
Papa Reza dan Ajeng masih berada di dalam kamar Sean sampai bocah itu benar-benar terlelap.
Di sana ada mereka bertiga tapi suasana jadi begitu sepi.
Papa Reza masih merasa kesal tentang baju berwarna biru. Gara-gara Rilly yang mengajak untuk pakai baju senada, malah jadi ada kejadian seperti ini.
Sekelebat ingatan muncul di dalam benak papa Reza, tentang Ajeng yang dulu selalu tersipu tiap kali menerima telepon Ryan saat di Jogja.
Menyadari tentang hal itu, tiba-tiba kini hati papa Reza berdenyut nyeri, jadi banyak pertanyaan bagaimana yang muncul di dalam kepalanya.
Bagiamana jika Ajeng menyukai Ryan?
Bagaimana jika sebenarnya kedua orang itu saling menyukai?
Bagaimana jika Ryan dan Diandra putus, akankah Ajeng dan Ryan akan bersama.
Bagaimana bagaimana terus, membuat papa Reza galau sendiri.
Karena pada kenyataannya pun dia tidak pernah tau apa yang dirasakan oleh Ajeng. Apa yang ada di dalam hati gadis mungil ini.
"Jeng," panggil papa Reza, memecah keheningan yang ada di dalam kamar tersebut.
Papa Reza duduk di atas ranjang dan bersandar, sementara Ajeng duduk di kursi dekat tepi ranjang dan terus mengelus punggung Sean yang tidur miring memeluk guling.
__ADS_1
Mendengar namanya dipanggil, Ajeng pun mendongak, membalas tatapan papa Reza.
Gadis itu bersyukur saat melihat tatapan papa Reza yang tidak sedingin tadi, setajam tadi.
Jika seperti ini, dia pun berani membalas tatapan tersebut, meski hatinya jadi berdegup.
"Kenapa Pa?" tanya Ajeng pula, mereka bicara pelan-pelan tidak ingin menganggu tidur Sean yang baru saja terlelap.
"Ehem," papa Reza berdehem terlebih dulu, pokoknya tiap kali ingin bicara dengan Ajeng begini, dia jadi bingung sendiri.
"Apa kamu menyukai baju pemberian Ryan?" tanya Reza akhirnya.
Ditanya seperti itu, Ajeng hanya bisa mengangguk.
Ajeng mengangguk lagi.
"Suka dua-duanya," balas Ajeng apa adanya.
Bagi Ajeng ini sedang membicarakan baju, tapi bagi papa Reza ini seperti membicarakan personal mereka, dia dan Ryan.
Entahlah, duda beranak satu itu kini jadi labil pikirannya.
"Mana bisa suka dua-duanya, harusnya kamu pilih salah satu," ucap papa Reza lagi.
__ADS_1
Nada bicaranya yang menuntut mulai membuat Ajeng was-was, dalam keadaan ini dia jangan sampai salah jawab.
"Ma-maaf Pa, tapi aku memang suka dua-duanya, seperti diminta memilih antara bakso dan mie ayam, aku pasti pilih dua-duanya, jadi mie ayam bakso," terang Ajeng, meski takut-takut tapi dia menjawab, sebuah perumpamaan yang baginya paling masuk akal.
Dan mendengar jawaban itu Reza membuang nafas kasar, membenarkan jawaban Ajeng, tapi hatinya tetap saja tidak suka. Tetap saja menuntut ingin mendengar Ajeng lebih menyukai baju pemberiannya.
Ya Allah, jadi begini rasanya cemburu, batin Reza.
Dia menatap Ajeng lagi, melihat gadis itu yang nampak begitu polos. Jadi bertanya-tanya apakah selama ini Ajeng pernah pacaran.
Tapi lidahnya pun kelu sekali untuk menanyakan hal tersebut.
Kepala Reza penuh dengan pertanyaan tentang gadis ini, tapi dia tidak punya keberanian untuk bertanya langsung.
Malah jadi salah tingkah dan serba salah.
"Baiklah, jadi besok pagi kamu pakai baju pemberian Ryan, baru setelahnya saat kita bermain kamu pakai baju ini, begitu ya?"
Ajeng mengangguk dan tersenyum kecil, bersyukur jika papa Reza juga setuju seperti itu. Maka tidak akan ada beban di dalam hatinya.
Dan senyum kecil Ajeng itu pun membuat papa Reza tersenyum juga, tanpa sadar mereka saling tatap dengan bibir yang tersenyum.
Menciptakan debaran halus yang begitu nyaman.
__ADS_1
Ajeng sendiri tidak sadar jika dia tidak takut lagi pada Papa Reza.