Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 105 - Semua Persiapan Sudah Selesai


__ADS_3

Mobil milik Reza akhirnya meninggalkan halaman rumah utama keluarga Carter.


Sepanjang perjalanan pulang itu Ajeng terus meremat kedua tangannya sendiri yang basah dengan keringat dingin.


Ajeng seperti dipelet, ciuman itu sudah tejadi beberapa waktu yang lalu, tapi hingga kini mereka tiba di rumah aja masih bisa merasakan rasanya bibir papa Reza di atas bibirnya.


Kenyal tapi sedikit keras.


Ya Allah, Ajeng lagi-lagi merinding, dia seperti tidak akan pernah bisa melupakan rasa itu.


Masuk ke dalam rumah, Ajeng menelan ludah dengan kasar. Tiba-tiba merasa takut jika Oma Putri mengetahui tentang perbuatan mesyum mereka tadi.


Ya Allah, semoga tidak bertemu dengan Oma Putri. Batin Ajeng.


kedua matanya bergerak cemas, melihat ke sana kemari apakah ada Oma Putri.


"Mama, mama kenapa?" tanya Sean, sejak tadi dia sudah memperhatikan wajah sang mama, nampak bingung dan takut. Dipikir Sean, mama habis dimarahi papa, tapi saat Sean melihat wajah ayahnya, dia sedikitpun tidak membaca adanya amarah, Papa Reza malah berulang kali terlihat mengulum senyumnya.


Dan hal itu jadi membuat Sean bingung juga, jadi bertanya-tanya.


Sehabis pulang dari rumah tante Jia, Reza dan Ajeng memang langsung menjemput sang anak pulang sekolah.


Namun belum sempat Ajeng menjawab pertanyaan itu, sudah ada oma Putri yang datang menghampiri mereka berdua.

__ADS_1


"Kalian sudah pulang? coba oma lihat cincin nya."


Deg! kedatangan Oma Putri tersebut semakin membuat jantung Ajeng tidak tenang.


"Ini cincinnya Oma, ayo duduk dulu," jawab Reza pula, sekaligus mengajak semua orang untuk duduk di sofa ruang tengah dulu.


Tapi Oma Putri tidak langsung mengiyakan ajakan anaknya tersebut, perhatiannya malah tertuju ke arah Ajeng yang nampak cemas.


"Ajeng, kamu kenapa sayang?" tanya Oma Putri.


Deg! mendengar pertanyaan itu yang terkejut bukan hanya Ajeng tapi juga Papa Reza.


Seketika ingatannya saat mencium Ajeng kembali teringat jelas, lalu cemas juga jika Ajeng sampai keceplosan mengatakannya pada Oma Putri.


"I-Iya Oma, aku capek," timpal Ajeng.


Dua orang yang bicara dengan Gagap itu seketika makin membuat Oma Putri dan Sean jadi menatap curiga.


"Ayo Sean, mama akan gantian bajumu dulu, aku permisi dulu Oma," pamit Ajeng dengan tergesa-gesa.


Dia bahkan langsung menarik tangan Sean untuk segera pergi dari sana.


Dan setelah kepergian dua orang itu kini Oma Putri jadi menghadap ke arah anaknya, melihat Reza dengan kedua matanya yang jadi sipit.

__ADS_1


"Apa yang sudah terjadi? pasti ada sesuatu kan?" selidik Oma Putri.


"Tidak ada Oma, ayo kita duduk, aku akan menunjukkan cincin pilihan kami," kilah papa Reza, meski jantungnya berdegup hebat tapi dia tetap menunjukkan wajahnya yang biasa saja.


Jangan sampai ketahuan, pikirnya.


Cincin pertunangan sudah ada, beberapa hadiah pun telah disiapkan, mulai dari satu set perhiasan lengkap, beberapa barang mewah untuk keperluan Ajeng dan keluarganya dan masih banyak lagi.


Ini hanya untuk lamaran saja, bukan seserahan untuk di hari pernikahan.


Besok pagi mereka semua akan segera pergi ke desanya Ajeng. Ada 6 mobil yang akan beriringan nanti.


1 untuk Oma Putri dan kakek Agung.


1 untuk Rilly dan Ryan.


1 untuk Reza, Ajeng dan Sean.


2 untuk semua barang-barang, termasuk koper berisi baju semua orang selama 2 hari disana.


1 mobil untuk 2 pembantu dan 2 penjaga keamanan yang ikut.


Keluarga Reza nanti akan menginap di kota, jaraknya 1 jam dari desa Ajeng.

__ADS_1


__ADS_2