Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 111 - Video Call Bagian 2


__ADS_3

Dengan ragu-ragu dan perasaan sedikit malu, akhirnya Ajeng menjawab panggilan video call papa Reza.


Ketika terhubung dan menunjukkan wajah meraka berdua, seketika itu juga kedua pipi Ajeng bersemu merah.


Blus!


"Mas," cicit Ajeng, bicara pelan sekali, selain malu-malu dia juga takut membangunkan Sean.


Dilihatnya papa Reza masih berada di dalam mobil, hal itu menandakan bahwa sang calon suami belum tiba di hotel tempat mereka menginap malam ini. Mungkin sebentar lagi, karena kepergian mereka semua sudah hampir satu jam lamanya.


"Kenapa bicaranya pelan sekali?" tanya papa Reza, takut disamping Ajeng sedang ada seseorang yang ingin dijaga perasaannya.


Pikiran Reza jadi terlalu berlebihan, pasalnya ini adalah kali pertama mereka berjauh-jauhan seperti ini sejak memutuskan untuk bersama.


"Sean sedang tidur Mas," jawab Ajeng, masih tetap mempertahankan suaranya yang pelan.


Dia lalu mengarahkan kameranya ke arah Sean dan melihat sang anak ada disana Reza pun langsung menghembuskan nafas lega.


"Ini kan sudah sore kenapa dia malah tidur?" tanya papa Reza.


"Tidak apa-apa Mas, nanti kalau kesorean bangunnya dielap saja, tidak usah mandi. Lagipula disini kalau sore hawanya dingin sekali," terang Ajeng.

__ADS_1


"Iya, sekarang aku juga sudah merasa kedinginan," balas papa Reza ambigu, maksudnya bukan dingin karena cuaca, tapi karena berjauhan dengan mama Ajeng.


"Berarti Mas Reza juga tidak usah mandi, nanti sampai di hotel badannya dielap saja," balas Ajeng, tidak paham kode papa Reza dan tetap profesional.


Namun respon Ajeng itu membuat papa Reza tersenyum, mendapatkan perhatian seperti ini saja dia sudah merasa sangat disayang.


"Kata Deri 5 menit lagi kami tiba di hotel, kamu mandilah dulu sayang, biar saja Sean tidur sendirian di situ," titah papa Reza.


Saat tiba di hotel nanti dia pun harus membantu Oma Putri dan kakek Agung, jadi tidak bisa melakukan panggilan telepon dulu dengan sang calon istri.


Dan mendengar panggilan sayang yang makin sering papa Reza sebutkan makin membuat Ajeng meleleh, dia mengulum senyumnya dan mengigit bibir bawah, menahan diri agar tidak tersenyum terlalu lebar.


Tapi mendengar mau dimatikan seperti itu seketika papa Reza jadi merasa tidak terima sendiri, rasanya belum puas memandang cantiknya wajah Ajeng.


Entah kenapa rasanya sulit sekali berhadapan dengan yang namanya perpisahan.


"Jangan dimatikan dulu, bagaimana ini, aku masih rindu," jawab Reza.


Deri yang mendengar kalimat itu pun seketika tercengang, melirik sekilas melihat benarkah yang duduk di belakang itu adalah pak Reza Aditama, bukan Ryan Aditama.


Dan ternyata memang benar, itu adalah pak Reza.

__ADS_1


Astagfirullahal Azim, ternyata seperti itu kalau pak Reza jatuh cinta, lebay. Batin Deri.


Tapi dia tetap diam, pura-pura tidak mendengar. Cukup tahu bahwa hanya Ajeng yang mampu membuat pak Reza berubah 180 derajat seperti itu.


"Iiihh Mas Reza, kok ngomong gitu sih," balas Ajeng, dia sudah menunduk-nunduk menyembunyikan wajahnya yang merona.


"Cium dulu, baru setelah itu boleh matikan teleponnya," pinta Reza.


"Mas! mana boleh cium-cium."


"Kan cuma di telepon sayang."


Ya ampun, Ajeng malu sekali, rasanya dia ingin pingsan saja.


"Aku malu Mas," Ajeng masih berusaha menolak.


"Malu dengan siapa? cepat, ini sudah mau sampai hotel."


Ajeng kembali menggigit bibir bawahnya, susah payah mengumpulkan semua keberanian. Sampai akhirnya satu kecupan tercipta.


Emuah! kecup Ajeng.

__ADS_1


__ADS_2