Pengasuh Tuan Muda Genius

Pengasuh Tuan Muda Genius
Bab 68 - Pettir Menyambar


__ADS_3

"A-ayo pakai baju," ajak Ajeng kikuk.


Sean juga mengangguk kikuk.


Sementara papa Reza pilih duduk di tepi ranjang dan memperhatikan keduanya.


"Sean, papa akan pergi ke ulang tahun sekolah mu Minggu besok," ucap papa Reza. Dia sudah berencana pula untuk mengatakan hal ini pada sang anak.


"Oh," balas Sean singkat, ayahnya itu seolah butuh waktu lama sekali untuk memutuskan datang ke sekolah.


Padahal om Ryan dan kak Rilly langsung bisa ambil keputusan setelah membaca surat undangan tersebut.


Hal itu tentu menimbulkan sedikit rasa kecewa di hati Sean.


"Kenapa jawabnya hanya Oh?" tanya papa Reza.


Sementara Ajeng sudah ketar-ketir, takut ada perselisihan diantara ayah dan anak ini, sementara dia ada di tengah-tengah pertengkaran tersebut.


Kenapa Sean malah jawab Oh, bukannya harusnya dia senang. batin Ajeng pula. Hanya berani membatin.


"Kalau tidak datang tidak apa-apa kok, lagi pula mbak Ajeng, om Ryan dan kak Rilly sudah bersedia menemani aku," balas Sean acuh, tetap fokus memasuki baju dengan mbak Ajeng-nya.


Dan jawaban itu membuat papa Reza terus merasa tercubit hatinya. Dia sadar, diantara semua orang itu dia adalah yang paling akhir mengambil keputusan.


Padahal harusnya dia jadi orang yang pertama.

__ADS_1


"Tidak, papa akan tetap datang ke sekolah mu. Di undangan itu ada beberapa permainan anak dan orang tua. Papa dan mbak Ajeng yang akan main bersama Sean."


Deg!


Jedar!! Petir seperti menyambar tepat di atas kepala Ajeng. Dia jadi kaku membeku.


Sementara Sean langsung tersenyum lebar-lebar.


Karena angan-angannya seolah nyaris jadi kenyataan.


"Papa serius?" tanya Sean memperjelas, mempertegas, jangan sampai nanti saat acara tidak ada adegan seperti itu.


"Iya, tentu saja papa serius. Bukankah papa tidak pernah bohong kepada mu?"


Sementara Ajeng, gadis yang sejak tadi jadi bahan pembicaraan hanya mampu terbujur kaku, berdiri dengan ketakutan yang tak menentu.


Bagaimana bisa dia berperan jadi mamanya Sean dalam acara tersebut.


Bahkan ikut bermain dalam game yang tersedia, anak dan kedua orang tua.


Ya Allah, astaghfirullahal azim, astaghfirullahal azim. batin Ajeng, coba menenangkan dirinya sendiri.


Tetap berpikir waras. Tetap berpikir waras. Tetap berpikir waras.


Mungkin papa Reza salah omong. Tidak mungkin kan dia mengajak ku ikut bermain bersama. Sadar diri Jeng! SADAR!!

__ADS_1


Ajeng sampai berteriak pada dirinya sendiri di dalam hati.


Tapi suara papa Reza langsung membuatnya sadar bahwa pria itu tidak salah omong.


"Persiapan dirimu baik-baik Jeng, jangan sampai nanti kita kalah dalam pertandingan tersebut," ucap papa Reza.


Sean makin berjingkrak kegirangan. Sementara Ajeng makin mendelik tak karuan.


Ya Allah apa ini serius?


Serius nggak sih?


"Sisir rambut mu lebih dulu, papa akan pergi ke kamar," ucap papa Reza, pamit.


"Baik Pa," jawab Sean patuh, mendadak jadi anak yang penurut, tidak suka marah-marah seperti tadi.


Sementara Reza langsung bangkit dari duduknya berencana untuk keluar, namun sebelum benar-benar pergi dari kamar tersebut, papa Reza menyempatkan diri untuk menatap Ajeng sejenak.


Deg!


Cepat pergi! cepat pergi!! batin. Ajeng.


Dan Reza langsung memutus tatapan itu lalu keluar.


Huh! Ajeng membuang nafasnya lega.

__ADS_1


__ADS_2