
Ting!
Ting!
Sejak tadi ponsel Reza terus berbunyi notifikasi transaksi pembelian yang dilakukan oleh sang anak melalui black card miliknya.
Di sana juga tertulis lengkap barang apa dan di toko mana.
Reza memperhatikan apa yang dibeli oleh sang anak.
Lalu terkahir ada notifikasi pembelian ikat rambut, yang jelas adalah milik Ajeng.
"50 ribu," gumam Reza.
Louis yang ada di sana mampu mendengar gumaman sang Tuan. Mereka sedang mengevaluasi beberapa laporan keuangan.
"Apa dia beli ikat rambut karet gelang?" gumam Reza lagi, tapi sekarang terdengar lebih jelas di pendengaran Louis.
Namun Louis tidak memberikan tanggapan apapun, selama tidak dimintai pendapat dia akan selalu diam.
Reza masih menunggu, kira-kira setelah ini apa lagi yang akan dibeli oleh kedua bocah itu.
Tapi cukup lama menunggu tetap saja tidak ada notifikasi yang masuk lagi ke dalam ponselnya.
Pria berwajah dingin itu tidak sadar jika dia telah membuang-buang waktunya untuk sesuatu hal yang tidak penting.
Menunggu dua bocah menghabiskan isi uang di dalam black card-nya. Tapi sejak 20 menit lalu tidak ada pemberitahuan apapun. Dan transaksi terakhirnya hanya tentang ikat rambut seharga 50 ribu.
"Apa mereka sudah pulang?" gumam Reza.
Lihatlah, dia malah jadi bingung sendiri.
Saat mengangkat wajah dan melepas tatapannya dari layar ponsel, barulah Reza sadar jika di hadapannya ada sang asisten pribadi.
Deg!
Astaghfirullah.
"Sudah berapa lama aku membuang-buang waktuku?" tanya Reza.
__ADS_1
"20 menit Pak," jawab Louis.
"Lain kali cukup 5 menit, lewat dari itu segera sadarkan aku."
"Baik Pak."
Mereka berdua lantas kembali fokus pada pekerjaan.
Meskipun sesekali Reza masih melirik ponselnya, namun tetap saja tidak ada satupun notifikasi yang masuk tentang penggunaan black card tersebut.
Jam 4 sore Reza telah tiba di rumah.
Bertemu dengan seorang pelayan di ruang tengah.
"Dimana Sean?" tanya Reza.
"Den Sean di taman belakang Pak, bersama Ajeng."
"Apa yang mereka lakukan?"
"Kasih makan berudu."
Reza lantas meletakan tas kerjanya di meja, lalu melepas jas dan meletakkannya di kursi. Setelah itu dia putuskan untuk menyusul sang anak ke taman belakang.
Ingin memberi makan berudu juga dan membuatnya memiliki banyak waktu bersama Sean.
Tekadnya pun sudah bulat bahwa dia akan memperbaiki hubungannya dengan sang anak.
Waktu tak bisa diulang, jadi sekarang dan ke depan dia akan perbaiki.
Semakin dekat menuju taman belakang itu, sayup-sayup Reza pun mendengar suara Sean tertawa riang. Lalu disusul suara Ajeng juga.
Renyah sekali tawa kedua bocah itu.
Dan ketika sudah benar-benar berada di sana, seketika langkah kaki Reza terhenti saat melihat keduanya.
Sean dan Ajeng posisinya memunggungi dia, dua bocah itu asik bercanda di depan akuarium para berudu.
Angin sore berembus menggoyang rambut Ajeng yang telah diikat.
__ADS_1
Gadis itu nampak lebih dewasa dengan penampilan yang seperti itu.
Deg!
Entah apa yang terjadi namun Reza buru-buru menggeleng saat dia menatap lekat tengkuk Ajeng.
Ada desiran aneh yang tidak bisa dia jelaskan.
Reza lantas buru-buru melanjutkan langkah dan menghampiri keduanya.
"Papa!" panggil Sean, dia melihat lebih dulu kedatangan sang ayah sebelum mbak Ajeng menyadari.
Deg! kini gantian Ajeng yang berdegup saat tau pria berwajah dingin itu datang.
"Pa aku sudah beli mainan dan mbak Ajeng juga sudah beli ikat rambut," terang Sean langsung.
"Ini mainan ku!!" jelas Sean lagi seraya menunjukkan Batman di tangan kanannya, yang sejak tadi memang dia bawa.
Reza melihat sekilas dan mengangguk.
Lalu menatap Ajeng.
"Mana ikat rambut mu?" tanya Reza.
Ajeng tidak membawa ikat rambutnya, hanya ada 1 yang dia pakai. Jadi Ajeng melihat ke belakang dan menunjukkan ikat rambut tersebut.
"Ini," ucap Ajeng singkat.
Namun Reza malah menelan saliva saat melihat leher Ajeng yang begitu mulus, belum lagi anak rambut yang tergerai asal makin membuatnya gatal untuk merapikan.
Reza lantas menarik ikat rambut itu hingga akhirnya terlepas dan membuat rambut Ajeng kembali tergerai.
"Jelek, ikat rambut mu jelek, jadi tidak usah pakai ikat rambut," titah papa Reza.
Titah tidak masuk akal yang tetap harus Ajeng patuhi.
Ajeng dan Sean bahkan sampai terperangah.
Padahal mbak Ajeng cantik kalau rambutnya di ikat. Batin Sean.
__ADS_1
Untuk pertama kalinya, anak genius itu juga jadi bingung.