Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 115 - Terdengar Seperti Petir


__ADS_3

Keributan yang terjadi di belakang rumah Ajeng langsung didengar oleh tetangga.


Tapi tentu saja kali ini yang disalahkan adalah Elis, sementara Ajeng jadi selalu benar.


"Kamu tu ya aneh-aneh, orang hamil kok kesini-kesini, ayo bude antar pulang," ucap tetangga tersebut, bicara denga nada ketus.


Elis yang tubuhnya sudah kotor tak bisa menolak, dia pergi dengan hati yang kesal luar biasa.


Sementara Ajeng dan Sean bermain di sana sekitar 1 jam lamanya, sebelum Oma Putri dan yang lainnya tiba di sini, mereka berdua harus sudah rapi lagi.


Ajeng sengaja pakai lipstik tipis-tipis, hari ini adalah pertemuan terakhirnya sebelum Papa Reza pulang ke Jakarta, jadi dia ingin terlihat cantik di mata pria tersebut.


Agar selama mereka dipingit, Papa Reza akan selalu mengingat wajahnya yang cantik.


Ahh masa iya sih cantik. Batin Ajeng, bicara pada dirinya sendiri dengan bibir yang tersenyum-senyum malu.


Ajeng yang sekarang hidupnya sudah bahagia jadi tidak peduli lagi pada Elis dan suaminya, Bahkan dia tidak terpengaruh sedikitpun dengan pertemuannya dengan Elis yang tidak menyenangkan tadi.


"Mama kenapa sih? seperti orang gila saja, tersenyum-senyum sendiri," ucap Sean, bicara dengan kedua mata yang menatap penuh selidik.


Ajeng masih senyum-senyum.

__ADS_1


"Mau tauuuu aja," balasnya dengan nada meledek. Dia lalu tertawa, sementara Sean langsung geleng-geleng kepala.


Aneh, batin bocah 6 tahun itu.


Tak lama kemudian pak Wandi dan ibu Tri pulang, mereka juga akan menyambut kedatangan keluarga Aditama lagi.


Dan hampir jam 9 pagi akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga.


Deg! Ajeng langsung deg-degan, Dia mengintip dari balik jendela kamarnya, melihat Papa Reza yang turun dari dalam mobil.


Melihat pria yang sangat tampan, seperti malaikat.


Iihh gantengnya, batin Ajeng, dia senyum-senyum lagi.


Untung kali ini Sean sudah keluar lebih dulu, jadi anaknya itu tidak akan melihat kelakuannya yang aneh seperti ini.


Ajeng lalu berlari ke arah kaca, kembali menelisik penampilannya sendiri. Sudah cantik atau belum?


Di rasa aman akhirnya dia keluar.


Deg! jantungnya makin berdebar saat ketika itu juga tatapannya langsung terkunci dengan kedua mata milik sang calon suami.

__ADS_1


Masya Allah, cantiknya, batin Reza. fokusnya adalah bibir Ajeng yang nampak lebih merah daripada biasanya.


Reza lantas menggigit bibir bawahnya sendiri karena tiba-tiba dia pun ingin menyesap bibir merah itu.


Astaghfirullahal Azim. Batin Reza lagi.


Rasanya sungguh tidak sabar jika harus menunggu selama satu minggu ke depan, dia ingin menikah hari ini juga, jam ini juga, detik ini juga!


"Ayo ayo ayo, kita langsung saja pergi ke perusahaan," ucap kakek Agung. Rencananya mereka memang akan mendatangi perusahaan yang cabangnya di sini, juga panen jamur sawit untuk dibawa pulang ke Jakarta.


Itu adalah makanan kesukaan Oma Putri.


"Oke!!" sahut Sean dengan antusias.


Reza dan Ajeng saling pandang sedikit, tidak sabar juga untuk segera pergi, karena itu artinya mereka akan bersama karena menaiki mobil yang sama.


Berbondong-bondong Kedua keluarga itu pun keluar lagi dari rumah.


"Ajeng, kamu naik mobil Oma saja, sama sama ibu Tri, dan Sean," titah Oma Putri, yang perempuan sama perempuan, yang laki-laki sama laki-laki.


Dan ucapan Oma Putri itu, terdengar seperti petir yang memisahkan cinta Ajeng dan papa Reza.

__ADS_1


__ADS_2