
Reza hanya bisa pasrah dipisahkan oleh istri barunya, dia menurut saja saat Oma Putri menariknya ikut masuk ke dalam rumah.
Bukan apa-apa, Oma Putri sudah capek mendengar tangisan dan gerutuan Sean, jadi biarlah anak itu kini berbuat semaunya.
Tolong sekali, Reza jangan berulah dulu.
Di kebun belakang, Rilly menyusul dengan sedikit berlari. Melewati tangga-tangga tanah dan menurun.
"Tunggu Mbak!" pekik Rilly, sudah sah menjadi kakak iparnya, Rilly harus memanggil Ajeng dengan sebutan Mbak, meskipun usia Ajeng jauh di bawah dia.
Kalau tidak begitu bisa dipastikan Oma Putri akan ceramah tujuh hari tujuh malam.
Ajeng sebenarnya juga canggung, tapi memang seperti itulah adat, dan dia pun memahaminya dengan baik.
"Kak Rilly ikut?" tanya Ajeng, dia masih memanggil kak karena mengikuti Sean, harusnya panggil Rilly langsung juga tidak apa.
"Hem, ayo, dimana sungainya?" tanya Rilly antusias.
"Itu!" tunjuk Sean.
Rilly langsung mengerutkan dahinya, apa yang dia lihat tidak sesuai dengan yang dia bayangkan. Di mata Rilly itu bukan sungai, hanya air got.
"Astaghfirullahal Azim, itu air got?" tanya Rilly sembarangan.
Ajeng terkekeh sementara Sean langsung menunjukkan wajah tak suka.
"Itu sungai kecil kak Rilly, airnya saja bersih!" kesal Sean.
Tak ingin perdebatan ini berlangsung lama, Ajeng Langsung kembali mengambil langkah untuk menuju sungai tersebut.
__ADS_1
Dan benar saja, air got itu benar-benar jernih, pikiran Rilly mulai bisa berubah, bahwa ini adalah sungai kecil.
Sean langsung turun dan masuk ke dalam sungai tersebut.
Namun saat dia hendak mengajak mamanya masuk ke dalam sungai itu, tiba-tiba perhatian Sean teralihkan pada leher sang mama yang nampak merah-merah.
Sean langsung menatap dengan intens, penasaran luar biasa, mulai cemas takut mamanya sakit.
"Ma, itu leher Mama kenapa? kok merah-merah seperti itu? apa sakit?" tanya Sean bertubi.
Kak Rilly jadi langsung melihat ke arah leher Ajeng ketika mendengar ucapan sang keponakan.
Langsung mendelik saat melihat banyak tanda cuppang di sana.
Ajeng memang lupa menutupinya, karena tadi keluar dari kamar dengan terburu-buru.
Ajeng yang kaget langsung menyentuh lehernya.
"Ta-tanda merah?" tanya Ajeng mulai gagap, takut perbuatannya dengan papa Reza semalam ketahuan.
"I-itu digigit nyamuk Sean!" balas Rilly pula, jadi ikut gugup ketika menjelaskan bekas ciuman itu.
Astaghfirullah, Rilly sampai membatin, tidak bisa membayangkan bagaimana ganasnya sang kakak semalam memperlakukan Ajeng.
Pasalnya tanda merah itu terlihat sangat hitam dan begitu banyak di leher sang kakak ipar.
Astaghfirullah, batin Rilly lagi.
"I-iya, ini gara-gara digigit nyamuk, nyamuk di sini ganas-ganas," kilah Ajeng.
__ADS_1
"Apa iya seperti itu?" tanya Sean bingung.
"Iya, jadi lebih baik kita jangan lama-lama di sini, ayo pulang, kita kan juga mau ke Jakarta Sean!" jawab Rilly.
Sean diantara percaya dan tidak, sulit untuk dia terima. Tapi meski begitu dia tetap naik dan keluar dari sungai tersebut.
Belum sempat mandi, hanya saja celananya basah setengah.
"Dulu waktu aku menginap di rumah mama tidak ada nyamuk yang seganas itu," ucap Sean.
Mereka bertiga mulai berjalan kembali ke rumah.
"Yang ini nyamuknya beda Sean, hanya datang kalau mama Ajeng tidur dengan papa Reza," ledek Rilly.
Sean semakin bingung, sementara Ajeng malu sekali.
Melihat wajah Ajeng yang merah merona, kak Rilly jadi tertawa.
Ajeng rasanya ingin sekali menyumpal mulut itu.
"Hahahaha," tawa kak Rilly.
Ajeng yang geram langsung menutup mulut sang adik ipar.
"Diaam!!" kesal Ajeng, dua wanita itu seperti berkelahi, tapi Sean hanya menatap dengan kening berkerut.
Tidak berniat melerai.
Aneh, apa sih, aku bingung, batin Sean.
__ADS_1