
"Ini sudah mau magrib! ayo masuk!" ajak Sean lagi dengan suaranya yang masih terdengar tinggi.
Ajeng mengangguk, sementara papa Reza langsung melangkahkan kakinya menuju rumah. Dia berjalan di paling akhir, di depannya ada anak dan calon istri.
Sementara itu di tempat lain ...
Bi Ratih berulang kali menarik dan membuang nafasnya dengan perlahan. Mobil yang dia naiki akhirnya keluar dari halaman rumah utama keluarga Aditama dan hal itu membuatnya bisa menghembuskan nafas lega.
Bibir wanita paruh baya itu menyungging membentuk sebuah senyuman yang sangat lebar.
Masih tidak percaya Jika dia akan memiliki besan dari keluarga kaya raya.
"Ya Allah, ini seperti mimpi," gumam bi Ratih. Dia senyum terus.
Keluarga Aditama, bahkan bermimpi pun dia tidak pernah. Tapi nyatanya garis takdir Allah begitu indah untuk Ajeng.
"Mbak Tri dan mas Wandi harus segera tahu." Kedua nama itu adalah ibu dan bapaknya Ajeng.
Tidak sabar untuk menyampaikan kabar bahagia ini, bi Ratih buru-buru mengambil ponselnya di dalam tas. Tidak peduli jika saat itu waktu sudah hampir maghrib, tapi dia hendak tetap menghubungi keluarganya di kampung.
Bi Ratih coba menghubungi Mbak Tri, tapi gagal, teleponnya tidak mendapatkan jawaban.
Tapi bi Ratih tidak menyerah, dia langsung menghubungi Nia, adiknya Ajeng.
__ADS_1
Dan untunglah di panggilan yang kedua Ini teleponnya mendapatkan jawaban.
"Halo Bi," jawab Nia.
Sebuah jawaban yang akhirnya disambut antusias oleh bi Ratih.
Dia meminta Nia untuk memanggil kedua orang tuanya dan membuat panggilan ini jadi mode loudspeaker.
Dengan sedikit tergesa-gesa bi Ratih menjelaskan semua yang baru saja terjadi, tentang hubungan ajang dengan majikannya, Reza Aditama yang seorang duda.
Keluarga Aditama pemilik perkebunan Sawit.
Bahkan perkebunan besar itu pun ada pula yang dibangun di daerah mereka.
Semua keluarga Aditama sudah merestui hubungan ini dan sekarang hanya tinggal dari keluarga Ajeng bagaimana tanggapannya.
2 jam panggilan telepon itu terhubung, dan 1 jamnya keluarga Ajeng tidak percaya. Sampai bi Ratih tiba di rumahnya, sampai izin sebentar untuk shalat magrib, sampai akhirnya tiba di jam makan malam tapi sambungan telepon itu tetap terhubung.
Sampai akhirnya di menit akhir, barulah ibu Tri, Pak Wandi dan Nia percaya.
Ibu Tri bahkan langsung menghubungi Ajeng langsung dan Ajeng pun menjelaskan hal yang sama seperti apa yang dijelaskan oleh bi Ratih.
Ajeng juga mengirimkan foto selfienya bertiga, dia, papa Reza dan Sean.
__ADS_1
Dan melihat foto itu makin percayalah seluruh keluarga Ajeng, ibu Tri dan Nia langsung menangis, sementara pak Wandi haru luar biasa.
Sudah diputuskan, bahwa 2 hari lagi Ajeng akan pulang bersama dengan seluruh keluarga Aditama untuk melakukan lamaran.
"Ya Allah, ya Allah," ucap ibu Tri, baru saja panggilan teleponnya dengan sang anak dan Oma Putri terputus.
Dia masih menangis di ruang tengah sederhana rumah itu.
"Alhamdulillah Bu, Ajeng bisa menemukan pengganti Erwin, meski pun duda tapi dia terlihat sangat menyayangi Ajeng, Sean juga sayang sama Ajeng," ucap pak Wandi. Kedua matanya berkaca-kaca, tapi tidak sampai ada air mata yang keluar.
Panggilan video call yang tadi juga terjadi hingga kini masih mereka ingat dengan jelas, bagaimana keluarga kaya raya itu memperlakukan anak mereka dengan baik.
Setelah pergi dari desa ini dengan hati yang terluka.
"Iya Pak, Alhamdulillah, besok ibu mau sombongkan sama tetangga-tetangga."
"Istigfar Bu," ucap Nia.
Pak Wandi terkekeh.
"Tidak apa-apa sombong sedikit saja Nia, ibu jengkel dengar omongan orang-orang. Seenak jidat bilang Ajeng nggak bakal bisa nikah karena pernikahan pertamanya gagal," balas Bu Tri.
Pak Wandi mengelus pundak istrinya dengan lembut agar tenang.
__ADS_1
Dan Nia akhirnya pun mengangguk, kalau begitu besok dia mau sombong juga.