Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 172 - Masih Ada Harapan


__ADS_3

"Banyak Oma, saking banyaknya kesalahanku aku sampai tidak tahu dari mana menyebutkannya lebih dulu," jawab Mona, di antara suaranya yang tercekat di tenggorokan.


Makin miris Mona ketika tadi dia melihat Sean yang sempat menatap ke arahnya, tapi sedikitpun anaknya itu tidak punya niat untuk menemui dia lebih dulu dan langsung pergi begitu saja bersama Reza dan Ajeng untuk masuk ke dalam rumah.


Dia adalah wanita yang melahirkan Sean, tapi seolah keberadaannya tidak dianggap oleh sang anak.


Hati Mona hancur, sakit yang begitu menusuk. Hatinya seperti diremaas dengan begitu kuat.


Makin dia melihat sikap Sean yang acuh seperti itu, semakin menyadarkan dia bahwa sekarang di dunia ini dia hanya sendirian saja.


Tidak ada keluarga yang bisa memeluknya memberi kehangatan.


Mona menangis, tapi tetap saja tidak membuat semua orang di sana bergerak. Mungkin luka yang sudah dia torehkan terlalu besar, Mona bisa memahami itu, dia terima semuanya, hanya berharap sedikit saja, dia diberi maaf.

__ADS_1


Bude Sarni mengelus lengan Oma Putri dengan lembut, dia mengangguk kecil memberi sebuah isyarat untuk memaafkan Mona saja.


Tentang tulus atau tidaknya permintaan maaf wanita itu mereka memang tidak tahu, biarlah itu jadi urusan Mona dan sang Tuhan.


Tapi mereka sebagai manusia memang Sudah selayaknya saling memaafkan satu sama lain. Apalagi sekarang keadaan sedang berduka, bude Sarni tidak ingin suasana jadi semakin gaduh.


Ikhlas kan lah semuanya, serahkan semuanya kepada yang kuasa.


"Baiklah, tidak perlu memperpanjang urusan di antara kita Mona. Aku dan yang lainnya sudah memaafkan kamu, tapi kamu sadar kan? hubungan kita tentu tidak bisa seperti dulu lagi, bagi kami kamu tetaplah orang luar."


"Bolehkah, bolehkah suatu saat aku bertemu dengan Sean?" tanya Mona di antara suaranya yang sesenggukan, semakin lama tangisnya Jadi terdengar semakin jelas. Tangis yang kemudian terlihat begitu pilu bagi semua orang.


Sebagai seorang ibu cobaan yang paling berat adalah memang berpisah dengan anaknya.

__ADS_1


"Tentu saja boleh, tapi aku mohon, biarkan Sean yang menentukan waktu kapan dia bersedia menemui kamu," jawab Oma Putri, dengan suaranya yang tetap terdengar tegas.


Mona lagi-lagi hanya bisa menganggukkan kepalanya, seperti ini saja dia sudah sangat berterima kasih. Setidaknya masih ada harapan bahwa dia bisa bertemu dengan sang anak.


Setelah pembicaraan itu Oma Putri lebih dulu pergi dari sana, sementara Mona langsung pamit pada semua orang untuk segera kembali ke Jakarta.


Tidak apa-apa sekarang dia tidak bertemu dengan Sean, Karena tujuan utamanya memang mengirimkan doa untuk Pakde Sutopo dan meminta maaf kepada seluruh keluarga besar Aditama.


Di dalam mobilnya, Mona tidak langsung memerintahkan sang sopir untuk melaju. Dia lebih dulu menatap ke arah rumah itu, seolah sedang menatap anaknya sendiri.


"Maafkan mama Sean, maafkan Mama," ucap Mona, masih saja ada air mata yang mengalir dari kedua matanya.


"Mama tau, ibumu yang baru akan memperlakukanmu jauh lebih baik dibandingkan perlakuan mama, tapi Mama mohon sayang, mama mohon ... Jangan pernah lupakan mama, Mama akan terus menunggu kamu," ucap Mona dengan susah payah di antara tangisnya sendiri.

__ADS_1


Jill yang ada di sana sungguh tidak sanggup melihat tangis sang nyonya.


Tapi dia putuskan untuk tidak bicara, biarlah sang nyonya menangis sepuasnya malam ini.


__ADS_2