
Jam 4 sore akhirnya seluruh keluarga Aditama tiba di rumah utama.
Beberapa keluarga yang dari Jogja pun ada juga yang datang dan masih menginap di sana.
Sean masih tertidur, dia digendong papa Reza untuk di bawa naik ke lantai 2.
Awalnya Ajeng ingin membantu di bawah, bantu apa kek pokoknya membantu saja, karena banyak bawaan dan semua orang pasti lelah.
Tapi Oma Putri melarang, Ajeng diminta untuk langsung naik ke kamarnya bersama dengan Reza dan Sean.
"Tapi Oma_"
"Sudah sana naik," potong Oma Putri.
Bude Sarni budenya Reza yang dari Jogja hanya terkekeh melihat kelakuannya pengantin baru ini, pasti serba tidak enak.
Dan Ajeng akhirnya dengan terpaksa pun menuruti keinginan Oma Putri.
Ikut suami dan anaknya untuk masuk ke dalam kamar.
"Sayang, kok pintunya tidak di tutup," ucap Reza saat melihat Ajeng masih begitu saja tanpa menutup pintu kamar.
"Kenapa ditutup Mas?" tanya Ajeng, kebiasaan selama ini tidak pernah menutup pintu, apalagi pintu kamarnya Sean.
"Ya harus ditutup dong, kan sekarang kita pengantin baru," jawab papa Reza, menggoda. Setelah membaringkan sang anak, dia pun segera berjalan menghampiri sang istri.
Ajeng sudah menelan ludahnya sendiri dengan kasar. Apalagi papa Reza langsung memeluk pinggangnya ketika sudah di hadapan.
Deg! jantung Ajeng mau copot.
"Kalau pintunya tidak ditutup, nanti ada yang liat kita peluk-pelukan seperti ini, iya kan?" tanya papa Reza.
__ADS_1
Ajeng langsung mengangguk dengan cepat.
"Ka-kalau begitu aku tutup dulu pintunya," jawab Ajeng dengan cepat.
Reza sudah mengulum senyum, melepaskan pelukannya sendiri dan membiarkan sang istri berlari ke arah pintu untuk menutupnya, bahkan Ajeng mengunci juga.
Jadi lebih deg-degan untuk kembali menghampiri papa Reza.
"Sini," panggil Reza, dia sudah duduk di tepi ranjang.
Ajeng menurut, meski gugup namun dia tetap patuh.
Kini semboyan hidupnya sudah berubah, bukan lagi rajin menabung agar cepat kaya, tapi jadi istri yang soleha.
Sudah berdiri di hadapan papa Reza, Ajeng langsung dipeluk pinggangnya.
"Nanti malam bagaimana?" tanya papa Reza, mulai menyusun rencana untuk ninaninu, karena ada Sean pasti akan sulit bagi mereka berdua.
Tentang desahaan Ajeng yang manja disaat dia hentak kuat.
"Memangnya nanti malam mau ada apa Mas?" tanya Ajeng polos.
Gubrak! kepala Reza seperti dipukul mendengar tanggapan istrinya tersebut, ternyata Ajeng tidak paham.
"Sayaaaang," rengek Reza, dia menggerak-gerakan tubuhnya maju mundur, hingga tubuh Ajeng ikut bergerak, memberi kode.
Dan kali ini, Ajeng langsung paham.
Deg! Ajeng menelan ludah, langsung berdesir inti tubuhnya.
Langsung bicara dengan cara berbisik.
__ADS_1
"Kan ada Sean Mas, bagaimana?" tanya Ajeng, mendesis bicaranya.
"Matikan lampu, di sofa," balas Reza.
Ajeng yang kegelian reflek memukul pundak suaminya tersebut. Sementara papa Reza semakin memeluk mama Ajeng erat-erat.
Tidak mau pisah.
"Mandi bareng yuk?" ajak papa Reza.
Dan Ajeng semakin merasa geli.
"Iihh Mas, sana mandi sendiri," kesal Ajeng, papa Reza terus membuatnya merinding.
"Ayo."
"Nanti Sean bangun Mas."
"Ayooo," rengek Reza lagi, dia bahkan langsung menggendong Ajeng sampai membuat wanita itu kaget.
Sontak Ajeng menjerit, dan alhasil Sean bangun.
"Maa," panggil Sean setengah sadar.
Ajeng dan papa Reza gelagapan.
Reza bahkan buru-buru menurunkan sang istri dan mengambil jarak aman.
"Iya Sen," jawab mama Ajeng cemas.
Reza sudah gugup. Seperti digerebek.
__ADS_1
Astagfirullah. Batin Reza.