
Saat papa Reza mengalihkan pandangannya, barulah Ajeng bisa menghembuskan nafasnya lega. Ganjalan di dalam hatinya seolah hilang saat itu juga.
Huh! buang nafas Ajeng.
"Maafkan papa Sean, papa salah," balas Reza lagi, yang kini tatapannya sudah tertuju pada sang anak. Reza tidak ingin berkilah ini dan itu, karena nyatanya dia memang salah apapun alasannya.
Sean mengangguk sebagai jawaban, dari gerakan kepala itu seolah bicara bahwa Ya, dia sudah memaafkan papa.
Krucuk-krucuk!
Ajeng sontak mendelik dan memegang perutnya sendiri.
Ya Allah, jangan sampai ada yang dengar, jangan sampai. Batinnya, belum siap menahan malu.
Tapi harapannya itu seketika punah saat melihat Sean dan papa Reza sontak menatap ke arahnya.
Deg!
"Perut mbak Ajeng bunyi ya?" tanya Sean dengan polosnya.
Ajeng hanya mampu mengigit bibir bawah.
"Ayo kita makan dulu sebelum pulang," ajak Reza.
Sean tersenyum lebar, sementara Ajeng hanya mampu mengutuk dirinya sendiri di dalam hati. Dia menunduk, sangat malu untuk menunjukkan wajahnya sendiri.
Tadi pagi Ajeng memang hanya minum teh hangat dan memakan sepotong roti, dia tidak makan nasi. Pikirnya jam 10 sudah pulang, tidak tahu jika mereka harus menunggu papa Reza hingga 1 jam.
Jadi tepat di jam makan siang ini, barulah mereka bertiga berhenti di salah satu restoran.
Restoran yang bagi Ajeng sangat mewah, pintu masuknya saja baginya sudah seperti hotel.
Andai jalannya tidak dituntun Sean, pastilah Ajeng sudah nyasar entah kemana.
Papa Reza mengajak mereka untuk memilih meja di pinggir jendela. Jadi tempat mereka duduk masih bisa memandang jalanan di luar sana.
"Sean mau makan apa?" tanya papa Reza.
"Terserah Pa," balas bocah kecil itu dengan senyum yang menggemaskan.
__ADS_1
"Kamu Jeng, mau makan apa?"
"Terserah Papa juga," bales Ajeng, senyumnya kikuk.
Papa Reza menatapnya lekat dan Ajeng tidak boleh menghindari tatapan itu.
Ajeng lantas menelan ludah, meski papa Reza hanya diam tapi dia seolah tau apa arti tatapannya itu.
Jawab yang benar! jangan terserah!
"Ya-yang ada kuahnya, sop," ucap Ajeng lagi dengan gagap.
Dan mendengar jawaban itu Reza baru memutuskan tatapannya, membuat Ajeng langsung bernafas lega.
Reza lalu memanggil pelayan dan menyebutkan semua makanan yang dia pesan. Jika seperti ini, dia seperti seorang ayah yang sedang menghabiskan waktu bersama dua anaknya.
Hidangan tersaji dan waktunya mereka makan bersama.
"Mbak Ajeng, aku akan makan sendiri," ucap Sean.
Ajeng mengangguk.
Kadang dia melihat Sean, lalu berpindah ke Ajeng dan menatap lebih lama.
Reza melihat saat berulang kali Sean dan Ajeng bertukar makanan mereka. Ajeng mengambil daging yang yang tebal, lalu yang tipis-tipis di dekat tulang dia berikan pada Sean.
Sean pun begitu, tiap kali dia mendapatkan daging yang tebal pasti langsung diletakkan di piring Ajeng. Sementara dia berulang kali menyesapi tulang.
Hampir 20 menit barulah mereka menyudahi makan siang itu. Sean melihat ada permainan anak-anak di dalam restoran tersebut dan memutuskan untuk bermain di sana sebentar sebelum pulang.
"Aku akan pergi sendiri, mbak Ajeng tidak perlu ikut," ucap Sean, seperti biasa bocah itu akan langsung lari tanpa menunggu persetujuan mbak Ajeng lebih dulu.
Selalu meninggalkan Ajeng dalam keadaan yang tak nyaman, karena hanya berdua saja dengan papa Reza.
"Jeng_"
"Iya Pa!" Balas Ajeng dengan cepat, suaranya meninggi.
Sadar sudah salah, Ajeng buru-buru meminta maaf.
__ADS_1
"Ma-maaf, ke-kenapa ya Pa?" tanya Ajeng lagi dengan suaranya yang kini berubah begitu lirih, pelan sekali sampai Reza harus menajamkan pendengarannya.
Dan Reza tidak langsung menjawab pertanyaan Ajeng itu, dia selalu menatap sebelum berucap.
Membuat Ajeng jadi seperti kehabisan udara di sekitar.
"Aku ingin jadi ayah yang baik untuk Sean, bisakah kamu membantu ku?" tanya papa Reza.
Ajeng seketika tersentak, mendadak bingung harus menjawab apa, harus bersikap bagaimana. Kedua matanya berkedip dengan cepat, menunduk sebentar lalu membalas tatapan itu lagi.
"Aku akui, aku terlalu dingin untuk Sean, tapi aku juga bingung yang harus aku lakukan untuk anakku," timpal papa Reza lagi.
Pikirannya hanya Ajeng lah yang bisa membuatnya lebih dekat dengan sang anak. Reza bingung harus memulai dari mana, harus apa. Karena selama ini yang dia tahu hanya bekerja.
Sementara Ajeng masih bingung. Tugasnya hanyalah mengasuh Sean, bukan mengasuh papa Reza. Eh maksudnya bukan mengajari papa Reza untuk dekat dengan Sean.
Lantas mengangkat tangan kanannya, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Katakan, apa yang harus aku lakukan untuk mencairkan suasana diantara aku dan Sean?" tanya Reza lagi, pria terus bicara, tidak tahu jika Ajeng sangat bingung.
"Annu, emm, maaf Pa, a-aku juga jadi bingung mau jawab apa," balas Ajeng bingung, bingung sebingung bingungnya.
Dan saat Ajeng mulai bicara seperti itu, kini malah papa Reza jadi diam, jadi hanya menatap. Membuat Ajeng tak bisa menjawab dengan bingung, dia harus benar-benar memberikan jawaban yang sesungguhnya.
Ya Allah, kenapa tiap hari aku rasanya ujian terus. Tapi nggak lulus-lulus, batin Ajeng.
Pikir Jeng pikir, apa yang harus dilakukan papa Reza untuk mencairkan suasana dengan Sean.
"Em, Papa, Papa bisa coba untuk bicara tentang katak." balas Ajeng akhirnya, meski ragu tapi dia hanya terpikir tentang hal itu. Bahkan setelah berucap, Ajeng mengigit bibir bawahnya sendiri.
Sean sangat menyukai katak, jika papa Reza membicarakan tentang katak pasti mereka akan mulai saling bicara.
Dan mendengar jawaban Ajeng itu, Reza pun mengangguk paham. Membenarkan pula jawaban Ajeng.
"Baik lah, akan aku lakukan. Terima kasih ya." Reza lantas bangkit dari duduknya, sebelum pergi dari sana untuk menyusul sang anak dan membicarakan tentang katak, Reza tanpa sadar mengusap kepala Ajeng.
Sampai rambut wanita itu bergerak asal.
Tapi yang berantakan bukan rambut Ajeng, melainkan hati milik Ajeng.
__ADS_1
Deg deg, deg deg!