
Sudah sah menjadi pasangan kekasih yang hendak segera menikah, tentu menimbulkan gelayar aneh di hati keduanya ketika selalu bertemu di dalam rumah ini.
Jadi gugup, jadi selalu diam-diam memperhatikan. Sesekali melirik dan senyum sendiri.
Makan malam hari itu terasa begitu spesial bagi Sean, Ajeng dan papa Reza. Sementara untuk yang lain ya masih biasa saja.
Sekitar jam 8 malam saat makan malam itu usai. Papa Reza memerintahkan Ajeng dan Sean untuk segera naik ke lantai 2.
Sementara papa Reza mengajak dua adiknya untuk duduk bersama di ruang tengah. Sebelum menelpon Oma Putri, dia akan lebih dulu memperjelas hubungannya dengan Ajeng pada Ryan dan Rilly.
Agar tidak ada salah paham dan semuanya mengerti dengan jelas.
"Aku sangat serius dengan Ajeng, kami sudah sepakat untuk bersama dan segera menikah. Tapi kalian tau sendiri, keadaan Pakde masih belum sembuh dan kakek Agung sangat mencemaskan beliau. Jadi tentang rencana ku ini, hanya akan aku katakan dulu pada Oma Putri. Sementara tanggal pernikahannya biar Oma Putri yang tentukan," jelas Reza.
"Kamu serius Mas? tidak menerima Ajeng hanya demi Sean kan?" tanya Rilly, dia bahkan menjelaskan jika dulu Sean pernah memohon-mohon padanya untuk menjadikan Mbak Ajeng sebagai mama. Bahkan mengatakan pula pada Ryan tentang hal itu.
Tapi dulu mereka sepakat bahwa mungkin itu hanya keinginan sesaat Sean.
"Aku serius Rill, ini bukan keputusan ku tadi pagi atau kemarin, sudah lama aku memikirkan tentang hal ini, aku sudah bicara pada Oma Putri tanpa menyebut nama Ajeng, aku sudah konsultasi dengan dokter Alam. Banyak fase yang sudah aku lalui untuk yakin. Bahkan sebelum aku tau jika Sean menginginkan Ajeng sebagai mamanya, tapi aku sudah lebih dulu mencintai Ajeng," terang Reza, sangat gamblang.
Ryan hanya mampu mendengarkan dan semakin yakin jika dia akan kalah dengan sang kakak andai tetap memperebutkan Ajeng.
Reza berani mengambil sikap, sementara dia bahkan masih bersama Diandra.
Menyadari hal tersebut, Ryan jadi merasa bersalah sendiri. Kini dia benar-benar merasa telah mencintai Ajeng. Ada sesak yang selalu dia rasakan ketika melihat perkembangan hubungan sang kakak dengan wanita itu.
Ryan kalah langkah, membuatnya tak punya kesempatan.
Kini perasaan pada Diandra pun jadi gamang.
__ADS_1
Rasanya satu-satunya yang bisa Ryan gunakan sebagai pelampiasan adalah pekerjaan.
"Baiklah, kalau begitu sekarang aku akan hubungi Oma Putri," ucap Rilly.
Reza dan Ryan mengangguk setuju.
Tak butuh waktu lama panggilan telepon itu terhubung, sambungan telepon biasa namun di loud speaker hingga kakak beradik itu bisa mendengar dan sama-sama berkomunikasi dengan ibunya.
"Halo Rill, baru saja Oma ingin menghubungi rumah, dimana Sean?" tanya Oma Putri, dia langsung mengajukan pertanyaan itu ketika sambungan terhubung.
"Sean sudah pergi ke kamarnya Oma, ini aku ada sesuatu yang ingin disampaikan, em maksudnya bukan aku, tapi mas Reza," jawab Rilly.
Mendengar kalimat itu, Oma Putri pun mengerutkan dahinya merasa jika ada sesuatu yang penting dan ingin disampaikan oleh anak-anaknya tersebut.
"Ada apa Rill? Rez?" tanya Oma Putri pula, dia tahu jika panggilan teleponnya ini dalam mode loudspeaker.
"Oma, beberapa hari lalu aku sempat mengatakan bahwa aku mencintai seorang wanita yang biasa-biasa saja, apa Oma masih ingat?" tanya Reza.
Di ujung sana Oma Putri mengangguk, seolah Reza bisa melihat pergerakan kepalanya itu.
"Iya, Oma ingat, apa sekarang Kamu sudah bisa menyebutkan nama wanita itu?" jantung Oma Putri berdegup kencang, rasanya tidak sabar ingin segera tahu.
Jika Reza sudah bisa menyebutkan nama gadis itu berarti perasaan sang anak sudah mendapatkan balasan, karena Oma Putri ingat dengan jelas jika dulu cinta anaknya itu masih bertepuk sebelah tangan.
Oma Putri selalu menerka-nerka mungkin dia mengenal sosok wanita tersebut, seorang wanita yang telah berhasil meluluhkan bongkahan es di hati anak pertamaya ini.
"Iya Oma, aku akan menyebutkannya sekarang karena saat ini kami sudah menjalin hubungan serius."
"Katakan Rez, siapa wanita itu."
__ADS_1
"Ajeng Oma, Ajeng pengasuhnya Sean."
Deg! jantung Oma Putri seperti berhenti berdetak saat itu juga. dia bisa mendengar dengan jelas saat Reza menyebut nama Ajeng.
"Jangan bercanda kamu Rez, jangan menjadikan Ajeng sebagai mainan kamu!" ancam Oma Putri.
Bukan tidak menyetujui jika Reza dan Ajeng bersama, tapi dia takut Reza hanya mempermainkan gadis baik itu.
Apalagi yang Oma Putri tahu selama ini Reza sekalipun tak pernah menaruh suka pada pengasuh cucunya itu. Apalagi setelah peristiwa Mona kemarin.
Oma Putri sama seperti Rilly yang tidak percaya.
"Ya Allah aku serius Oma, tidak ada main-main. Aku mencintai Ajeng." Terang Reza, jelas sekali dia bicara.
Rasanya semua orang tidak ada yang percaya dengan perasaannya tersebut.
"Apa Ajeng juga mencintai kamu?" tanya Oma Putri lagi.
"Sekarang belum, tapi dia sudah coba untuk mencintai aku."
"Kamu melakukan ini karena Sean?"
"Iya, untuk Sean dan untukku sendiri."
Sesaat ada hening yang tercipta, Oma Putri sedang mengambil keputusanya ...
"Baiklah, besok Oma akan pulang. Oma juga akan minta bi Ratih untuk datang. Di Jakarta keluarga Ajeng hanya bi Ratih, Sebelum membicarakan ini dengan kedua orang tua Ajeng, ada baiknya kamu minta izin dulu pada bi Ratih."
"Baik Oma," jawab Reza patuh.
__ADS_1