana jantung mu yang berdebar Rez? dia adalah wanita yang sempurna bukan? lalu kenapa jantung mu biasa saja? bisik hati Reza.
Tidak, mungkin sebentar lagi.
Dua sisi dalam dirinya kembali berperang. Antara akal sehat, dan bisikan setan yang terus mengganggunya.
"Hai Rez, selamat malam," sapa Laura saat dia sudah tiba di meja itu.
"Selamat malam Laura." Reza bangkit, menarik kursi milik Laura dan mempersilahkan sang wanita duduk.
"Terima kasih," ucap Laura lagi.
__ADS_1
Suaranya begitu lembut, dan bahkan aroma tubuhnya langsung tercium oleh Reza.
Kini mereka berdua sudah saling duduk berhadapan.
"Tumben kamu ada waktu untuk makan malam begini, apa ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan denganku?" tanya Laura langsung. Memulai pembicaraan diantara mereka berdua.
"Tidak, hanya ingin makan malam biasa saja. Agar saat Reuni kamu tidak mengatakan pada semua orang bahwa aku sombong," balas Reza.
Sebuah jawaban yang membuat Laura tertawa. Cantik sekali.
Tapi dimata Reza, tawa itu biasa saja.
Entahlah dimana yang salah. Sampai jam 9 malam mereka menghabiskan waktu bersama. Tapi debaran yang Reza tunggu tak kunjung tiba.
"Terima kasih makan malamnya Rez, aku pulang dulu ya," pamit Laura, dia lalu masuk ke dalam mobilnya.
Laura memang menyukai Reza, tapi dari makan malam ini dia tahu jika Reza memposisikan hubungan mereka sebagai teman. Tidak lebih.
Sementara Reza masih berdiri di sana hingga mobil Laura pergi lebih dulu.
Yang terlintas di dalam benaknya saat ini malah Ajeng.
"Astaghfirullah," gumam Reza, dia mengusap wajahnya frustasi.
Akui saja Rez, kamu memang menyukai Ajeng. bisik hatinya.
Tak ingin nampak kacau di tempat umum, akhirnya Reza memutuskan untuk pulang.
Namun ternyata ketika tiba di rumah, kewarasannya semakin dipertanyakan.
Karena debaran itu kembali muncul saat dia lihat Ajeng tidur berdua bersama Sean.
Deg deg! deg deg!
Sekarang, kamu mau berkilah seperti apa lagi Rez?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rekomendasi author :
Judul : Bukan Pengantin Pengganti
__ADS_1
by : Nopani Dwi Ari