
Tidak pakai lama sehabis shalat subuh Ajeng dan seluruh keluarga Aditama memulai perjalanan mereka.
Menuju desanya Ajeng yang namanya tidak disebutkan, biar misterius.
Saat itu ada sebuah mobil polisi yang memimpin jalannya mereka, keamanan itu baru Reza pikirkan tadi malam, untuk jaga-jaga saja.
"Mas, kamu kenapa sih? ku lihat-lihat dari kemarin banyak diamnya," tanya Rilly pada sang kakak kedua yang duduk disampingnya.
Ryan menoleh, lalu mengusap puncak kepala Rilly dengan kasar.
"Iihh rambut ku rusak!" kesal Rilly.
"Makanya jangan banyak tanya."
"Aneh, dulu mas Reza yang sikapnya dingin seperti kulkas, sekarang malah jadi kamu," balas Rilly dengan bibir yang mengerucut.
Ryan tidak lagi menanggapi ucapan tersebut, dia juga tidak tahu kenapa jadi begini. Ryan pikir tidak akan terlalu beperngaruh pada hatinya ketika melihat Ajeng menikah dengan sang kakak.
Tapi ternyata ketika melihat wanita itu tersenyum malu-malu pada Reza membuat daddanya sesak. Sampai ada sesal kenapa dulu tidak dia yang lebih dulu untuk mengungkapkan rasa.
Tapi kini semuanya telah terjadi, yang harus dia lakukan hanya ikut bahagia atas pernikahan tersebut, meski diam-diam dia sakit hati.
__ADS_1
"Kalau kamu cinta sama kak Diandra ya perjuangan, jangan putus-putus saja," ucap Rilly lagi.
"Nanti dia menikah dengan pria lain baru kamu menyesal," tambah Rilly lagi.
Tapi Ryan hanya diam dan hal itu makin membuat Rilly jadi geram.
"Hih!" kesalnya. Jadi bicara-bicara sendiri.
Sementara itu di mobil lain, di mobil Ajeng, Reza dan Sean, mereka bertiga duduk di tengah, Sean berada di antara mama dan papanya, bocah itu senang sekali.
Sejak tadi Sean tidak berhenti tersenyum.
"5 jam Sean, tapi kalau jalannya lancar terus begini sepertinya cuma butuh 4 jam," jawab mama Ajeng, sekaligus menerka-nerka waktu. Mengingat saat dulu dia pertama kali pergi ke Jakarta, tapi waktu itu Ajeng banyak menunggu karena naik bus.
"Hih Mama nih, tidak mesra, masa aku dipanggil Sean Sean Sean, papa saja sudah dipanggil Mas kalau dibelakang ku, iya kan?" tanya Sean lagi, kini dia menuntut, tidak terima, Sean inginnya di panggil sayang.
Dan Ajeng langsung gelagapan mendapat pertanyaan itu. Anak kodok satu ini memang selalu membuatnya keder.
Kadang Ajeng merasa Sean tak pantas menjadi anaknya, tapi lebih pantas menjadi adiknya yang bisa dia marah-marah, seperti Nia.
"Jadi kamu mau dipanggil apa?" tanya papa Reza, menengahi perselisihan anak dan istrinya, eh calon istri.
__ADS_1
"Panggil sayang saja," balas Sean, bibirnya kembali tersenyum.
Dan mendengar itu Ajeng rasanya ingin menarik kedua pipi Sean dengan kuat, Hih!
"Iya iya, sayaaaaang," ledek Ajeng.
"Iih! bukan seperti itu! itu nada meledek!"
"Salah lagi, kan yang penting panggil sayaaaaaang."
"Mama!!" Kesal Sean.
Ajeng tertawa dan papa Reza menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Kalau seperti ini bukan seperti gambaran keluarga bahagia di mata papa Reza, ini seperti dia melihat pertengkaran kedua anaknya.
Deri yang sedang mengemudi mobil pun ikut terkekeh pelan, lucu mendengar perdebatan Ajeng dan Sean.
"Sudah sudah, jangan bertengkar, om Deri terganggu konsentrasinya," ucap papa Reza, menengahi.
Ajeng menjulurkan lidahnya kecil pada Sean dan anak kodok itu mendelik.
__ADS_1