
"Iya kamu marah," putus Reza, mengambil keputusan sendiri.
"Marah kenapa? aku tidak marah!" balas Ajeng, dituduh marah membuatnya menggebu. Jadi bicara lebih tinggi agar Reza tahu bahwa dia benar-benar tidak marah.
"Lihatlah, kamu bicara dengan nada tinggi seperti itu. Tandanya benar, jika kamu marah."
"Marah kenapa? aku bicara tinggi agar Bapak mengerti! bahwa aku tidak marah."
"Hem, ya ya ya. Tidak marah." Reza menggelengkan kepalanya perlahan.
Gadis-gadis seusia Ajeng memang seperti itu, labil dan belum bisa mengontrol perasaannya sendiri.
Ditegur sedikit langsung marah.
Salah mengambil makna dari nasehat para orang tua.
Reza hanya meminta Ajeng untuk tidak lupa batasannya, bahwa dia hanyalah pelayan dan tidak akan pernah bisa jadi mama untuk Sean. Reza tidak pernah sekalipun meminta Ajeng untuk merubah panggilannya.
Tapi gadis itu malah marah dan tidak mau lagi memanggilnya papa, sekarang diganti Pak.
Benar-benar gadis yang masih labil. Batin Reza. Kepalanya pun lagi-lagi menggeleng pelan.
Dia berjalan lebih dulu hingga membuat Ajeng tidak terima.
"Aku tidak marah Pak!" ucap Ajeng tegas.
"Ya ya ya," balas Reza.
Bibir Ajeng mengerucut, dia mengikuti langkah pria itu untuk turun ke lantai 1. Terus berjalan hingga tiba di meja makan.
Sean senyum-senyum sendiri melihat keduanya.
Selesai makan malam itu, telepon rumah berdering. Oma Putri menelpon ingin tahu kabar sang cucu kesayangannya.
Berdiri di samping telepon rumah itu mereka saling bertukar kabar.
Sean cerita hari ini dia sangat bahagia.
__ADS_1
Selesai Oma Putri dan Sean, kini telepon diambil alih oleh om Ryan, dan Ajeng yang menjawab ...
"Sean katanya hari ini sangat bahagia, kalau kamu bagaimana Jeng? apa hari ini bahagia juga?" tanya om Ryan.
Belum apa-apa, Ajeng sudah tersenyum malu-malu. Pertanyaan sederhana namun entah kenapa selalu membuatnya bahagia.
"Alhamdulillah Om, aku juga seneng," balas Ajeng, tersenyum kikuk.
Sean yang masih berdiri di sana menatap mbak Ajeng-nya curiga. Gelagatnya ada sesuatu diantara mbak Ajeng dan om Ryan.
Tak ingin jadi apa-apa, Sean pun menginterupsi pembicara keduanya ...
"Om Ryan, sudah dulu ya, aku dan mbak Ajeng mau belajar," ucap Sean dengan suara cukup tinggi.
Ryan di ujung sana pun tersenyum, tentu senang jika Sean akhirnya suka rela mau belajar. Tanpa perlu dipaksa seperti selama ini.
"Baiklah, besok om telepon lagi," jawab om Ryan.
"Baik Om," balas Ajeng.
Ajeng dan Sean lantas segera menuju kamar, mereka akan benar-benar belajar. Sean akan menunjukkan pada Mbak Ajeng-nya bahwa dia sebenarnya sudah bisa membaca. Bahkan penjumlahan, pembagian dan perkalian Sean sudah diluar kepala.
Tapi tidak ingin membuat mbak Ajeng syok, Sean akan tunjukkan sedikit-sedikit.
Mulai dari membaca dulu.
"Bismilah dulu Sen," ucap mbak Ajeng.
"Bismislahirohmanirohim," balas Sean.
"Kita baca huruf abjad lagi ya?" tanya Ajeng.
Dalam 1 kali pengulangan, Sean sudah bisa memahaminya. Ajeng tentu tercengang, apalagi saat Sean dengan terbata-bata membaca beberapa kata di dalam sebuah buku.
Kedua mata Ajeng seketika berbinar.
"Kamu bener bisa baca Sen?" tanya Ajeng, pertanyaan yang penuh dengan tuntutan.
__ADS_1
"Benar mbak, sekarang aku bisa baca. Di sekolah guru yang ajarin, di rumah Mbak Ajeng yang ajarin."
"Beneran ini? nggak bohong? coba ini kalimat apa!" Ajeng mengambil sebuah buku dongeng.
Dan Sean membacanya dengan sangat mudah ...
Telur Emas, pada suatu hari seorang petani miskin menemukan seekor angsa yang sangat kotor ... dan bla bla bla ...
Ajeng sampai ingin menangis rasanya melihat itu.
"Papa harus tau!" ucap Ajeng dengan sangat antusias.
Dia bahkan langsung bangkit dari duduknya dan berlari keluar. Mencari keberadaan papa Reza dan memintanya untuk datang ke kamar Sean.
Ternyata papa Reza ada di ruang tengah lantai 1
"Pak! ayo ke kamar Sean, ada yang ingin aku tunjukkan!" ucap Ajeng, suaranya terengah.
"Ada apa?"
"Ayo lihat sendiri." Ajeng rasanya ingin sekali menarik papa Reza, apalagi pria itu masih saja duduk dengan santainya.
"Ayo Paaak," rengek Ajeng.
Dan sekarang Reza merasa begitu aneh mendengar Ajeng memanggilnya dengan sebutan Pak. Dia sudah terbiasa dengan Papa.
"Memangnya kenapa dengan Sean?" tanya Reza lagi.
"Sean sudah bisa membaca!"
"Benarkah?"
"Iyaaa, makanya ayok biar aku tunjukkan!"
"Awas kalau kamu bohong." Reza bangkit dari duduknya. Berjalan santai naik ke lantai 2.
Ajeng rasanya ingin sekali menendang bokkong pria ini agar jalannya lebih cepat.
__ADS_1