
Jam 10 Sean akhirnya keluar dari kelas.
Deri sudah menunggu di depan dan siap mengantar Ajeng dan Sean pergi ke kantor papa Reza.
Saat mobil melaju, Ajeng langsung melihat ke arah jalanan. Semenjak ditinggalkan Sean waktu itu, sekarang Ajeng jadi sering memperhatikan jalanan dan menghafalkannya.
Jadi ketika suatu saat nanti dia tersesat, Ajeng akan dengan mudah menemukan jalan pulang.
Beberapa menit di dalam perjalanan dan akhirnya mereka tiba di tempat tujuan.
Ajeng terperangah, menatap takjub pada gedung tinggi yang ada di hadapannya ini.
Sean tadi bohong, ini bukanlah kali pertama dia datang ke perusahaan sang ayah. Beberapa kali dia datang ke sini bersama oma Putri ataupun Om Ryan dan kak Rilly.
Tapi kalau sang ayah, memang baru pertama kali ini memintanya untuk datang.
"Ya Allah, gedungnya tinggi banget Sen," takjub Ajeng.
Deri tidak ikut turun bersama mereka, lagipula Ajeng dan Sean langsung disambut oleh asisten pribadi papa Reza, om Louis.
Sean tidak menanggapi kekaguman mbak Ajeng itu dengan kata-kata, dia hanya tersenyum.
dengan bergandengan tangan akhirnya mereka berdua masuk ke dalam gedung itu.
__ADS_1
"Halo Sean. Salam kenal Nona, saya adalah Louis," ucap Louis, menyapa Sean dan memperkenalkan dirinya dengan sopan pada Ajeng, lagi pula ini adalah kali pertama dia bertemu dengan gadis mungil ini.
"Halo Om, jangan panggil Nona, panggil saja namaku, Ajeng," jawab gadis itu dengan malu-malu. Semenjak tinggal di kota Jakarta banyak sekali pria tampan yang dia temui.
"Baiklah, mari Ajeng, saya akan mengantar Anda menuju ruangan papa Reza." Louis juga memanggil Reza dengan sebutan papa jika ada Sean, kalau bocah kecil itu tidak ada, dia biasanya memanggil dengan sebutan Pak Reza.
Ajeng mengangguk, dengan langkah kakinya yang tidak begitu panjang dia pun mengikuti kemanapun Louis mengajaknya pergi.
Kedua mata Ajeng pun terus bergerak liar untuk menikmati indahnya gedung ini. Desain mewah dan elegan, perpaduan warna putih dan silver yang begitu indah. Beberapa sudut ada warna emas juga.
Ajeng sangat takjub.
Apalagi sepanjang perjalanan mereka, Louis menjelaskan tentang gedung ini. Namanya Aditama Tower, nama itu pun terpampang jelas di depan gedung ini tadi. Ajeng juga membacanya.
Sementara Reza dan keluarganya mendapatkan wewenang untuk membangun perusahaan perkebunan.
Sepanjang perjalanan itu berulang kali Ajeng tersenyum dengan malu-malu. jantungnya bahkan berdebar saat naik lift.
Namun kemudian senyum itu hilang saat mereka tiba di lantai 25 gedung ini, tempat dimana ruangan papa Reza berada, sebagai CEO perkebunan.
"Ini ruangan papa Reza, mari masuk," ajak Louis.
Dan seketika itu juga senyum Ajeng hilang, diganti dengan raut wajah penuh ketegangan.
__ADS_1
Mereka semua masuk ke dalam ruangan itu.
Langsung disambut oleh papa Reza yang berwajah dingin.
"Kalian sudah tiba rupanya, duduklah, papa masih ada sedikit pekerjaan," ucap papa Reza, kalimat itulah yang dia berikan untuk kata sambutan.
Papa Reza bahkan hanya melirik sekilas, lalu bicara dengan kedua mata yang menatap dokumen di hadapannya.
"Om Louis, aku mau beli es krim Pampam Food, antar ya?" ucap Sean.
"Mbak Ajeng tidak usah ikut, aku akan pergi dengan om Louis berdua saja." timpal Sean lagi.
Reza yang mendengar kalimat itu pun sampai mengangkat wajah.
Sementara Ajeng ingin berontak namun tak kuasa karena papa Reza melihat ke arahnya.
Yang ada lidah Ajeng jadi kelu.
Dia hanya bisa pasrah saat Sean dan Louis keluar dari ruangan ini.
Meninggalkan Ajeng dan papa Reza berdua.
Deg!
__ADS_1