
Di dalam kelas Sean.
"5 hari lagi adalah perayaan ulang tahun sekolah kita, jadi akan ada sedikit perayaan di hari minggu. Ada permainan dan pertunjukan musikal, siapa yang mau ikut?"
"AKU!!!" jawab semua murid di dalam kelas itu, termasuk Sean. Menjawab antusias pertanyaan sang guru.
Sean pun ikut mengangkat jari telunjuknya menunjukkan diri. Suara di dalam kelas hari itu begitu heboh, penuh teriakan semangat dari anak-anak.
Sean bisa memanfaatkan momen ini untuk pergi bersama mbak Ajeng dan papa Reza. Nanti Sean akan telepon Oma Putri untuk meminta mbak Ajeng jadi mamanya.
Sean senang sekali. Merasa rencananya pun didukung oleh Tuhan.
Aku harus rajin shalat, tidak boleh menunda-nunda terus jika waktunya sudah tiba. Biar Allah terus dukung rencana ku. Batin bocah berusia 6 tahun itu.
Rencananya sudah sangat matang, mulai membayangkan yang indah-indah. Contohnya ketika papa Reza dan mbak Ajeng duduk berdampingan di kursi untuk kedua orang tuanya nanti.
Sean benar-benar merasa bahagia.
Jam 10 pagi akhirnya kelas itu pun berakhir.
Sean menarik tasnya seperti membawa koper. Di tangan kirinya dia membawa undangan untuk kedua orang tuanya tentang ulang tahun sekolah.
Di ruang tunggu Ajeng langsung berdiri ketika melihat anak asuhnya datang. Dia juga tersenyum hangat sebagai sambutan.
Saat Sean semakin dekat, Ajeng berjongkok.
"Apa ada hal baik? sepertinya kamu senang sekali," tanya Ajeng, sebab dia lihat jelas senyum Sean yang lebar. Sampai rasanya gigi anak ini mengering.
Namun ditanya seperti itu, seketika senyum Sean hilang. Diganti sedih yang teramat dalam.
__ADS_1
Sampai Ajeng pun ikut mengukirkan raut wajah prihatin juga.
"Kenapa Sean?" tanya Ajeng lagi.
"5 hari lagi akan ada perayaan ulang tahun sekolah, semua teman-teman ku akan datang bersama kedua orang tuanya. Tapi aku, sepertinya hanya akan datang sendirian."
Ya Allah. Ajeng rasanya sampai ingin menangis saat mendengar kalimat itu. Hatinya seketika terenyuh. Sedikitpun tidak terpikirkan jika Sean hanya sedang menjual kesedihan.
Ajeng bahkan langsung memeluk Sean erat, dia tidak tahu jika saat itu Sean pun langsung tersenyum miring. Sementara di dalam hatinya dia tertawa terbahak-bahak.
Maafkan aku mbak Ajeng, tapi mulai sekarang aku akan terlihat seperti anak yang menyedihkan, hahahaha. Batin Sean, bocah ini benar-benar licik.
Ajeng lantas melerai pelukan mereka, menatap Sean yang wajahnya masih tetap sendu.
"Ini surat undangannya," ucap Sean lirih, kepala menunduk seolah tak punya semangat.
"Hari ini kan papa Reza akan menjemput kita, nanti kita berikan undangan ini pada papa ya? mbak Ajeng yakin papa Reza pasti bersedia datang." Ajeng pun mengelus lengan Sean dengan lembut, ingin sang anak asuh tenang.
Meski sebenarnya Ajeng pun tidak yakin dengan ucapannya sendiri. Apa iya papa Reza bersedia datang?
Sean mengangguk lemah.
"Kalau papa Reza bisa datang, lalu siapa yang jadi mama-nya?" tanya Sean lagi.
Sorot matanya yang sayu benar-benar membuat Ajeng hanyut, tak menaruh seidiki pun curiga dari pertanyaan itu.
"Mama Mona dan mbak Ajeng sama-sama tidak mau jadi mama ku."
Tes! Sean menangis, meski hanya sandiwara tapi hatinya ternyata sedih juga ketika mengucapkan kalimat itu.
__ADS_1
Sementara Ajeng hatinya seperti ditusuk saat itu juga.
Bukan tidak mau, tapi Ajeng hanya sadar diri.
"Maafkan mbak Ajeng Sen," ucap Ajeng lirih, lagi-lagi hanya bisa memeluk erat.
"Ada apa ini? Sean?" panggil Bu Guru.
Ajeng dan Sean lalu melerai pelukan mereka.
Guru tersebut berjongkok juga menyesuaikan tinggi Sean.
"Ada apa sayang?" tanya Bu Guru.
"Aku sedih Bu, mungkin nanti di acara ulang tahun hanya aku sendiri yang tidak datang bersama kedua orang tua. Entah aku akan datang dengan siapa," terang Sean dengan sesenggukan.
Ajeng jadi ikut menangis juga, tapi buru-buru dia hapus. Tidak boleh lemah, harus kuat.
"Sstt, cup cup cup. Sean tidak boleh bersedih seperti itu. Sean bisa datang dengan keluarga yang lain, bahkan dengan mbak Ajeng juga boleh kok," balas sang guru. Dia pun mengenal Ajeng, mengenal juga para pengasuh anak muridnya yang lain.
"Di acara ulang tahun nanti kita akan bermain dan bersenang-senang, jadi jangan berpikir tentang kesedihan, ya?"
Sean coba menganggukkan kepalanya.
"Sudah, sekarang sudah waktunya pulang sekolah. Mungkin papa sudah menunggu di depan, katanya hari ini papa yang jemput kan?" tanya guru wanita itu lagi dan Sean mengangguk lagi.
Guru tersebut juga menghapus air mata Sean dan mengantar sang anak didik untuk keluar dari sekolah.
Tapi ternyata papa Reza belum datang.
__ADS_1